World Town Planning Day (WTPD)

http://www.penataanruang.net/wtpd/default.asp

World Town Planning Day (WTPD) telah diperingati setiap tahun di 30 negara, walaupun belum menjadi agenda resmi internasional seperti hari-hari tematik internasional lainnya. Tahun 2007, International Society of City and Regional Planners (IsoCaRP) memperingati WTPD di Sitges, Barcelona – Spanyol, dengan puncak peringatan tanggal 8 November. IsoCaRP sebagai asosiasi global dari para perencana professional adalah NGO yang dikenal di PBB, UNHCS, the Council of Europe, serta memiliki status konsultatif formal dengan UNESCO.

Ditetapkannya Undang-Undang Nomor: 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UUPR), April 2007 yang lalu, menjadi momentum penting untuk terus menggalang kepedulian publik dalam penyelenggaraan penataan ruang. Keinginan Indonesia untuk mencapai ruang yang lebih berkualitas melalui perubahan kultur dan etika masyarakat dalam pembangunan, pada dasarnya sejalan dengan tujuan peringatan WTPD.

World Town Planning Day (WTPD) suatu gagasan yang dicetuskan oleh Profesor Carlos Maria della Paolera dari University of Buenos Aires – Argentina pada tahun 1949. Sejak itu, peringatan WTPD secara rutin dilaksanakan setiap tahun di 30 negara, dengan maksud untuk meningkatkan apresiasi publik dan para perencana profesional terhadap upaya penataan ruang dalam menciptakan lingkungan perkotaan yang layak huni (livable environment), baik secara lokal maupun global.

Meskipun telah cukup lama diperingati di berbagai negara maju, WTPD masih belum menjadi bagian dari agenda resmi internasional yang ditetapkan berdasarkan resolusi PBB, seperti hari-hari tematik internasional: hari Bumi, hari Lingkungan Hidup, hari Habitat, hari Air, dan sebagainya.

Saat ini, International Society of City and Regional Planners (IsoCaRP) yang berkedudukan di Den Haag-the Netherlands, tengah melakukan promosi peringatan WTPD yang puncaknya ditetapkan tanggal 8 November, sebagai penghargaan atas berbagai inisiatif yang telah dilakukan sejak 1949.
Tema peringatan yang diangkat tidak sebatas pada permasalahan aktual perkotaan, namun telah meluas pada permasalahan pengembangan wilayah dan penyelenggaraan penataan ruang.

Berkaitan dengan penyelenggaraan penataan ruang, Indonesia telah menetapkan Undang-Undang Nomor: 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UUPR), sebagai pengganti UU Nomor: 24 Tahun 1992. Kebijakan yang tertuang dalam UUPR perlu terus disosialisasikan kepada masyarakat luas. Penguatan peran masyarakat yang ditetapkan dalam UU yang baru ini, menjadi momentum ideal bagi Indonesia untuk secara kontinyu mengkampanyekan peran masyarakat dalam pembangunan kota, kawasan, maupun wilayah.
Semakin menguatnya peran masyarakat dalam pembangunan, maka logika ekonomi yang hingga saat ini masih mendominasi pengambilan keputusan dalam penetapan peruntukan ruang akan dapat dikurangi, dan sebaliknya logika sosio-kultural (misal solidaritas antar-masyarakat, antar-kota, antar wilayah) dan logika lingkungan yang memiliki perspektif jangka panjang akan lebih mewarnai perencanaan pembangunan pada masa mendatang.

Kampanye yang terus dilakukan ini diharapkan membentuk kultur dan etika dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang peduli terhadap kondisi tata ruang disekitarnya. Apresiasi yang baik ini perlu tetap dijaga agar keinginan bersama untuk menciptakan ruang kehidupan yang lebih berkualitas, yakni ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan, dapat terwujud.

Dalam era demokrasi dewasa ini, perubahan sikap-mental masyarakat luas yang diindikasikan oleh peran aktif masyarakat merupakan kunci keberhasilan pencapaian tujuan pembangunan. Peran Pemerintah sendiri pada saat ini telah bergeser menjadi regulator, fasilitator dan juga pembina, agar peran masyarakat sebagai subyek pembangunan dapat berlangsung optimal dalam suasana yang kondusif.

Masyarakat dan pemerintah harus berjalan dalam satu prinsip yang sama, bahwa ruang yang ada harus dimanfaatkan secara bijaksana untuk sebesar-besarnya kesejahteraan bersama, dengan moto, ”ruang bukanlah warisan nenek moyang, tetapi pinjaman dari anak cucu”.

Kesadaran, kepedulian dan tanggung-jawab atas kualitas ruang kehidupan pada saat ini dan di masa mendatang, adalah tanggung jawab semua pemangku kepentingan. Keinginan Indonesia untuk mencapai ruang yang lebih berkualitas melalui perubahan kultur dan etika masyarakat dalam pembangunan, pada dasarnya sejalan dengan tujuan peringatan WTPD di 30 negara, yaitu :

Pertama, menekankan pentingnya kontribusi penataan ruang yang baik dalam pencapaian ruang kehidupan dan lingkungannya yang berkualitas.

Kedua, mengkomunikasikan tujuan dan berbagai kemajuan yang telah dicapai dalam penyelenggaraan penataan ruang kota dan wilayah kepada masyarakat lokal dan seluruh dunia.

Ketiga, menarik perhatian dan mengajak, bukan saja para profesional yang bergerak di bidang perencanaan, namun masyarakat luas untuk berpartisipasi aktif dalam mensukseskan upaya penyelenggaraan penataan ruang.

Karenanya, peringatan WTPD untuk pertama kalinya di Indonesia, sekaligus juga menjadi peringatan Hari Tata Ruang (HTR) untuk tahun-tahun mendatang. Puncak peringatan WTPD/HTR 2008 akan dilaksanakan pada tanggal 8 November 2008.

Peringatan World Town Planning Day/Hari Tata Ruang tahun 2008 ini, mengangkat tema sebagai pengikat agar keseluruhan upaya untuk menggerakkan dan menumbuhkan kepedulian masyarakat atas kualitas tata ruang di sekitarnya dapat berlangsung secara lebih terarah.

Tema WTPD/HTR 2008 adalah :

”Bersama Menata Ruang untuk Semua”


Menumbuhkan kesadaran dan pemahaman seluruh komponen pemangku kepentingan secara lebih utuh atas perannya dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagai bagian dari pembangunan nasional.

Menjaga kesinambungan sosialisasi kebijakan penataan ruang pasca pemberlakuan UU nomor: 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Mengajak seluruh pemangku kepentingan secara bersama-sama untuk berpartisipasi aktif dalam membentuk kultur dan etika yang peduli terhadap kualitas tata ruang di sekitarnya


Membangun kesadaran publik akan pentingnya kultur dan etika yang peduli terhadap kualitas tata ruang di sekitarnya sesuai prinsip-prinsip dan norma-norma penyelenggaraan penataan ruang yang termuat dalam UUPR

Mendorong terwujudnya aksi-aksi kolektif yang konstruktif dan sinergis dari seluruh komponen pemangku kepentingan dalam menata ruang sekitarnya pada berbagai tingkatan yang berbeda, baik pada level kota, kabupaten, provinsi maupun nasional

Sayembara dan Lomba
Desain Tata Ruang Kawasan : Juli – Oktober
Inovasi Penataan Ruang : Juli – Oktober
Desain Logo Tata Ruang : Juli – Oktober
Workshop
Rencana Detail Tata Ruang Kawasan : September
Round Table Meeting EAROPH : September
Java Spatial Model : Agustus
RTR Pulau Jawa-Bali : Agustus
Penataan Ruang (ASPI) : November-Desember 2008
Sustainable urban development : November-Desember 2008
Sustainable Urban Development Forum
Round Table Meeting : September-Desember
Talkshow Radio & TV : September-Oktober
Deklarasi di Media Masa : Oktober
Kampanye Publik
Talkshow di Trijaya Network : 23 Juli – 17 Desember
Talkshow di TV : Oktober – November
Penyiaran ILM Radio : September – Desember
Pameran
Hari Konstruksi : Oktober
Puncak Peringatan WTPD/HTR : 8 November
Sosialisasi UUPR
Di Jakarta (pusat ): Agustus
Di Daerah : Agustus – Oktober
Puncak Peringatan WTPD/HTR 2008
Fun Bike : 8 November
Pameran : 8 November
Atraksi Hiburan & Pentas Dubes : 8 November
Lomba Vokal Group : 8 November
Lomba Lukis Poster : 9 November

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: