MENTERI PU HARAPKAN PENGEMBANG TURUT SERTA TANGGULANGI BANJIR

sumber : http://www.pu.go.id


Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto mengharapkan peningkatan peran pengembang perumahan dalam keikutsertaan membantu upaya bersama penanggulangan masalah banjir. Dengan keikutsertaan para pengembang maka permasalahan banjir di jabodetabek akan teratasi dengan lebih optimal.

Hal tersebut disampaikan Djoko dalam sambutannya pada Temu Anggota Tiga Dewan Pengurus Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) dengan tema “Peran Pengembang dalam Mencegah dan Mengatasi Banjir” di Jakarta, Kamis (20/11). Turut hadir dalam acara tersebut Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA), Iwan Nursyirwan dan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane, Pitoyo Subandri0

Lebih lanjut Djoko menuturkan, bentuk peran serta tersebut selain dengan memasukkan strategi pengendalian banjir dalam perencanaan pengembangan kawasan juga melalui pengelolaan kawasan yang baik, pemanfaatan ruang untuk menambah kapasitas retention basin dan penanganan tanggap adrurat yang terintegrasi dengan institusi terkait pada saat terjadinya musibah banjir

“Upaya pemenuhan akan kebutuhan papan dan perumahan selalu memberikan konsekuensi adanya perubahan lingkungan dan alih fungsi peruntukan lahan. Dan perubahan lingkungan akan selalu berdampak kepada perubahan pola run off dan perubahan tata aliran air di daerah tersebut,” jelas Menteri PU

Permasalahan banjir di daerah perkotaan merupakan permasalahan yang kompleks, dinamis dan selalu berkembang dari waktu ke waktu sejalan dengan pertumbuhan kota dan perkembangan wilayah dengan segala aktivitas manusia di dalamnya. Pertumbuhan penduduk baik oleh penambahan karena kelahiran maupun urbanisasi selalu menuntut dipenuhinya kebutuhan akan papan, perumahan dan fasilitas-fasilitas lainnya.

Semakin besar kecenderungan pemakaian lahan dan ruang untuk kawasan pemukiman, semakin besar pula kecenderungan berkurangnya lahan-lahan terbuka, jalur hijau, daerah resapan air, tempat-tempat parkir air bahkan kadang yang terjadi adalah kecenderungan semakin menyempitnya badan-badan air dan alur-alur sungai yang pada gilirannya dapat mendorong timbulnya permasalahan banjir oleh meluapnya air dari alur-alur sungai meskipun curah hujan yang jatuh tidak berlebihan atau karena terhambatnya liran karena sistem drainase yang tidak berfungsi semestinya.

Menurut Djoko, guna mengurangi semakin beratnya beban daya dukung lingkungan terhadap beban perubahan aliran adanya kebijakan “zero delta Q” perlu diterapkan. Meningkatnya Q runoff atau runoff koefisien oleh perubahan lapisan penutup, misalnya lahan terbuka yang beralih fungsi menjadi pemukiman dan jalan, berarti semakin menambah banyaknya beban aliran permukaan yang harus ditanggung oleh wadah atau jaringan pengaliran air yang ada.

Dan berbagai upaya dapat dilakukan antara lain dengan membangun sumur-sumur resapan, pengembangan drainase yang memadai dan sistem drainase interkoneksi dengan wilayah lain yang berada dalam satu kesatuan DAS dan peningkatan pengelolaan persampahan dan limbah kawasan. Dan upaya-upaya tersebut harus mengacu pada ketentuan Tata Ruang Wilayah dan Tata Ruang SDA.

Djoko mengatakan strategi penanganan banjir khususnya di daerah perkotaan perlu dilakukan dengan pendekatan “Urban Flood Control”, dengan memanfaatkan fasilitas “storage” yang dapat berfungsi sebagai retention basin atau penampung air sementara  di antaranya seperti waduk-waduk tunggu, taman-taman ruang hijau dan sumur resapan di bawah bangunan. (humas SDA)

Pusat Komunikasi Publik

201108

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: