IAP 2.0

Dalam 10 tahun terakhir, dunia penataan ruang mengalami berbagai perubahan yang secara signifikan telah merubah wajah pembangunan Indonesia. berbagai perubahan tersebut diantaranya; desentralisasi yang memberikan peran besar bagi Pemerintah Daerah dalam mengelola pembangunan, demokratisasi yang menuntut peran lebih besar dari masyarakat dalam penataan ruang, urbanisasi yang demikian pesat sehingga menuntut pengelolaan perkotaan yang sustainable, degradasi lingkungan baik di kawasan perkotaan ataupun kawasan hutan, dan lain sebagainya.

Berbagai permasalahan dan tantangan tersebut direspon oleh dunia perencanaan dengan melakukan revisi terhadap UU 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang menjadi UU 26 tahun 2007. UU ini kemudian diikuti oleh banyak Peraturan Perundangan yang menjadi sarana pelaksana, seperti PP 15/2010, PP 26/2008, dll

Era  keterbukaan informasi dan komunikasi  membawa nuansa baru dalam melaksanakan pembangunan. Para aktor pembangunan dituntut untuk lebih transparan dalam penyediaan informasi, terbuka dalam proses pengambilan keputusan, kreatif dalam melaksanakan sosialisasi kebijakan, inovatif dalam implementasi pembangunan, dan lain-lain. Penggunaan media-media komunikasi baru mewarnai pelaksanaan pembangunan.

Diseminasi informasi tidak semata-mata menggunakan media konvensional, seperti media cetak atau elektronik seperti TV dan Radio. Diseminasi informasi melalui penggunaan media web menjadi trend baru di kalangan pelaksana pembangunan. Mobilisasi opini melalui social media, seperti facebook, blogspot, twitter, dll, menjadi model baru dalam membangun kebijakan publik Masa depan.

Tantangan Masa Depan IAP

Kondisi-kondisi yang disebutkan di atas memaksa Ikatan Ahli Perencana (IAP), sebagai organisasi profesi perencana, bermain di wilayah baru. Sebuah wilayah yang merespon tantangan penataan ruang dengan memanfaatkan media –media baru sebagai bentuk advokasi dunia penataan ruang. IAP dituntut tidak hanya mampu melaksanakan perannya sebagai  lembaga sertifikasi tenaga ahli peñata ruang semata .

IAP menghadapi tantangan masa depan yang baru di paruh kedua abad 21 yang sangat berbeda dengan pelaksanaan organisasi IAP di tahun 80an, 90an dan 2000 awal. IAP tidak bisa lagi menjalankan organisasinya dengan gaya “birokrasi”, yang disebabkan  oleh kepengurusan yang didominasi oleh birokrat di berbagai institusi, Tantangan tersebut menuntut pengelolaan dan implementasi organisasi yang lebih responsif, modern, kreatif, inovatif dan terbuka.

Beberapa tantangan yang dihadapi IAP di beberapa tahun ke depan adalah

1.    Penguatan peran advokasi dunia penataan ruang. IAP saat ini melaksanakan perannya dengan baik sebagai organisasi Pembina individu yang berkiprah di dunia penataan ruang. IAP belum melaksanakan peran yang optimal dalam melaksanakan advokasi di bidang penataan ruang. Sosialisasi dan diseminasi informasi mengenai penataan ruang kepada masyarakat seharusnya menjadi salah satu concern utama dari IAP. Peran ini harus diperkuat kembali oleh IAP pada tahun-tahun mendatang.

2.    Mendorong Peran IAP dalam mobilisasi opini publik. Peran IAP selama beberapa tahun terakhir sulit melaksanakan perannya sebagai lembaga profesi yang independen. Dominasi birokrat dalam struktur pengurus , selain memberikan dampak positif bagi organisasi melalui pengalaman dan jaringan, ternyata mempersulit IAP dalam melaksanakan mobilisasi opini di bidang penataan ruang, terutama ketika dituntut untuk bersebrangan dengan pihak Pemerintah. Statement ini bukan berarti kepengurusan IAP masa depan harus bebas dari birokrat, akan tetapi dibutuhkan strategi khusus untuk mencoba mendorong peran IAP dalam mobilisasi opini. Keberadaan birokrat dalam struktur IAP tidak seharusnya menjadi hambatan bagi IAP dalam memberikan pandangan dan masukan kepada Pemerintah ataupun masyarakat. beberapa tahun terakhir, Pengurus IAP sudah berupaya untuk memperbaiki hal tersebut melalui serangkaian pers conference, diseminasi di media, dan lain-lain. Akan tetapi hal ini belum optimal akibat belum terbangunnya citra IAP sebagai organisasi yang kompeten dalam bidang perencanaan wilayah dan kota. IAP masih harus bersaing dengan beberapa organisasi lainnya yang lebih “diakui” masyarakat.

3. Struktur organisasi yang terdiri dari berbagai kelompok usia dan aktivitas. Kepengurusan IAP masa depam harus mampu menjawab berbagai isu yang timbul  terkait dengan perencanaan wilayah dan kota. Hal ini tentunya membutuhkan keahlian dan informasi yang beragam. Kepengurusan IAP tidak dapat dibangun dengan hanya 3 kelompok profesi yang saat ini ada; birokrat, akademisi dan konsultan perencanaan. Pandangan dari kelompok profesi lain mutlak dibutuhkan, seperti  sektor swasta, NGO, politik, dan lain-lain dibutuhkan untuk memperkaya khazanah opini yang diberikan oleh IAP. Selain itu berbagai isu yang muncul silih berganti membutuhkan pandangan lintas generasi yang tentunya memiliki idealisme jaman yang berbeda-beda. Sehngga mutlak diperlukan kepengurusan yang terdiri dari berbagai kelompok usia.

Menuju IAP 2.0

Penggunaan isitilah IAP 2.0 sebenarnya untuk memperkuat dan menegaskan kembali peran IAP di dunia yang sarat dengan keterbukaan informasi seperti saat ini. IAP 2.0 adalah usulan model pengelolaan IAP untuk menjawab tantangan masa depan dunia penataan ruang. IAP 2.0 bukan visi misi calon ketua IAP ataupun visi misi dari organisasi  IAP.  IAP 2.0 merupakan masukan  sebagai bentuk kepedulian untuk memperkuat peran IAP di masa mendatang.

Konsep IAP 2.0 dibentuk melalui lima prinsip dasar yang dapat diimplementasikan oleh IAP, yaitu

1. Terbuka

IAP harus menjadi organisasi yang mampu membuka diri kepada publik. IAP memiliki peran strategis untuk melaksanakan diseminasi informasi dan pengetahuan kepada masyarakat mengenai hal-hal terkait dengan penataan ruang. Pengunaan media alternative, seperti webpage, web blog, twitter,dll, bukanlah sebuah konsekuensi mode saja. Tetapi upaya dari IAP untuk menjadi lebih terbuka terhadap masyarakat,terutama di bidang diseminasi informasi

Selain itu, keterbukaan dapat diartikan sebagai keterbukaan terhadap berbagai jenis pengetahuan yang dapat digunakan sebagai amunisi dalam membuka opini publik, bukan hanya sekumpulan ide-ide dari penata ruang

2. Kreatif dan Inovatif

Perkembangan pola dan trend masyarakat perlu diikuti oleh penyusunan kegiatan-kegiatan kreatif untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Inisiasi Most Livable City Index, terlepas dari kesederhanaannya, merupakan terobosan yang telah dicoba oleh kepengurusan IAP terkini. IAP masa depan harus mampu menciptakan kegiatan-kegiatan kreatif dan inovatif baik di tingkat pusat ataupun tingkat daerah.

3. Membangun Kemitraan Strategis (Strategic Partnership)

Strategic partnership merupakan sebuah keharusan bagi sebuah organisasi di era modern. Kebutuhan untuk menjadi organisasi terdepan di bidang penataan ruang tentunya membutuhkan  kemitraan dengan stekholder-stakeholder srtategis skala lokal, regional dan global. Membangun kemitraan strategis didasarkan kepada prinsip-prinsip: kesetaraan, menguntungkan dan terbuka. Kemitraan yang telah dimulai dengan organisasi-organisasi lokal internasional saat ini patut dikembangkan lebih lanjut ke arah kemitraan yang kongkrit dan berimplikasi positif bagi dunia penataan ruang Indonesia.

4. Organisasi Global

Era globalisasi yang saat ini berlangsung menuntut IAP berevolusi menjadi organisasi global. Hal ini didasari pada pemikiran bahwasanya konstelasi yang terjadi di luar Indonesia akan memberikan implikasi kepada dunia penataan ruang Indonesia. isu-isu internasional, seperti climate changes, deforestasi, urbanisasi perkotaan, peluang beraktivitas bagi planner asing di Indonesia serta sebaliknya, dan lain sebagainya. IAP harus berkembang  menjadi organisasi yang tidak melulu berkutat pada isu-isu lokal (yang tentunya masih banyak harus diselesaikan). IAP harus membuktikan dirinya sebagai organisasi profesi penataan ruang yang diakui di tingkat global. Kemitraan dengan organisasi internasional, keikutsertaan dalam forum-forum internasional, penyikapan terhadap isu-isu global, pengembangan kompetensi SDM dengan standar internasional, adalah langkah-langkah yang dapat diambil untuk mendorong IAP sebagai organisasi global

5. Knowledge management based

IAP sejatinya terdiri dari berbagai individu dari berbagai institusi swasta ataupun Pemerintah  dengan kompetensi yang telah diakui. Beragam pengetahuan yang tersebar di seluruh anggota dapat menjadi amunisi dan potensi yang menjadi bekal IAP dalam memainkan perannya di masa depan. Tantangannya kemudian adalah bagaimana cara mengakumulasi berbagai informasi dan pengetahuan tersebut untuk dipergunakan oleh seluruh anggota. IAP dapat menggunakan pendekatan knowledge management dalam mengakumulasikan informasi dan pengetahuan yang ada. Knowledge management perlu didukung oleh penyediaan “alat” yang representatif dalam mengelola pengetahuan yang ada. Optimalisasi penggunaan berbagai alat seperti;web, milis, bulletin, literatur cetak-elektronik, dokumentasi elektronik dan  berbagai social media, mutlak dilakukan oleh kepengurusan IAP. Pendekatan knowledge management tentunya diharapkan dapat menjadi  modal dalam memperkuat posisi IAP sebagai organisasi profesi terdepan di Indonesia

Tentunya IAP 2.0 bukanlah sebuah konsep mujarab seperti obat sapujagat yang menyembuhkan segala penyakit di dunia. IAP 2.0 juga bukan sebuah konsep yang hanya membutuhkan kerja keras pengurus dan perangkatnya. IAP 2.0 harus dilaksanakan secara bersama-sama seluruh stakeholder IAP di tingkat pusat dan daerah. Kolaborasi positif untuk mendorong positioning IAP sebagai organisasi profesi penataan ruang yang diakui di tingkat internasional ataupun lokal.

Mudah-mudahan kepedulian ini dapat dijawab oleh kita semua….

 

Elkana Catur H

Web blog: www.perencanamuda.wordpress.com ,

Twitter: @elkanacatur

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: