YOGYAKARTA RAIH NILAI INDEKS TERTINGGI KOTA LAYAK HUNI TAHUN 2009

Kota-kota tumbuh pesat dalam 3 dasawarsa terakhir. Dekade sekarang adalah awal dari millennium perkotaan, karena pada tahun ini diperkirakan setengah jumlah penduduk dunia tinggal di kota. Perkembangan kota berbanding terbalik dengan tingkat kenyamanan di kota, padahal seharusnya tidaklah demikian. Bagaimana penilaian warga kota terhadap kenyamanan hidup di kota yang mereka tinggali.

Ikatan Ahli Perencana (IAP) sebuah organisasi profesi bidang perencanaan wilayah dan kota, melakukan penelitian terhadap persepsi warga kota mengenai tingkat kenyamanan tinggal di kota atau Indonesia Most Liveable City Index 2009. Penelitian yang baru kali pertama dilakukan ini, pada tahun ini baru dilakukaan pada 12 kota yakni Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Banjarmasin, Pontianak, Palangkaraya, Makasar, Manado, dan Jayapura.

“Ini mengukur tingkat kenyamanan tinggal di kota menurut penduduk kota tersebut” kata Bernardus Djonoputro, Sekjen IAP dalam jumpa pers di Jakarta (16/12). Diharapkan ini menjadi masukan bagi pemerintah daerah dan stakeholder kota lainnya untuk meningkatkan kenyamanan kota.

Ditambahkan, Irwan Prasetyo dari IAP, tujuan penelitian ini bukan menyatakan satu kota lebih baik dari kota lainnya, namun merupakan pendapat objektif warga yang tinggal di kota tersebut. “Indeks ini juga dapat menjadi sebuah standar bagi pemerintah daerah dalam berkomunikasi dengan warganya (mengenai kenyamanan warga) yang selama ini belum ada. Ini juga dapat menjadi bagian dari perencanaan kota yang bersifat bottom up” ungkap Irwan.

Direktur Penataan Ruang Nasional Iman Soedrajat yang turut hadir dalam acara tersebut, juga berharap munculnya Indeks Kenyamanan Kota di Indonesia, dapat menjadi rangsangan kepada pemimpin daerah untuk meningkatkan pelayanan  kepada warganya.

Penelitian sendiri dilakukan dengan melakukan survey dengan random sampling terhadap 100 responden di setiap kota sehingga total keseluruhan berjumlah 1.200 orang dengan penilaian terhadap 25 kriteria. Kota Yogyakarta mendapatkan nilai indeks tertinggi yakni 65,34 (nilai tertinggi 100 yakni sangat nyaman). “Namun dengan tingkat kenyamanan rata-rata 12 kota tersebut sebesar 54,17 persen, berarti antara nyaman dan tidak nyaman” katanya.

Hasil indeks persepsi kenyamanan 12 kota di Indonesia selengkapnya adalah Yogyakarta 65,34, Manado 59,9, Makasar 56,52, Bandung 56,37, Jayapura 53,13, Banjarmasin 52,61, Semarang 52,52, Medan 52,28, Palangkaraya 52,04, Jakarta 51,9 dan Pontianak 43,65.

25 kriteria tersebut diantaranya kualitas penataan ruang, jumlah ruang terbuka, kualitas angkutan umum, perlindungan bangunan sejarah, kebersihan, pencemaran, kondisi jalan, fasilitas pejalan kaki, kaum diffable, kesehatan, pendidikan, air bersih, jaringan telekomunikasi, pelayanan publik, hubungan antar penduduk, listrik, fasilitas rekreasi.

Dari penelitian tersebut, juga ditemukan beberapa hasil yang menarik yaitu untuk kriteria penataan kota, Palangkaraya memiliki prosentase tertinggi persepsi warganya memiliki tata kota yang baik yaitu 51%. Sementara Kota Bandung menjadi yang terkecil dengan 3%.

Untuk kriteria ketersediaan lapangan kerja, Jakarta yang dikenal memiliki aktivitas ekonomi yang tinggi, hanya dipersepsikan 10% warganya yang menilai ketersediaan lapangan kerja disini baik.

Selain itu juga didapat hasil bahwa semua kota belum memberikan fasilitas yang memadai bagi penyandang cacat. Sementara Kota Pontianak dengan persepsi kenyaman warga yang rendah disemua kriteria, lebih disebabkan oleh faktor lahan gambut yang membuat keterbatasan areal pengembangan kota. Sehingga menurut Bernardus perlu ada sentuhan teknologi untuk mengatasi kendala tersebut.

Diakui Bernardus, penelitian ini tentu akan disempurnakan pada tahun mendatang dengan meningkatkan jumlah kota yang akan disurvey. Diharapkan nantinya Indeks kenyamanan kota di Indonesia ini bisa menjadi bagian dari Indeks kota-kota nyaman dunia. (gt)

Sumber: http://www.pu.go.id

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

4 Responses to YOGYAKARTA RAIH NILAI INDEKS TERTINGGI KOTA LAYAK HUNI TAHUN 2009

  1. david mengatakan:

    mungkin bisa ditambahkan arah survei ini, apakah tujuan investasi modal, tempat untuk mendapatkan layanan pendidikan berkualitas, gaji pekerja, dsb. ada kaitan-kaitan yang belum dapat terjawab dari survei diatas mau kemana.

  2. anggraeni primawati mengatakan:

    Saya tinggal di Yogyakarta dari saya mulai lahir, pada waktu remaja dulu saya merasakan rasa toleransi antar warga sangat tinggi, mereka sangat sangat toleransi dengan sesama meskipun beda etnis, agama, pendidikan dan yang lainnya… tetapi sekarang, warga menjadi semakin berkelompok…sesuai persamaan etnis, agama, pendidikan, sekarang di yogya bermunculan rumah2 hunian baru… sesuai kelompok agama… misalnya perumahan muslim, dan lain-lain… makanya perlu dipikirkan perencanaan tata ruang kota yang berdimensi multi kultural…

  3. gambang semarang mengatakan:

    Hello there.. Nice blog🙂 salam kenal ya, lagi blogie walking neh sambil woro-woro Ada Lumpia 1000 Di Lawang Sewu

  4. made bhela mengatakan:

    Nice posting..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: