IKLH Jakarta Terendah

Minggu, 30 Januari 2011 http://cetak.kompas.com

jakarta, kompas – Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta, Sabtu (29/1), meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berbenah. Permintaan dilontarkan karena indeks kualitas lingkungan hidup di Jakarta terendah dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

”Emisi gas buang kendaraan di Jakarta sangat tinggi, terlebih bila terjadi kemacetan. Dengan demikian, indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) DKI Jakarta lebih rendah dibandingkan daerah lainnya,” kata Gusti seusai acara Penanaman Sejuta Pohon di Kota Tarakan, Kalimantan Timur, Sabtu.

Faktor utama rendahnya IKLH, kata Gusti, adalah penutupan lahan, kualitas air, dan kualitas udara. Akibat rendahnya IKLH Jakarta, ia meminta Pemprov DKI Jakarta membenahi sistem transportasi.

Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta Peni Susanti mengatakan, IKLH Jakarta rendah karena banyak indikator penilaian yang tidak bisa dipenuhi oleh daerah Ibu Kota ini.

”Faktor penilaian IKLH antara lain hutan, udara, air, dan beberapa lainnya. Hutan jelas, Jakarta tidak punya. Makanya, IKLH Jakarta dari tahun lalu rendah,” kata Peni.

Menurut dia, Pemprov DKI Jakarta tak kurang berupaya agar lingkungan wilayahnya menjadi lebih baik. Salah satunya adalah adanya Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB).

Pelaksanaan HBKB dan terobosan disediakannya angkutan umum berbahan bakar gas, seperti bus transjakarta, telah membuat kualitas udara di Jakarta makin baik. HBKB kini rutin setiap hari Minggu pada pekan kedua dan keempat setiap bulan. Hari Minggu ini, misalnya, warga Jakarta bisa kembali menikmati kawasan di Jalan Jenderal Sudirman-MH Thamrin tanpa kendaraan bermotor, kecuali angkutan umum.

Clean Air Initiative, organisasi nirlaba yang dimotori peneliti- peneliti internasional, memberikan predikat kepada Jakarta sebagai salah satu kota besar di dunia yang berupaya keras memulihkan kondisi lingkungan.

”Tahun 2010, Clean Air Initiative menilai Jakarta dalam kategori ’Good’ dibandingkan tujuh kota lain di dunia, antara lain, Bangkok, Manila, Shanghai, New Delhi, dan Kathmandu,” kata Peni.

Namun, ia mengakui, Jakarta masih memiliki banyak pekerjaan rumah untuk mewujudkan kota yang lebih ramah lingkungan. Selain mengatasi masalah transportasi, ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) diakui harus terus digenjot.

Tambah delapan

RTH di Jakarta, khususnya di Jakarta Selatan, dipastikan bertambah luas. Selama 2010, ada penambahan delapan lokasi baru yang diwujudkan dengan cara pembelian lahan dan kemudian dikembalikan kepada fungsi awal sebagai RTH.

Kepala Suku Dinas Pertamanan Jakarta Selatan Heru Bambang mengatakan, kedelapan RTH itu tersebar di Kecamatan Pasar Minggu dan Cilandak dengan total luas 55.000 meter persegi.

Namun, jika dilihat dari fungsinya sebagai penambah areal resapan air ataupun pendaur ulang polusi udara, mungkin RTH yang ada di Jakarta masih jauh dari harapan. Sebagian besar RTH di Jakarta tidak berimbang antara banyaknya pohon besar dan lahan yang terbangun.

Sebagian besar tanah rata-rata tertutup plester semen dan beton. Data terakhir dari Dinas Pertamanan DKI Jakarta, dengan total luas Jakarta yang mencapai 661,52 kilometer persegi, luas RTH di provinsi ini baru 9,8 persen saja. (NEL/antara)

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: