Perencana tata Ruang seperti apakah kamu

INTERMEZZO: Curhat aneh si perencanamuda…  Jawab pertanyaan di bawah ini!

Pertanyaan:

Kapankah kamu menyusun/merevisi suatu rencana tata ruang?

Jawab:

  1. Ketika rencana yang lama sudah tidak berlaku
  2. Ketika rencana yang lama sudah tidak sesuai dengan kondisi eksisting
  3. Ketika wilayah belum punya dokumen rencana
  4. Ketika rencana yang lama sudah terwujud dan tujuannya sudah tercapai
  5. Ketika rencana yang lama sudah terwujud tetapi tujuannya tidak tercapai
  6. Ketika rencana yang lama tidak terwujud tetapi tujuannya tercapai

Penjelasan jawaban:

–          Jawaban a:

Kamu pasti bagian dari birokrasi. Bagi kamu perencanaan adalah kegiatan sehari-hari yang menjadi rutinitas. Sisi baik dari planner tipe ini adalah, kamu dapat diandalkan untuk selalu menjalankan tugas dengan teratur, dan menjaga stabilitas pekerjaan dan kegiatan sehari-hari dalam bidang keadministrasian di pemerintahan khususnya. Sisi jeleknya adalah, bagi kamu, perencanaan adalah suatu kelengkapan administrasi yang wajib terpenuhi terlepas dari manfaat rencana yang dibuat. Jadi kamu cenderung melakukan perencanaan yang monoton dan tidak progresif, bahkan rencana yang dibuat cenderung tidak bermanfaat. Walaupun bagaimana, kamu perlu tetap positive thinking dan terus mengasah daya kritis kamu untuk merekayasa ruang bagi sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat. Dan Ingat!!! Untuk kemakmuran masyarakat kamu gak perlu membentuk struktur dan pola ruang yang rumit atau membangun infrastruktur yang canggih atau jembatan antar pulau dan sebagainya, cukup membuat rencana yang akan benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat dengan lebih baik sudah cukup. Sebagaimana kata Aa Gym: muali dari yang kecil. Selamat berusaha!!!

–          Jawaban b:

Kalo kamu pilih jawaban ini, berarti yang bikin RTRW yang lama gak serius. Rencana kan harusnya dibuat dengan pertimbangan yang komprehensif dan sebisa mungkin mengakomodasi dan memprediksi dinamika lapangan untuk bisa mencapai tujuan rencana yang notabene tujuan penataan ruang. Tapi kok seringkali kejadian seperti ini muncul, kejadian ketika rencana jangankan memenuhi tujuan, sesuai dengan dinamika lapangan aja enggak, rencana macam apa ini? Rencana yang aneh??!!! Seringkali muncul ungkapan, ‘wajar dong kalo ada yang gak sesuai di lapangan dengan rencana, namanya juga rencana kan banyak dinamika lapangan yang gak bisa kita kontrol’. Justru seharusnya rencana itu mengantisipasi masalah yang gak bisa kita control, supaya bagaimana cara atau metode yang perlu dilaksanakan sehingga tujuan bisa terwujud walaupun banyak variable yang belum bisa kita kendalikan, dan seharusnya berbagai variable ini kan udah dianalisis (bukannya ada tuh bab data dan analisis dalam rencana, kalo memprediksi kondisi lapangan aja ga bener, berarti kita harus tinggalkan proses kita merencana selama ini dong). Walaupun bagaimana kita harus tetap positive thinking dan mengasah kemampuan kita merencana. Ingat!!! Menurut en.Wikipedia.org,  rencana itu adalah prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan, jadi yang pertama harus kita tahu adalah, apa sih tujuan kita??? Contoh tujuan: mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Nah, lalu definisikan dengan jelas, apa sih indicatornya dari tujuan itu, parameternya apa aja, jadi jelas apa yang kita tuju. Dari tujuan kita baru liat kondisi eksisting. Lalu, kita lihat langkah apa aja sih yang dibutuhkan untuk mencapai ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Jangan sampe kita terjebak dengan praktek day to day planning yang terjadi sekarang ini, e.g. seringkali tujuan yang dibuat biasanya normatif dan ga jelas parameternya, sehingga orang jadi bingung apa yang mau dituju. Misalnya tujuan perencanaan: ‘mewujudkan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan’.perlu diperjelas aman tuh buat siapa parameter aman seperti apa, apakah dengan penurunan jumlah kriminalitas, penurunan jumlah korban bencana alam, atau apa? Sekarang pernyataan nyaman, nyaman tuh menurut siapa, menurut investor, menurut elit politik, atau menurut masyarakat marginal, karena seringkali kita menginterpretasikan nyaman menurut benak kita sendiri yang akhirnya terjebak dalam sekedar merencanakan bentuk fisik ruang dan bukan kualitas kehidupan masyarakat dalam ruang itu sendiri. Pernyataan produktif perlu diperjelas konteks dan parameternya , dalam hal apakah masyarakat harus produktif, dalam peran apakah masyarakat harus produktif, apakah dengan menjadi buruh perusahaan yang bersifat footloose (industri yang dapat ditempatkan dimana saja tanpa keterkaitan dengan factor sumber daya local sehingga berbahaya bagi ekonomi local karena tidak memiliki keterkaitan dengan sector hulu maupun hilir di lokasi tersebut) atau produktif dalam optimasi sumber daya local sekaligus berupaya mencapai kemandirian ekonomi sehingga masyarakat bisa menjadi tuan di rumah mereka sendiri? Pernyataan berkelanjutan, perlu diperjelas parameternya seperti apa, apakah dengan kualitas lingkungan (dengan parameter kualitas udara, kualitas air, dan kualitas tanah) ataukan parameter lainnya? Masalah lanjutannya dengan tujuan normatif yang non parametris adalah, sulitnya mencari formula kebijakan pembangunan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Contoh: fenomena sekarang adalah pembuatan rencana dimulai dari perumusan metodologi, perumusan data dan analisis, lalu perumusan rencana. Perumusan rencana dimulai dari perumusan tujuan lalu kebijakan lalu struktur dan pola ruang, lalu indikasi program. Perlu kita kritisi sebetulnya kebijakan atau struktur dan pola ruang bisa mewujudkan tujuan? Apakah kita bisa menjamin kalau struktur dan pola ruang sudah terwujud maka masyarakat akan aman, nyaman, akan produktif, dan lingkungan tempat tinggal masyarakat akan berkelanjutan? Makanya kita perlu mengkritisi cara kita merencana, karena seringkali kita melupakan tujuan kita untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat dan cenderung berkutat pada sekedar merekayasa bentuk fisik semata.

–          Jawaban c:

Nah, kalo kamu menjawab ini, artinya kamu belum dewasa, dan masih dalam proses pencarian jati diri. Urgensi membuat rencana itu adalah untuk mencapai tujuan dan bukan sekedar ikut-ikutan. Sebelum kamu bikin-bikin rencana yang menghabiskan banyak sumber daya waktu, tenaga, uang, dll., kamu harus tahu dulu, apakah sebenarnya masyarakat di tempat kamu butuh perbaikan keadaan atau nggak. UU No.26 tahun 2007 tentang penataan ruang mengamanatkan bahwa tujuan penyelenggaraan penataan ruang adalah mewujdukan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Kalo masyarakat di tempat kita berada sudah merasa aman, sudah merasa nyaman, produktif (gak nagnggur), dan segala kegiatannya gak merusak lingkungan sehingga lingkungan hidup terjamin keberlanjutannya, berarti gak usah lagi kita repot-repot buat rencana. Contoh: masyarakat suku Dani di Lembah Baliem, saat ini hidup mereka aman dari bencana alam dan dari gangguan lain, dan sudah berabad-abad mereka hidup nyaman dan berkecukupan dengan keadaan mereka sekarang melalui kegiatan produktif seperti berburu, dab bertani, dan kegaitan non politan tersebut bisa dipastikan tidak akan menurunkan kualitas lingkungan, sehingga terpenuhilah kaidah berkelanjutan. Jangan-jangan kalo kita buat rencana dan dipaksakan kepada mereka justru menurunkan perasaan aman mereka, menurunkan kenyamanan hidup mereka, bahkan jangan-jangan kalo ada investasi masuk justru produktivitas mereka terganggu karena mereka dilarang berburu tapi tidak bisa bekerja di sector ekonomi yang masuk seiring investasi, dan akhirnya bukan tidak mungkin segala investasi yang masuk itu justru menurunkan kualitas lingkungan hidup yang sudah terjaga sekarang ini. Jadi pastikan dulu bahwa ketika implementasi rencana dilakukan tidak menurunkan kualitas keamanan, kenyamanan, produktivitas, dan keberlanjutan hidup masyarakat. Jangan sampai struktur dan pola ruang yang diwujudkna justru menjadi beban masyarakat karena kita merencana sekedar dengan persepsi kita, bukan atas dasar kebutuhan masyarakat, dan tidak peka akan dampak yang diakibatkan oleh rencana yang kita buat untuk kualitas hidup masyarakat.

–          Jawaban d:

SUMPEH LOO!!!!!!! Wah masak sih kamu bisa??? Kalo gituh selamat deh, kamu layak diberi gelar Doktor HC atas pencapaian kamu. Tapi, tunggu dulu, tujuan perencanaannya apa dulu nih, jangan-jangan emang gampang untuk dicapai dan gak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tapi anyway, sukses deh dengan keberhasilan kamu, keep up the marvelous work!!

–          Jawaban e:

Nah ini dia yang jadi bahaya laten dari praktek perencanaan sehari-hari yang dilakukan di Indonesia. Seringkali perencanaan dipandang semata-mata sebagai proses pembentukan ruang secara fisik sehingga kita terjebak pada semata-mata pembentukan struktur dan pola ruang, padahal struktur dan pola ruang sekedar alat untuk mewujudkan ruang kehidupan masyarakat yang berkualitas, sebagaimana tersirat dalam tujuan penataan ruang yaitu mewujudkan ruang yang aman (bagi masyarakat), nyaman (menurut masyarakat), produktif (bagi masyarakat), dan berkelanjutan (bagi lingkungan secara umum). Pelaksanaan penataan ruang yang diartikan sebagai perwujudan struktur dan pola ruang belum menjamin tercapainya tujuan penataan ruang karena ternyata seringkali rencana kebijakan dan strategi, struktur dan pola ruang, serta indikasi program, ternyata  tidak kompatibel dengan tujuan. Hal ini dapat terjadi karena tujuan berada pada tataran normatif sementara struktur dan pola ruang, serta indikasi program berada pada tataran teknis yang konkret. Untuk menjembatani hal ini, tujuan dalam penataan ruang perlu diuarikan dalam suatu ukuran yang konkret misalnya dalam bentuk standar pelayanan minimal (SPM). Berdasar ukuran konkret di lapangan dari pencapaian tujuan, maka proses perumusan strategi pembangunan dalam bentuk struktur, pola, dan indikasi program dapat dilakukan secara terarah untuk memenuhi berbagai parameter konkret dari berbagai tujuan tersebut.

–          Jawaban f

Berarti inilah waktunya planner gulung tikar. Ternyata kehadiran kita sudah tidak diperlukan lagi. Inilah yang harus kita waspadai, jangan-jangan kehadiran kita membuat berbagai rencana justru menghambat wilayah untuk mencapai tujuan masing-masing, yatu mencapai kesejahteraan masyarakat.

Wallahu a`lam bi shawwab.

-Cae-

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

One Response to Perencana tata Ruang seperti apakah kamu

  1. harizcuakep mengatakan:

    wah hebat yg bikin ini dia planner atau psikolog yah?but…its cool…
    blhkah saya bertanya, semua yg dilakukan tentunya untuk mencapai tujuan, tentunya dengan persepsi masyarakat.
    nah apakah dalam menyusun struktur dan pola ruang itu nantinya pasti ada pengaruh terhadap behaviour masyarakat (haruskan kita merubah behaviour mereka?bagaimana solusinya?

    yang kedua, selain dengan SPM pastinya kita boleh menggunakan semacam kuesioner (tentunya untuk lingkup rencana yg mikro) untuk mengetahui parameter untuk tujuan, nah bagaimana langkah taktis bila kita menggunakan metode ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: