Sendai City Planning


***Diposting di milis PPIS, Oktober 2001.

Sendai dan Perencanaan Kotanya

Pengantar

Tak kenal maka tak sayang, mungkin pepatah ini berlaku pula bagi penduduk kota dalam memahami permasalah kotanya. Banyak penduduk kota yang dengan alasan ketidaktahuannya melanggar beberapa peraturan kota yang telah diputuskan atau disepakati bersama. Yang lebih mudah ditemukan adalah ketidaktahuan sebagian penduduk kota akan informasi atau peristiwa yang tengah terjadi dengan kotanya. Memang, bukan sepenuhnya kesalahan itu milik penduduk kota, namun bisa juga keterbatasan pengelola kota dalam mensosialisasikan permasalahan yang tengah berkembang kepada warganya, atau bahkan kesalahan itu memang “kesalahan kota” yang seharusnya bisa menjadi ruang bagi penduduknya. Namun kompleksitas permasalah di kota, terutama kota-kota besar di belahan dunia, ujung-ujungnya akan menimpa warganya pula. Kota yang baik adalah kota yang bisa berkomunikasi dengan warganya, begitu kata sebagian besar perencana kota.

Uraian singkat ini tak lain hanya ingin memberikan sebuah gambaran atau sekedar informasi tambahan bagi kita yang tinggal di Sendai, khususnya mengenai perencanaan kota Sendai secara singkat berdasar 2000 Sendai no Toshi keikaku (Sendai City Planning 2000) yang dikeluarkan yang dikeluarkan oleh Sendai toshi seibikyoku keikakubu toshi keikakuka (City Planning Section, Urban Improvement Bureau, Sendai City) dan beberapa sumber lain. Uraian dimulai dari melihat sekilas kota Sendai mulai dari sejarah, kondisi geografis, sampai wilayah administratifnya. Disusul dengan beberapa evolusi kota Sendai sejak Date Masamune masih berkuasa sampai saat ini, dari sudut pandang perencanaan kotanya. Bagian selanjutnya menampilkan perencanaan aktual kota Sendai, dan ditutup dengan menampilkan sekilas fasilitas kota sebagai obyek perencanaan kota. Kembali ke awal, sebagai pendatang yang menghabiskan sebagian waktu kita untuk menjadi bagian dari kota Sendai, tak ada salahnya kita melihat kota Sendai dari sudut pandang perencanaan kotanya. Tak kenal maka tak sayang, memang.

Sekilas Kota Sendai

Secara historis, Sendai adalah kota di mana sekitar 400 tahun lalu lebih, tepatnya pada 1601 M., Date Masamune mendirikan istananya. Pada tahun 1889 M., Sendai resmi menjadi kota setingkat kotamadia dan berangsur-angsur menjadi lokasi menarik bagi hampir semua kegiatan, dari militer sampai pendidikan. Setelah PD II, sejalan dengan restorasi kota Sendai akibat kerusakan saat perang dan seiring dengan pemulihan ekonomi Jepang pada umumnya, Sendai pun berubah menjadi pusat pemerintahan dan bisnis khususnya untuk wilayah layanan Tohoku. Dan sejak tahun 1989 Sendai ditetapkan sebagai kota ke 11 bagi perencanaan khusus kota-kota kunci di Jepang. Meski pun begitu sampai saat ini Sendai masih menduduki kota peringkat 12 berdasar jumlah penduduk atau populasinya (Toyo Economic Databank, 2001). Dengan wilayah seluas 788,08 km2 (hanya seluas 17,45 km2 pada tahun 1889) dan berpenduduk 1.003.774 pada akhir Maret 2000 yang lalu (bandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 1889 yang hanya sebanyak 89.000 jiwa), Sendai memainkan peranan yang strategis di bagian utara Jepang.

Ditinjau dari segi lokasi dan topografi, sebenarnya mempunyai keistimewaan dibading dengan kota2 lain di daerah Tohoku. Pada musim dingin, Sendai tak sedingin kota2 tetangganya, begitu pula di musim panas, Sendai pun tak sepanas daerah2 sekitarnya (Sendai mempunyai suhu rata2 sepanjang tahun 11,9?C. Hal ini akibat letak kota Sendai yang dikitari oleh pegunungan Ou (termasuk pegunungan Zao dan pegunungan Funagata) di sebelah barat dan dibatasi oleh Lautan Pasifik di sebelah timurnya. Dengan kondisi 60% wilayahnya masih berupa hutan, dengan panjang 50,37 km dari barat ke timur, dan 31,23 km dari utara ke selatan, dan dialiri oleh 3 sungai penting, yaitu sungai Hirose (tengah), sungai Natori (selatan), dan sungai Nanakita (utara) yang mengalir dari pegunungan Ou dan bermuara ke lautan Pasifik, Sendai pun memiliki potensi besar dalam bidang sumber daya alam.

Kotamadia Sendai atau dalam bahasa Jepang kita menyebutnya Sendai-shi terdiri dari 5 ku atau distrik kota, yaitu Aoba-ku, Miyagino-ku, Wakabayashi-ku, Taiha-ku, dan Izumi-ku. Perluasan wilayah dari tahun 1889 sampai sekitar tahun 1988, telah banyak melibatkan beberapa desa maupun kota kecil di sekitar kota Sendai untuk masuk ke dalam wilayah administrasi kota Sendai, beberapa wilayah itu antara lain: Desa Akiu di sebelah barat-selatan (1889), Haranomachi, Minamikoizumi di wilayah Miyagino-ku sekarang dan Nagamachi (1928), Aramaki Kitane di sekitar Kitayama saat ini (1932), Nishitaga di sebagian wilayah Taihaku-ku saat ini (1932), Nakada, Rokugo, Sichigo, Takasago, dan Iwakiri, daerah di sepanjang Lautan Pasifik (1941), Oide di wilayah Taihaku-ku (1956), Kota Miyagi di daerah Aoba-ku bagian barat (1987), dan terakhir Izumi yang saat ini tetap menjadi Izumi-ku (1988).

Dengan status sebagai core atau pusat wilayah Tohoku, menjadikan Sendai menjadi pusat jasa dan perdagangan pula. Berdasar sensus pada tahun 1996, diketahui bahwa ada sekitar 50.511 lokasi bisnis di Sendai, dengan pembagian industri primer sekitar 50 buah (0,1%), industri sekunder sebanyak 6.322 (12,5%), dan industri tersier sebanyak 44.139 (87,4%) yang berujud jasa/service dan komersial dengan sebagian besar mempunyai skala layanan prefektur (Miyagi) sampai wilayah Tohoku. Dengan kondisi seperti ini, hampir sekitar 40% lebih penduduk Sendai bekerja pada bidang jasa dan komersial ini dan meningkatkan reputasi Sendai sebagai “a brach-office-based economy city”.

Evolusi Kota Sendai

Saat Date Masamune membangun istananya pada tahun 1600, kota Sendai sebenarnya telah dibagi secara detil bagi perkembangan kota di kemudian hari. Dengan pusatnya di sekitar wilyah Otemae, Omachi tepatnya di Bashonotsuji, dan Kokubuncho, pada saat itu kota Sendai dibagi ke dalam 3 bagian yaitu bagian atas, tengah, dan bawah. Pembagian ini semata-mata didasarkan pada letak istana dan pengaruh sungai Hirose dalam kehidupan kota.

Pada pertengahan masa restorasi meiji, Kokubuncho dan Omachi tetap ramai sebagai daerah perdagangan maupun kantor pemerintahan lokal. Dibukanya jalur kereta api dari Ueno ke Shiogama melewati Sendai pada tahun 1887, daerah perdagangan pindah dengan subur ke wilayah Nakakecho, Shintenmacho, dan Mototerakoji yang menghubungkan Stasiun Sendai dengan daerah peri-peri kota.

Pada tahun 1923, Sendai menerapkan Perencanaan Kota yang lama, dimulai dengan wilayah seluas 52,88 km2. Dengan menggunakan dasar perencanaan ini, area kota yang masuk dalam wilayah perencanaan ditetapkan dengan batas sejauh 30-40 menit perjalanan dari pusat kota (wilayah radius 3,5 km dari Bashonotsuji) Pada tahap perencanaan ini, daerah Aramaki dan Dainohara diusulkan sebagai komplek daerah industri. Dari tahun 1927-1933, dengan menggunakan pedoman perencanaan lama ini, kota Sendai telah melengkapi dengan 8 wilayah yang memiliki pemandangan bagus dalam perencanaan kotanya (dan dipertahankan sampai saat ini), yaitu: daerah Dainenji, daerah Yagiyama, daerah Atagoyama, daerah Otamaya, daerah Osaki Hachiman, daerah Kitayama, daerah Dainohara, dan terakhir daerah An-yoji.

Selama Perang Dunia II, bagian barat Stasiun Sendai yang merupakan daerah administrasi/perkantoran, perdagangan, serta perumahan hancur. Seiring dengan hal tersebut, Pemerintahan Jepang membuat semacam undang-undang untuk Perencanaan Kota Khusus akibat PD II tersebut, kota Sendai termasuk di antara kota2 Jepang yang harus segera menerapkan perencanaan tersebut melalui serangkaian kegiatan restorasi maupun pembangunan baru. Hasilnya, beberapa jalan utama kota seperti Aoba-dori, Jozenji-dori, dan Higashi Nibancho-dori diperluas, serta Taman2 seperti Taman Kotodai, Taman Nishi mulai diperluas dan ditata kembali. Distrik Pusat Bisnis (CBD) lama pun lebih dibuat modern. Seiring dengan restorasi besar-besarn ini, penerapan standar perencanan kota yang baru juga mulai dipikirkan, terutama untuk lebih menata tata guna lahan.

Perencanaan Terpadu Kota Sendai

Pada bulan Februari 1998, kota Sendai mencanangkan Perencananaan Dasar Kota Sendai dengan target waktu sampai dengan 2010, tujuannya adalah mewujudkan 4 visi konsep dasar perencanaan yang ditargetkan terwujud pada pertengahan abad 21 ini. Keempat visi yang diputuskan pada Maret 1997 itu adalah:
・Target menuju sebuah masyarakat kota yang nyaman, sehat, dan segar (relaxing community)
・Target menuju sebuah keberlanjutan “Kota Hijau” dalam upaya menciptakan sebuah lingkungan global yang dinamis affluent city)
・Target menuju sebuah kota pusat yang inovatif yang memainkan peran penting bagi interaksi global (vital town)
・Target menuju sebuah kota pendidikan berlevel duniayang memungkinkan untuk menciptakan masa depan (Shining People)

Dengan berlandaskan visi tersebut, arah dasar pembangunan spasial kota berusaha juga untuk tetap mempertahankan dan lebih meningkatkan struktur hijau dalam kota, lebih memusatkan pergerakan dan transportasi dengan lebih memanfaatkan transportasi umum, meningkatkan interaksi antar-kegiatan di pusat kota (CBD-distrik sentral bisnis), mengalokasikan beberapa pusat pertumbuhan kota untuk memperkuat aksis utara-selatan serta timur-barat kota, serta terus melakukan promosi bagi pengembangan industri bagi pengembangan kota untuk skala regional maupun internasional.

Beberapa lingkup penjabaran dari arah dasar pembangunan spasial kota tersebut, ditransformasikan ke dalam Master Plan Sendai (disahkan pada bulan Oktober 1999) yang antara lain berupa beberapa kebijakan perencanaan kota Sendai. Kebijakan-kebijakan tersebut bertujuan dan diimplementasikan dengan jalan antara lain,
・Mengontrol ekspansi kota (urban sprawl), diharapkan transportasi publik akan lebih efisien dan pengembangan daerah suburb untuk lingkungan alami (pemberdayaan pusat kota, efektivitas stasiun, preservasi ruang hijau, pembangunan perumahan baru dalam kota/dekat stasiun dsb.).
・Mendorong pembangunan fasilitas2 penting, dengan efek memperkuat infrastruktur yang ada, dan memberi landasan kuat bagi pengembangan lahan sekitar (Pembangunan baru di sekitar Nagamaci dan Pelabuhan Sendai, mempermudah akses ke kota (30 menit akses), mendorong pembangunan fasilitas baru bagi kemudahan penduduk dll.).
・Meningkatkan kualitas ruang melalui penataan setting ruang, pemberdayaan wilayah2 lama, dan menurunkan efek negatif bagi lingkungan (lebih menata jalur hijau kota termasuk sungai, penciptaan ruang2 bersama, eco-friendly urban planning dst.)

Sementara itu, pembagian lahan kota akibat kebijakan perencanaan tersebut dibagi ke dalam beberapa zone, antara lain: zone sentral (CBD dan sekitarnya), zone pusat kota, zone efektif (dekat atau berhubungan dengan jalur transportasi publik) sebagai pusat transit masyarakat, zone lingkungan alami, zone hijau untuk pertanian, zone industri, distribusi, dan R&D.

Dan, seperti juga di Indonesia, master plan tata ruang kota Sendai tersebut akan juga dijabarkan ke dalam detil perencanaan ruang. Detil perencanaan ini selain didasarkan wilayah2 atau daerah yang memang menjadi pusat pengembangan, juga didasarkan pada target tahun anggaran/tahun perencanaan. Beberapa detil perencanaan di kota Sendai itu, antara lain meliputi: pengembangan zone rekreasi, pengembangan daerah parkir, pengembangan daerah pelabuhan, konservasi daerah hijau (wilayah Banzan), pengembangan daerah dengan intensitas guna lahan tinggi (Sendai Eki Hakubu ? dekat AER), redevelopment beberapa distrik (Kakyoin 1chome dan Nagamachi 3chome) dll. Sementara itu beberapa daerah yang menjadi target pengembangan berdasarkan tata guna lahan adalah: Izumi Park Town untuk area perumahan, Miyagino-dori dan wilayah sekitar untuk area komersial, Sendai City Science Park di Izumi dan pelabuhan Sendai untuk area industri dan distribusi. Selain itu, penataan kembali beberapa area juga dilakukan terutama untuk area komersial, seperti di belakang Stasiun Sendai, daerah sekitar AER, dan Nagamachi 7chome.

fasilitas Kota

Transportasi kota merupakan fasilitas kota yang paling krusial untuk dipecahkan di kota2 besar, tak terkecuali kota Sendai. Laju penambahan jumlah kendaraan di Sendai adalah 1,7 kali selama 10 tahun. Hal ini melebihi laju popualsi yang hanya 1,2 kali dalam rentang waktu yang sama (10 tahun). Namun begitu, pemanfaatan transportasi publik, kereta api atau subway pada umumnya pun naik, yaitu sekitar 2,38 kali dalam 10 tahun. Hal ini didukung dengan dibukanya jalur subway Izumi-chuo-Tomizawa. Arus lalu lintas mengalami puncaknya pada saat pagi hari sekitar jam 8-9 pagi dan sore hari sekitar pukul 17.00. Untuk masalah transportasi ini, kota Sendai menitikberatkan pada pemenuhan tuntutan transportasi, khususnya di Sendai Metropolitan Area (SMA).

Seiring dengan pemenuhan kenyamanan transportasi kota, masalah pembangunan jalan pun menjadi masalah utama untuk menanggulangi padatnya arus lalu lintas. Saat ini terdapat 150 jalur jalan di kota Sendai dengan total panjang sekitar 515,7 km, yang menghubungkan dalam dan luar kota Sendai. Implementasi untuk membagi dan memperlancar arus lalu lintas, saat ini Sendai menggunakan system 3 rute ring dan 12 rute radial.

Sementara itu, dalam rangka mewujudkan system transportasi yang komprehensif, telah diusahakan pula untuk memadukan jaringan jalan raya, subway, dan kereta api. Perpaduan ketiganya diharapkan bisa mewujudkan sebuah system “urban rapid transit railroad”. Beberapa jalur telah dan akan terus dikembangkan, antara lain adalah jalur utara-selatan subway (aksis Izumi-Nagamachi), juga jalur Senseki antara Tagajo sampai Stasiun Sendai.

Lebih jauh, meningkatnya jumlah kendaraan di dalam kota juga menuntut penyediaan area parkir yang cukup di tengah kota. Beberapa metode parkir di atas jalan atau tepi jalan, jelas akan sangat mengurangi ruang bagi jalan itu sendiri, oleh sebab itu penciptaan ruang parkir (baik kendaraan roda empat atau pun motor dan sepeda) oleh pemerintah maupun swasta terus digalakkan. Selain itu di sekitar stasiun transit seperti Nagamachi atau Izumi chuo juga disediakan area parkir yang lebih bisa menampung kendaraan para komuter.

Di lain pihak untuk mengimbangi meningkatnya jumlah kendaraan yang berakibat pada meningkatnya jumlah karbondioksida/polusi di udara dan selaras dengan tema kota Sendai sebagai kota hijau, “Sendai Green Plan 21″ pun disosialisasikan. Tujuan perencanaan hijau ini tak lain adalah sebisa mungkin menciptakan area hijau seluas 30% dari total luas area perencanaan kota, atau sebanding dengan 20m2 tiap jiwa, atau sebanding dengan 20% jumlah fasilitas publik yang dimiliki kota Sendai. Beberapa area yang tengah galak dikembangkan adalah wilayah Banzan (seluas 81 ha di sebelah selatan wilayah Oritate dan Seikaen). Selain pengembangan daerah hijau, beberapa taman pun menjadi target perencanaan sampai pertengahan abad ini. Beberapa taman seperti di pinggiran kota seperti, Tsutsujigaoka, Nanakita, Dainohara diprioritaskan untuk mempermudah aksesnya. Fasilitas kota yang berhubungan dengan kehidupan penduduk sehari-hari, seperti fasilitas perumahan, pendidikan dan budaya, pasar, jaringan air bersih, limbah air kotor dll. Pun terus mendapat perhatian dan ditingkatkan.

ditulis oleh

Muhammad Sani Roychansyah. Male. Indonesian. Lecturer and researcher at Gadjah Mada University. Married and has 2 children. With family living in Jogjakarta, Indonesia

dikutip dari http://saniroy.wordpress.com/2004/10/17/sendai-city-planning/

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

One Response to Sendai City Planning

  1. Ismail Hidayat mengatakan:

    hii…suka artikel tentang perencanaan kota juga, tukeran info artikel yuk…

    punyaku di

    Perencanaan Kota

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: