Menyelesaikan Kendala dalam Revisi Perda RTRW

Sumber: http://www.pu.go.id

Saat ini, amanat Undang-Undang Penataan Ruang terkait penyelesaian Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) masih berjalan lambat dan menghadapi berbagai kendala. Antara lain, perlunya paduserasi kawasan hutan serta masih banyak ditemukan ketidaksesuaian antara Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dengan RTR di bawahnya, karena RTRWN belum dijadikan acuan oleh Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Demikian diungkapkan Direktur Penataan Ruang Wilayah I, Bahal Edison Naiborhu dalam Obrolan Tata Ruang bersama Kementerian Pekerjaan Umum di Radio Trijaya FM Jakarta (16/6).

Edison menambahkan, jika berbicara tentang ketidaksesuaian ini maka semua pihak seharusnya mengatur kewenangannya masing-masing, sesuai dengan pembagian kewenangan yang sudah diatur dalam PP No. 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan. “Jadi, hal-hal yang menjadi kewenangan Pusat dan telah diatur dalam RTRWN harus diadopsi, sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam pengaturan,” imbuhya.

Sebagai contoh yang menjadi kewenangan pusat adalah penetapan kawasan hutan dan penataan ruang Kawasan Strategis Nasional. Oleh karena itu, Daerah seharusnya hanya mengatur kawasan-kawasan di luar kawasan tersebut, ungkap Edison.

Ketua Kelompok Studi Arsitektur Lanskap Indonesia (KESALI) yang juga menjabat sebagai Koordinator Peta Hijau Indonesia, Nirwono Yoga memandang ketidaksesuaian tersebut dari sudut pandang berbeda. Menurutnya, permasalahan ini diakibatkan oleh tarik-menarik kepentingan antara faktor ekologis atau lingkungan dan faktor ekonomi. Adanya keinginan Daerah untuk menghasilkan PAD sebesar-besarnya terkadang membawa dampak negatif terhadap lingkungan. Misalnya, keinginan untuk mengembangkan tambang batubara ataupun perkebunan kelapa sawit yang tidak jarang harus mengorbankan kawasan hutan.

Sebenarnya, pemanfaatan hutan juga dapat menghasilkan PAD yang besar tanpa merusaknya. Seperti dengan memanfaatkan keindahan alam hutan tersebut untuk kegiatan pariwisata. “Tapi, kegiatan pariwisata ini juga harus terus kita pantau, jangan sampai merusak lingkungan,” paparnya.

Menanggapi hal tersebut Edison mengatakan, Lampung merupakan contoh Provinsi yang berkomitmen dalam menjaga kelestarian kawasan hutannya. Demikian pula Kabupaten Lampung Barat, yang beberapa waktu lalu mendapat penghargaan dari Pemerintah karena memproklamirkan diri sebagai Kabupaten Konservasi yang menetapkan 80 persen wilayahnya sebagai kawasan hutan.

“Lampung Barat ini dapat dijadikan contoh yang sangat baik dalam menghasilkan PAD dengan memanfaatkan potensi lokal. Bukan hanya berkomitmen menjaga 80% wilayahnya sebagai kawasan hutan, tapi kawasan budidaya di Kabupaten ini juga ditanami dengan tanaman kayu yang dapat cepat dimanfaatkan dalam 5-10 tahun,” tandas Edison.

Di akhir kegiatan Edison menegaskan agar semua pihak dapat bekerjasama dan berkomitmen dalam percepatan revisi Perda RTRW. Bukan hanya Pemerintah dan Pemerintah Daerah saja, tapi juga perlu dukungan DPRD dalam legalisasi Perda nantinya. Selain itu, perlunya partisipasi masyarakat untuk memberi masukan dan mengawasi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di lingkungannya. “Memang, masih banyak yang harus dikerjakan, tapi pasti bisa kita selesaikan sedikit demi sedikit”, pungkasnya. (sha/ibm)

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

One Response to Menyelesaikan Kendala dalam Revisi Perda RTRW

  1. dell mengatakan:

    Tata ruang yang carut marut dan banyaknya kepentingan oleh penguasa daerah terutama di Kabupaten/Kota dengan alasan kepentingan peningkatan PAD – apakah tidak perlu dipikirkan adanya indoktrinasi pelestarian lingkungan thd generasi muda/anak-anak, karena untuk generasi sekarang dan generasi terdahulu mngkin hanya beberapa org saja yg mau mmemikirkan hal-hal seperti ini (contohnya, pemrakarsa blog ini)..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: