MENTAL BLOCK PENATAAN RUANG

Sebelum saya memulai tulisan yang insya allah bakal singkat ini. Ijinkan saya menyampaikan motif saya menulis tulisan ini bukanlah untuk menghujat alumni satu sekolah tertentu ataupun menghujat satu jenis profesi tertentu. Tulisan ini dibuat sebagai otokritik buat kita semua penata ruang (serta elemen yang menyertainya) dan mencoba mencari solusinya bersama-sama. Tulisan ini hanya menoca memaparkan sebagian permasalahan penataan ruang. Kata orang sih mengetahui persoalan itu setengah dari pemecahan masalah.

Saya pelaku penataan ruang, walau saat ini tidak banyak bergelut lagi di kerjaan bidang tata ruang. Tapi background sekolah memaksa saya untuk memliki concern besar terhadap penataan ruang.

Penataan ruang di Indonesia itu sangat erat dengan pembangunan kota yang berjalan selama ini. Fatsoen nya apabila pembangunan kota berjalan sesuai dengan penataan ruang maka sebuah kota akan berjalan dengan baik. Bener gitu?????? Ini bukan pertanyaan sinis. Ini sebuah pertanyaan serius yang harus kita ajukan kembali ke diri kita masing-masing. Apa benar kalo penataan ruang berjalan dengan baik maka sebuah kota akan sejahtera dan baik.. For those of you who work on this field, it must be 100% correct.. tapi apa yang ada di kepala masyarakat kita. Masyarakat di sini tidak identik dengan masyarakat (what so called) kecil, termasuk di dalamnya investor dan lain sebagainya.

Mungkin fatsoen tersebut benar adanya dan secara teoretik sudah dibuktikan oleh para perencana kota di berbagai belahan dunia (note; eropa dan amerika). Tapi kemudian kita lihat apa yang terjadi kemudian di lapangan tidak seindah yang dibayangkan bukan. Pembangunan kota berjalan dengan atau tanpa sebuah penataan ruang yang baik. Tapi yang jelas satu hal, ternyata penataan ruang di Indonesia lebih banyak kondisi negatifnya dibanding positifnya.

Beberapa Realita permasalahan yang terjadi di penataan ruang Indonesia menurut saya saat ini adalah

1. Tidak akuntabelnya rencana tata ruang

“Accountability is a concept in ethics with several meanings. It is often used synonymously with such concepts as answerability, enforcement, responsibility, blameworthiness, liability and other terms associated with the expectation of account-giving. As an aspect of governance, it has been central to discussions related to problems in both the public and private (corporation) worlds.” (Wikipedia)

Apa yang terjadi apabila sebuah dokumen public tidak dipercaya oleh Pelaksana dan masyarakat. Bagaimana sebuah rencana tata ruang dapat terlaksana apabila ada sebuah keraguan mengenai ketepatan, kesahihan dan validitas dokumen rencana tata ruang. Keraguan yang saya lihat ternyata tidak hanya di masyarakat, tetapi terjadi pada level pelaksana dari dokumen rencana. Implikasinya??? Jelas besar… tidak salah apabila pembangunan tidak sejalan dengan rencana tata ruang, kalau sudah ada ketidakpercayaan terhadap produknya.

Kondisi ini bisa disebabkan dua factor. Faktor pertama adalah proses penyusunannya yang tidak dipercaya. Entah itu metodenya yang using, penyusunnya yang tidak dipercaya, data yang gak valid, naskah yang copy paste dari daerah lain dan banyak lainnya yang membuat orang selalu mempertanyakan keabsahan sebuah produk tata ruang. Factor kedua adalah masyarakat tidak cukup dilibatkan dalam proses penyusunan rencana tata ruang. Proses penyusunan rencana tata ruang yang berorientasi teknokratis dan TOP DOWN (seperti Dewa menurunkan Sabda ke pengikutnya), menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk yang dihasilkan.

2. Minimnya kapasitas SDM pelaksana penataan ruang

Saya bukan bermaksud mengecilkan profesi lain atau sekolah orang. Tapi ini riil di lapangan, manakala rencana tata ruang yang complicated, rumit dan sophisticated kemudian harus diterjemahkan oleh orang-orang yang tidak memiliki kompetensi di bidang tata ruang. Akhirnya yang kemudian terjadi adalah pelanggaran (yang disebut) kaidah-kaidah tata ruang dalam pelaksanaan pembangunan. Ya jelas lah dilanggar, orang gak ngerti istilah dalam Buku rencana tata ruang. Ini persoalan mendasar di era desentralisasi, dimana banyak pos yang tidak ditempati the right man on the right place. Ini sebuah persoalan yang harus di atasi, karena kalau tidak banyak orang akan masuk penjara karena pelanggaran tata ruang bukan akibat keinginan untuk melanggar. Tapi akibat ketidak tahuan dan ketidakmengertian terhadap produk rencana tata ruang itu sendiri

3. Tidak membuminya penataan ruang sebagai wacana publik

Penataan ruang itu hanya milik lulusan sekolah perencanaan?? Mungkin harusnya tidak. Kenyataannya?? Terminology-terminologi yang melangit dengan dokumen rencana yang kompleks ternyata mengakibatkan ketidakpahaman terhadap penataan ruang. Yang kemudian terjadi tidak pernah ada diskusi di ranah public mengenai penataan ruang yang tuntas. Implikasinya proses check and balance terhadap penataan ruang sebuah wilayah hanya wacana sesaat dan “anget2 tai ayam”, yang tidak pernah tuntas.

Sebenernya lebih banyak lagi persoalan di penataan ruang.tapi gak tega membukanya secara detil karena takut menambah pesimisme kalangan pelaku penata ruang (terutama generasi muda dan mahasiswa).

Anyway, apa yang menyebabkan persoalan ini?? (jawaban standar) Banyak sekali factor yang menyebabkan hal ini terjadi di kemudian. Tapi ada satu fenomena yang saya amati yang saat ini terjadi di kalangan penata ruang. Fenomena itu saya sebut Mental Block Penata Ruang.

Mental block itu adalah kondisi psikologis manusia yang menghalangi seseorang manusia utuk mencapai tujuan. Hal ini biasanya terjadi manakala inidividu memiliki sebuah “program” dalam pikirannya untuk tidak melakukan satu hal.

Salah satu contoh yang saya kutip dari situs salah seorang psikolog sebagai ilustrasi mental block itu sebagai berikut;

Ini dari kasus klinis yang pernah saya tangani. Ada seorang wanita, sebut saja Rosa, cantik, ramah, cerdas, pintar cari uang, dan mandiri tapi sampai saat bertemu saya, usianya saat itu 35 tahun, masih jomblo alias single, belum dapat jodoh.

Rosa juga bingung mengapa ia sulit dapat jodoh. Ada banyak pria yang suka padanya. Namun setiap kali pacaran dan jika sudah masuk ke rencana untuk menikah, selalu muncul masalah sehingga hubungan mereka akhirnya putus.

Setelah dicari akar masalahnya, saya menemukan program pikiran, di pikiran bawah sadarnya, yang sangat baik namun justru bersifat menghambat dirinya untuk bisa dapat jodoh.

Apa itu?

Ternyata ayah Rosa meninggal saat ia masih kecil, usia 7 tahun. Sejak saat itu ibunya yang bekerja keras menghidupi keluarga mereka. Bahkan pernah sampai jatuh sakit dan hampir meninggal.

Nah, pas saat ibunya sakit keras,Rosa berdoa dan mohon kesembuhan untuk ibunya. Dan dalam doanya ia berjanji bahwa ia akan membalas semua pengorbanan ibunya, setelah ia dewasa kelak, dengan selalu menyayangi dan mendampingi ibunya.

Janji ini ternyata masuk ke pikiran bawah sadarnya dan menjadi program. Benar, sejak saat itu dan hingga ia dewasa Rosa adalah anak yang begitu sayang pada ibunya. Selama ini program pikirannya telah sangat membantu Rosa dalam menjalani hidupnya. Rosa bekerja keras, menjadi anak yang sangat mencintai ibunya. Dan ibunya juga begitu bersyukur dan bahagia karena mempunyai anak yang begitu menyayanginya. Nah, program yang sangat positif ini tiba-tiba berubah menjadi program yang menghambat (baca: mental block) saat Rosa ingin berkeluarga.

Program ini mensabotase setiap upaya Rosa untuk mendapat pasangan hidup. Saat saya berdialog dengan “bagian” (baca: program) yang tidak setuju bila Rosa menikah, saya mendapat jawaban yang jelas dan lugas. Ternyata “bagian” ini khawatir Rosa tidak bisa menepati janjinya, menyayangi dan mendampingi ibunya karena bila menikah, menurut pemikiran “bagian” ini, Rosa harus mengikuti suaminya dan meninggalkan ibunya sendiri. “Bagian” ini tidak setuju dengan hal ini.

http://www.pembelajar.com/wmview.php?ArtID=1184&page=1

Untuk konteks penataan ruang, Mental block telah terjadi di kalangan penata ruang. Fenomena ini mengakibatkan terjadinya stagnansi dalam proses penataan ruang yang menyebabkan penataan ruang tidak progressif. Terlalu kasar?? Mohon maaf, mungkin memang saya terlalu hiperbolik. Tapi saya kesulitan untuk menemukan kata yang lebih halus untuk menggambarkan kata yang ada saat ini.

Fenomena mental block di kalangan penata ruang diindikasikan oleh beberapa hal

  1. Tidak Progresif

Metode dalam menata ruang dari semenjak saya sekolah sampai saat ini tidak banyak berubah. Inovasi-inovasi dalam merencana ruang sangat minim sekali terjadi. Struktur dalam rencana ruang (walau memang sudah dipersyaratkan dalam pedoman penataan ruang) ternyata sudah sangat lama sekali digunakan tanpa ada inovasi dari para pelakunya. Yang kemudian terjadi adalah copy paste rencana ruang dari satu kota ke kota lain, dari satu kabupaten ke kabupaten lain. Kenapa?? Karena hal itu sangat dimungkinkan. Perencana ruang tidak di tuntut untuk melakukan inovasi. Mereka di tuntut untuk menghasilkan rencana ruang at all cost. Tidak seperti bidang pekerjaan lain dimana para pelaku berlomba-lomba untuk melakukan inovasi karena berkaitan erat dengan pekerjaan yang akan diambil, di penataan ruang inovasi adalah hal yang jarang disentuh. Padahal sebagaimana kita ketahui bersama, inovasi lah yang menentukan hidup matinya sebuah profesi dan bidang ilmu. Tanpa inovasi maka akan terjadi stagnansi intelektual yang berujung pada dekadensi kompetensi dan kualitas pelakunya (ini contoh penggunaan bahasa planner, sangat berbunga-bunga). Pelaku penata ruang tidak bersemangat untuk melakukan inovasi diakibatkan tidak adanya insentif untuk melakukan itu. Inovasi tidak mengakibatkan didapatkanya pekerjaan baru atau naiknya pendapatan. Penggunaan metode yang selalu sama ternyata mengakibatkan kebosanan di kalangan pembaca dokumen rencana tata ruang.

Hal ini ditambah tidak munculnya tokoh2 baru dan muda dalam penataan ruang yang diakibatkan tidak ada pengaruh terhadap muncul atau tidaknya mereka dalam tataran konstelasi penataan ruang. Akibatnya hanya segelintir orang yang terus menerus untuk dijadikan referensi penataan ruang. Akhirnya pula yang kemudian terjadi wacana yang ditawarkan pun tidak beragam dengan landasan pemikiran yang dibangun tidak oleh orang banyak.

  1. Latah Wacana

Pernahkah kita mendengar isu penataan ruang sebagai sebuah isu sentral dan hangat dibicarakan?? Pernahkan isu penataan ruang menjadi konsumsi kampanye para calon pilkada??

Isu penataan ruang hanya hangat dibicarakan oleh orang banyak manakala terjadi Banjir di Jakarta. Itupun hanya menjadi side issue yang dibicarakan 1-2 minggu. Pelaku Penataan ruang saat ini latah dalam melakukan wacana public. Isu penataan ruang hanya muncul tatkala ada isu lain yang lebih heboh terjadi. Tidak ada mainstreaming isu penataan ruang.

Penata ruang hanya bersifat follower isu semata dan tidak berhasil menciptakan isu-isu penataan ruang ke ruang publik untuk didiskusikan dan diwacanakan. Kita pun tidak berminat untuk melemparkan wacana public karena merasa itu tidak ada respon. Padahal apabila berbicara di kalangan internal, semua pelaku penataan ruang merasa penataan ruang adalah hal paling penting yang harus dipikirkan republik ini. Tapi ketika di luar forum, isu-isu seperti itu tidak pernah muncul. Sorry to say, saya lebih banyak mengatakan para pelaku penataan ruang sebagai Jago Kandang saja. Walau saya tidak menutup mata terhadap usaha-usaha beberapa perencana ruang yang mengekspose wacana keruangan di masyarakat. Mungkin usaha mereka belum optimal, karena masalah packaging issue yang kurang seksi

  1. Kesenjangan Informasi

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Banyak perencana ruang yang berawacana di tataran langit dan melupakan apa yang ada di Bumi. Melihat masalah secara komprehensif lebih diutamakan daripada melihat persoalan secara riil. Yang kemudian terjadi adalah eksklusivitas pemikiran dan intervensi dalam proses penataan ruang yang mengakibatkan terbatasnya sumbang pemikiran dari luar. Istilah-istilah yang scientific dan tidak responsif terhadap masyarakat mengakibatkan public tidak memahami pengaturan ruang dan implikasi terhadap kehidupan mereka. Terdapat kesenjangan informasi dan akses yang oleh para penata ruang “sepertinya” dibiarkan begitu saja akibat ketakutan apabila semua mengerti tata ruang maka hegemoni mereka sebagai perencana pun diragukan. Mungkin ini nature sebuah ilmu yang tidak memiliki backbone , sehingga mudah untuk di masuki

Mental block menghalangi kita penata ruang untuk melakukan inovasi dan progresif. Hal ini kemudian yang menyebabkan tidak adanya progresivitas dalam perencanaan ruang. Bila hal ini dibiarkan berlanjut maka saya bisa bilang ada sebuah kekhawatiran dunia ini sendiri akan mengalami penurunan kualitas.

Sehingga tidak heran bisa kita katakan bahwa kondisi penataan ruang yang sedemikian ini merupakan akumulasi “dosa” para penata ruang, termasuk saya dan rekan-rekan sekalian.

Solusinya?? Maaf saya baru bicara masalah.. solusi saya lanjutkan di edisi lain

-catur-

Tulisan ini juga dimuat di http://catuy.blogspot.com

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

2 Responses to MENTAL BLOCK PENATAAN RUANG

  1. agung mengatakan:

    Untuk menjadi progresif dan inovatif, seengga2nya dua hal harus bertemu: kompetensi akademik dan kearifan akan konteks. Poin pertama ada di tangan dosen dan pengajar; poin kedua ada di tangan praktisi dan konsultan.

    Yang terjadi sekarang justru keduanya tidak bertemu dan berjalan di dunianya sendiri2. Adakah ilmu perencanaan di ruang kelas dapat diaplikasikan secara layak dalam proyek2 tata ruang?

    Edisi berikutnya, ulas yang itu yah tuy =D

    taqobbalallahu mina wa minkum
    mohon maaf lahir batin…

  2. Emmy Yuniarti Rusadi mengatakan:

    Informasi yang bagus!Beberapa poin utama yang Anda sampaikan saya sepakat. Perencanaan begitu kolot, tanpa inovasi. Tetapi kalau saya boleh berbagi ide, cara keluar dari masalah ini adalah latihan sedari mengerjakan tugas ataupun projek. Saya selalu mengusahakan tidak copy paste (walaupun standar dari PU tak lain juga menimbulkan kesamaan tipe di produk perencanaan). Selain itu, pentingnya mengikuti berbagai kompetisi tata ruang perlu dilakukan. Bukankah daya imajinasi dan kompleksitas perencana lebih luas? kerjasama dengan kaum arsitek, geografi, dan teknik nuklir sekalipun pernah saya lakukan. Hasilnya=inovatif!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: