Menggagas IAP masa depan

Buah tangan dari peringatan Hari Ulang Tahun Ikatan Ahli Perencana Indonesia (IAP Indonesia) di Jakarta Planning Gallery dengan tema ‘Menggagas IAP masa depan’. Muncul sebuah diskursus yang menarik tentang visi dan posisi yang perlu dimiliki oleh sebuah organisasi yang mewadahi profesi perencana ini. Pada sesi talkshow dengan pembicara Aca Sugandhy (Ketua IAP 1983-1989), Kemal Taruc ( Ketua IAP 2001-2004), dan Iman Soedradjat (Ketua IAP 2007-2010) terungkap berbagai pemikiran dalam menjawab visi dan posisi IAP masa depan. Pencarian visi dan posisi ini pun mengungkapkan bahwa pada usia yang ke-39, IAP mencari identitasnya dalam jagat asosiasi keprofesian di Indonesia. Idnetitas sebuah organisasi tercermin, terutama pada pada pernyataan tujuan pendiriannya. Keberadaan tujuan inilah yang menjadi pembeda antara kumpulan orang yang selanjutnya didefinisikan sebagai gerombolan atau sebagai entitas multikreativitas yang sinergis mewujudkan visi bersama.

Terdapat kegamangan peran yang akan diambil oleh IAP sebagai satu-satunya wadah profesi perencana dalam pembangunan Indonesia. Sebuah kegamangan yang boleh jadi merupakan buah dari persepsi rendah diri yang tertanam dalam alam pikiran perencana. Sebuah kegamangan yang mungkin terbentuk dari kemandulan implementasi beragam produk perencanaan secara penuh dalam praktek pembangunan di Indonesia selama hamper empat dekade.

Beruntung, Aca Sugandhy mengungkapkan suatu fakta yang mengangkat semangat perencana dengan menjelaskan berbagai pencapaian perencana dalam kurun waktu dua terakhir. Sebuah fakta bahwa ternyata proses aktualisasi profesi perencana walaupun perlahan telah mulai mewujud dengan berlakunya UU No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang yang direvisi dengan UU No. 26 tahun 2007 serta pembentukan lembaga perencanaan di tingkat pusat oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan pada tingkat daerah dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Kedua fakta tersebut merupakan sebuah pengakuan pada aspek legal dan institusional eksistensi perencana dalam jagat pembangunan Indonesia. Perencana melalui aspek legal sebagai dasar bergerak dan aslpek institusional sebagai legitimasi kewenangan mampu memberikan kekuatan kepada perencana untuk berperan dalam pembangunan.

Satu hal yang saat ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi perencana sesungguhnya adalah pertanggungjawaban intelektual dan moral perencana yang pada dirinya disematkan amanah –sebagaimana yang pernah disampaikan kepada penulis saat kuliah oleh Ibu Nia Kurniasih –merencanakan pembangunan  untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Semoga mulai saat ini, IAP dan seluruh elemen yang terlibat di dalamnya dapat mengaktualisasikan, bukan hanya rencana keruangan, namun dapat juga menghadirkan kesejahteraan masyarakat melalui rencana tersebut.

Akhirnya, dengan memperingati HUT IAP ke-39 ini, kita dapat menggeser jargon ‘para ahli merencana, para pelaku menentukan’, menjadi ‘padara ahli merencana, masyarakat tersejahterakan’.

-Bravo IAP-

Caesar Adi

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: