Kemiskinan dan Transportasi – Liputan Kompas

Berbagi Kemiskinan di Angkutan

Minggu, 24 Oktober 2010 | 04:03 WIB

Ilham Khoiri & Yulia Sapthiani

Jumat (22/10) sore yang mendung. Puluhan penumpang di Stasiun Sudimara, Jombang, Tangerang Selatan, menunggu dengan gelisah. Sebagaimana biasa, kereta ekonomi Rangkasbitung-Tanah Abang datang terlambat.

Begitu kereta tiba, sekitar pukul 15.00, para penumpang bergegas menyerbu. Mereka berlomba mengisi deretan kursi yang masih kosong. Tak seperti pada jam-jam sibuk, kedua belas rangkaian kereta yang dijalankan menuju Kota Jakarta sore itu agak sedikit lowong.

Namun, sedikit kelegaan itu tak serta-merta membuat para penumpang nyaman. Saat kereta mulai berjalan lagi, para pencari rezeki langsung hilir mudik memenuhi ruang di kereta sambil menjajakan barang dan jasa.

”Jujurlah padaku bila kau tak lagi cinta. Tinggalkanlah aku bila tak mungkin bersama. Jauhi diriku, lupakanlah aku….” Dua bocah kecil menyanyikan lagu pop grup Raja sambil menyusuri lorong kereta. Mereka adalah Ani (11) dan Piki (6).

Nyaring suara dua bocah itu masih terdengar, tiba-tiba menyeruak suara laki-laki menjajakan kaus kaki. ”Kaus kaki, kaus kaki. Rp 5.000 dua pasang.” Menyodok di belakangnya, penjual minuman anggur. ”Anggur, anggur. Dingin.”

Lalu, datang lagi teriakan, ”Tahu-tahu, gurih. Rp 2.000 untuk 15 tahu.” Tak lama, muncul lagi tawaran dari pedagang lain. ”Kerupuk gurih. Kerupuk gurih. Seribuan.”

Satu-dua penumpang membeli jajanan itu. Tetapi, sebagian besar diam saja. Beberapa penumpang malah duduk sambil terkantuk-kantuk di tengah cuaca yang masih mendung.

Meski begitu, para pedagang itu terus datang silih berganti. Tawarannya bermacam-macam, mulai dari air mineral, kopi, keripik, salak, rokok, atau tisu. Ada juga pengamen, peminta-minta, dan pemulung. Juga bocah dekil yang menyorong-nyorongkan sampah di lantai kereta sambil sesekali menengadahkan tangan.

Kereta-kereta yang pengap dan kotor itu tak ubahnya pasar berjalan. Berbagai suara bercampur riuh rendah. Dalam perjalanan sekitar 30 menit dari Stasiun Sudimara ke Stasiun Palmerah, Jakarta, itu, ada 30-an orang yang menjajakan barang dan jasa. Artinya, setiap menit, penumpang digoda untuk bertransaksi.

”Dalam satu rangkaian yang terdiri atas 12 kereta, ada 30 sampai 50 pedagang, pemulung, pengemis, dan pengamen. Kami terus berjalan dari kereta ke kereta,” kata Adul (30), pedagang minuman asal Tigaraksa, Tangerang.

Pemandangan semacam ini juga berlangsung di hampir semua angkutan umum di Jakarta, seperti bus dan angkutan kota. Contohnya, bus jurusan Grogol-Kampung Melayu. Selasa (19/10) sore lalu, misalnya, duduk lima menit di dalam bus, ada dua pedagang, satu pengamen, dan dua pemuda yang bergantian tampil di depan penumpang.

Tawarannya beragam. Tak sekadar air minum, tisu, atau sapu tangan, ada juga masker, majalah, kamus bahasa Inggris, lem kaca, pisau dapur, aksesori perempuan, kaus kaki, hingga alat untuk memasukkan benang ke dalam jarum. Ada pula pencari dana yang katanya untuk pembangunan rumah ibadah.

Para pedagang mempromosikan dagangan itu, kalau perlu sambil memberi demonstrasi. Dagangan lantas diletakkan begitu saja di pangkuan setiap penumpang. Setelah dibiarkan beberapa menit, pedagang mengambil kembali barangnya sambil mencari pembeli.

”Caranya memang harus begitu biar penumpang bisa melihat barangnya dulu,” kata Dedi (42), pedagang kamus bahasa Inggris-Indonesia.

Memaksa

Sebagian besar pedagang berjualan dengan cara baik-baik saja. Mereka mengaku terpaksa berjualan di kereta atau bus karena tak punya pilihan kerja di tempat lain. Angkutan umum dianggap cocok sebagai pasar karena dipenuhi penumpang setiap hari.

Jeffry (32), pedagang kalung, gelang, dan suvenir asal Serang, Banten, contohnya. Setelah gagal berjualan di pasar, dia mengais rezeki di kereta ekonomi jurusan Rangkasbitung-Parung Panjang-Kebayoran. Setiap hari, dia bekerja dari pukul 08.00 hingga 18.00.

”Saya dapat sekitar Rp 50.000 per hari. Sedikit, tetapi lumayan untuk menghidupi istri dan dua anak saya,” katanya.

Tisno (39), pedagang lain, memilih berjualan di bus karena bisa menawarkan dagangan lebih cepat. Selesai berjualan di satu bus, dia bisa langsung pindah ke bus lain. Barang dagangannya pun berubah-ubah. Setelah air mineral, permen, dan kacang, kini dia berjualan tisu dan masker.

”Saya pilih dagangan yang lagi laku,” kata lelaki asal Semarang, Jawa Tengah, yang sudah tujuh tahun jadi pedagang asongan di Jakarta itu.

Bagi penumpang, kehadiran pedagang itu mungkin agak bikin risi. Tetapi, lama-lama dimaklumi juga asal perilaku mereka masih sopan. ”Kadang pedagang dibutuhkan. Misalnya saja, kalau kita haus atau lapar di jalan, tidak perlu repot-repot turun dulu dari bus,” ujar Neli, seorang penumpang bus.

Hanya saja, ada sebagian orang mencari uang di angkutan umum dengan kekerasan, bahkan kalau perlu lewat intimidasi. Kerap dijumpai laki-laki bertampang sangar yang mengumbar cerita kalau dia baru keluar dari penjara. Dengan alasan menghindari bertindak kriminal, mereka meminta uang dari penumpang dengan paksa.

”Gayanya membuat takut. Tetapi, saya sih cuek saja, tidak mau beri uang kepada orang seperti itu,” kata Eka Chandrasari (38), pengguna bus jalur Tangerang-Blok M.

Meti (30-an), pengguna bus dari arah Jalan Thamrin menuju Tangerang, punya pengalaman lain. Dia pernah melihat orang yang meminta uang dengan memperagakan makan silet. ”Saya sih tidak terlalu memerhatikan karena mendengar dia bercerita saja sudah seram,” kata Meti, yang berharap orang-orang seperti itu tidak dibiarkan mencari uang di dalam bus.

Kemiskinan

Kenapa angkutan umum di Jakarta dan sekitarnya menjadi arena para pencari rezeki, baik secara baik-baik atau memaksa? Menurut pengamat ekonomi-politik Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, situasi ini berakar dari kemiskinan dan lemahnya sistem transportasi umum. Orang-orang yang kesulitan memperoleh kerja di tempat layak akhirnya mencoba mengadu nasib di angkutan umum.

Kerumunan orang di angkutan umum dijadikan peluang untuk menciptakan lapangan kerja.

”Di angkutan umum itu, rakyat kecil berbagi kemiskinan. Mereka bertahan hidup dengan berbagai cara, bahkan dengan cara saling memakan,” kata Andrinof.

Berbagi kemiskinan dalam pengamatan Andrinof dulu terjadi di perdesaan. Akan tetapi, sekarang terjadi juga di perkotaan. Kemiskinan itu mendorong rakyat untuk berbagi, termasuk dengan berjualan di tengah berjubelnya angkutan umum di tengah jalan yang berjubel pula.

”Itu menjadi ciri ekonomi mereka untuk melahirkan transaksi kecil-kecil. dari situ mereka hidup.”

Apakah kemiskinan yang berjubel itu bisa dibaca sebagai indikator keberhasilan pembangunan?

————————————————————————————————————————

Egoisme dalam Kendaraan Umum

Minggu, 24 Oktober 2010 | 04:31 WIB
Yulia Sapthiani & Ilham Khoiri

Naik angkutan umum di Jakarta membutuhkan pengertian dan tenggang rasa, baik antarsesama penumpang maupun dengan pengemudi, demi kenyamanan bersama. Kenyataannya, banyak orang berperilaku egois ketika menggunakan angkutan umum.

Perilaku semacam itu dapat dijumpai di hampir semua angkutan umum, baik di dalam kereta, mikrolet, maupun bus, termasuk bus transjakarta yang secara fisik terkesan lebih ”elite” dibandingkan dengan bus lainnya.

Di mikrolet, misalnya, kita bakal menemukan penumpang yang lebih senang duduk di dekat pintu meski tujuan mereka jauh. Akibatnya, penumpang yang akan masuk dan keluar mikrolet terhambat. Perilaku serupa muncul di kereta ekonomi, terutama pada jam sibuk.

Egoisme ini kerap memicu timbulnya egoisme lain. Ketika pintu sudah sesak dengan manusia, penumpang masuk dengan cara mendorong penumpang yang berjubel di pintu. Dorong-mendorong ini bisa menjadi beringas, terutama ketika kereta telat datang atau jumlah kereta yang dioperasikan sedikit.

Tak jarang dorong-mendorong itu bisa berbuntut cekcok mulut, bentak-bentakan, atau bahkan saling pukul antarpenumpang di dalam kereta.

Pemandangan semacam ini berlangsung setiap hari di kereta ekonomi jurusan Tanah Abang-Rangkasbitung atau kereta rel listrik (KRL) jurusan Tanah Abang-Serpong, terutama pukul 06.00-07.00 dan jam pulang kantor pukul 17.00-18.00.

”Mau bagaimana lagi? Penumpang terus membeludak, sementara jumlah keretanya sedikit. Para penumpang harus bisa maklum,” kata Yanto (29), penumpang kereta asal Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (19/10) sore.

Saat berkendara menggunakan bus transjakarta, ketidaktertiban sudah terlihat sejak di halte. Banyak penumpang tak mau antre di belakang barisan yang sudah ada, dengan cara berdiri di paling depan untuk membuat antrean baru. Saat memasuki bus, banyak pula yang tak sabar menunggu penumpang yang turun lebih dulu.

Perilaku lain yang saat ini tengah ramai dibicarakan Komunitas Pengguna Transjakarta Busway adalah kebiasaan ”ngerem”. Mereka yang suka ngerem adalah orang yang memilih diam dan tidak segera masuk bus meski sudah berada di baris terdepan. Alasannya, supaya mendapat tempat duduk di bus berikutnya.

”Padahal, orang yang seperti ini menghalangi pengantre lain di belakangnya,” kata ketua komunitas, David Tjahjana.

Saking banyaknya perilaku penumpang yang mengganggu kenyamanan, anggota komunitas ini bahkan membuat daftar ”kesalahan” pengguna bus transjakarta. Beberapa di antaranya sering dijumpai di dalam bus lain, seperti orang yang pura-pura tidur karena tidak mau memberikan kursinya kepada orang tua atau ibu hamil, hingga berperilaku asusila dengan memanfaatkan momen berdesakan dengan penumpang lain.

Eka Chandrasari (38), yang tinggal di kawasan Tangerang, masih ingat ketika dua tahun lalu naik bus jurusan Cimone-Blok M untuk menuju kawasan Senayan. Dalam kondisi kursi yang terisi penuh, tak ada satu penumpang pun yang memberi tempat duduk kepada Eka yang tengah hamil delapan bulan. ”Akhirnya saya dan suami turun di tengah jalan, lalu naik taksi,” kata Eka.

Eka juga pernah melihat pelecehan seksual oleh laki-laki yang menggosokkan badannya kepada penumpang perempuan. ”Meski tidak mengalami sendiri, ngeri juga melihatnya,” kata Eka.

Eka masih cukup beruntung dibandingkan dengan Ina (27), warga Ciputat, Tangerang Selatan. Ina adalah pelanggan kereta ekonomi dari Stasiun Palmerah, Jakarta, ke Stasiun Sudimara, Jombang, Ciputat.

Suatu ketika, selepas Stasiun Pondok Ranji, di tengah penumpang yang empet-empetan, ada seorang laki-laki di depan Ina yang membuka resleting celana. Tanpa malu, laki-laki itu mengeluarkan alat kelamin dan menyenggol-nyenggolkannya kepada penumpang perempuan yang berimpitan di dekatnya.

”Saya mau teriak, tetapi takut. Soalnya orangnya besar. Saya hanya bisa menghindar, menyikut-nyikut, sambil minggir menjauh. Untung, saya akhirnya bisa turun di Stasiun Sudimara, dua stasiun setelah Pondok Ranji,” katanya mengenang.

Peristiwa itu meninggalkan trauma di diri Ina. Ketika naik kereta saat jam sibuk, dia selalu berusaha naik bersama teman-temannya supaya ada yang menolong kalau terjadi sesuatu. ”Saya juga waspada kalau melihat tingkah penumpang laki-laki yang aneh,” katanya.

Bukan hanya sesama penumpang yang membuat berkendaraan umum di Jakarta tidak nyaman. Para sopir angkutan umum termasuk pihak yang bertanggung jawab karena cara mengemudi yang ugal-ugalan, ngetem di sembarang tempat, atau mengambil dan menurunkan penumpang di tengah jalan.

Di halte bus seberang Mal Taman Anggrek, misalnya, pengemudi bus dan metromini selalu menaikkan dan menurunkan penumpang di lajur paling kanan, yaitu lajur untuk bus transjakarta. Tak pelak, calon penumpang harus menyeberang di keramaian jalan agar terangkut bus.

Kesadaran publik

Melihat kesemrawutan berkendaraan umum di Jakarta, Antropolog dari Pusat Kajian Antropolog FISIP UI, Iwan Meulia Pirous, mengatakan, hal itu terjadi karena tidak ada kesepahaman dari semua pengguna jalan bahwa jalan adalah milik publik.

Akibatnya, sikap egois muncul. ”Misalnya saja, pengemudi bus yang mengangkut penumpang di tengah jalan. Dia mungkin hanya berpikir berhenti sekitar dua menit, tidak berpikir bahwa puluhan kendaraan yang ada di belakangnya harus ikut berhenti juga,” kata Iwan.

Untuk menciptakan kesepahaman budaya ini, Iwan menuturkan, bukan hanya peraturan dan sanksi tegas yang harus diterapkan. ”Yang paling penting dilakukan adalah menumbuhkan kesadaran bahwa lalu lintas adalah milik publik; supaya tumbuh rasa saling menghargai. Caranya bisa bermacam-macam, bisa melalui kurikulum di sekolah atau iklan layanan masyarakat,” tuturnya.

Selain itu, Iwan juga menilai tindakan liar dalam berlalu lintas terjadi karena adanya perbedaan kelas sosial pengguna jalan. Karena selama ini merasa tertekan dan tidak diperhatikan pemerintah, mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah akhirnya bertindak agresif saat berada di jalan.

”Makin mudahnya membeli motor dengan kredit membuat pengendara motor makin banyak. Mereka kemudian menguasai jalan, termasuk trotoar. Tindakan ini bukan hanya cara mereka bersaing dengan pengendara mobil dari kalangan atas, tetapi juga bentuk dendam karena selama ini tidak pernah diperhatikan pemerintah,” papar Iwan.

Jika dendam ”kelas” sosial ini turun ke jalan raya, kita bisa saksikan sendiri betapa kekerasan bisa setiap saat muncul di jalan-jalan Jakarta..
—————————————————————————————————————————————–

Mereka Memilih Kendaraan Umum

Minggu, 24 Oktober 2010 | 04:03 WIB

Bepergian memakai kendaraan sendiri pasti terasa lebih nyaman dibandingkan dengan naik kendaraan umum seperti bus, kereta, mikrolet, atau bajaj. Namun, demi keefektifan melakukan kegiatan sehari-hari, beberapa orang memilih menyimpan kendaraan sendiri di rumah lalu berdesakan dengan penumpang lain menuju tempat tujuan.

”Memakai kendaraan umum itu lebih pas dan fleksibel untuk kondisi lalu lintas seperti di Jakarta. Misalnya saja, kalau sedang terjebak di tengah kemacetan saat berada di dalam bus, saya bisa langsung turun lalu ganti memakai ojek. Kalau memakai kendaraan sendiri, mana bisa meninggalkan kendaraan di tengah jalan,” kata Ibnu Hamad, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI).

Sejak pindah dari Pandeglang, Banten, ke Jakarta tahun 1985 hingga sekarang, Ibnu memilih bepergian memakai kendaraan umum. Pilihannya beragam, mulai dari kereta, bus, ojek, hingga bajaj.

Setiap kali mengajar di FISIP UI, Ibnu memakai kereta rel listrik (KRL) Bogor-Jakarta dari Stasiun Citayam menuju Stasiun UI. Waktu tempuhnya sekitar 12 menit, jauh lebih cepat dibandingkan dengan mengendarai motor selama 40 menit dan mobil yang bisa mencapai 1 jam.

”Kalau ada kegiatan di Jakarta, saya memakai kereta menuju Jakarta, lalu ganti bus. Kadang-kadang memakai bajaj atau ojek. Pokoknya yang bisa nyelip-nyelip di tengah kemacetan Jakarta,” tutur Ibnu.

Karena lebih memilih berkendaraan umum, Ibnu lebih sering memarkir mobil pribadinya di rumah. Mobil ini hanya dipakai saat harus bepergian dengan keluarga.

Sama seperti Ibnu, Service Account Manager PT IBM Indonesia David Tjahjana lebih banyak mengandalkan kendaraan umum dalam kegiatan yang terkait dengan pekerjaan. David menggunakan bus transjakarta Koridor I (Blok M-Kota) dari kantornya di Jalan MH Thamrin untuk mengunjungi klien yang tersebar di sepanjang jalan tersebut hingga Jalan Jenderal Sudirman.

”Mencari tempat parkir bukan hal yang mudah kalau memakai mobil sendiri. Belum lagi, jalur Thamrin-Sudirman mengharuskan kita berputar kalau tempat yang dituju berada di lokasi berseberangan,” kata David, yang juga memakai bus transjakarta dari rumahnya di Kelapa Gading untuk menuju kantor.

David bahkan berusaha menjadikan berkendara dengan transjakarta sebagai kebiasaan bergengsi. Caranya, dengan berpenampilan rapi dan keren.

”Saya sering memakai dasi dan jas langsung dari rumah meski harus naik bus karena menurut saya transjakarta bukan hanya untuk mereka yang memakai kaus oblong dan bersandal jepit,” kata David. (IYA)

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: