PROGRESIVITAS DUNIA PERENCANAAN

Di malam 12 juni 2008, beberapa alumni planologi muda (sekitar 20an orang) dari ITB berkumpul di satu sudut cafe di bilangan sudirman. . Latar belakang dari masing-masing individu yang berkumpul berbeda-beda, mulai dari Pegawai Negeri, Konsultan Perencana Ruang, konsultan di lembaga internasional, konsultan properti, peneliti, dan lain sebagainya. Orang-orang tersebut berkumpul dengan berbagai alasan dan motif yang berbeda-beda, akan tetapi semuanya didasari oleh sebuah kegelisahan terhadap apa yang terjadi saat ini di dunia perencanaan, terutama apa yang terjadi di kalangan perencana muda

Dunia perencanaan wilayah sebenarnya bukan sebuah disiplin ilmu yang lama di Indonesia. Kita bisa katakan tonggak profesi perencanaan adalah ketika Sekolah perencanaan pertama dibuka di tahun 1959 di Bandung. Seiring berjalannya waktu, dunia perencanaan mengalami berbagai dinamika yang mewarnai lulusan dari masing-masing sekolah perencanaan. Lahirnya UU Penataan Ruang pada tahun 1992 (43 tahun setelah sekolah perencanaan berdiri), Era dsentralisasi yang memperkuat posisi Pemda terhadap Pusat, gelombang partisipasi masyarakat setelah era reformasi. Yang terakhir adalah keluarnya UU Penataan ruang yang baru, UU 26/2007, yang secara tidak langsung menentukan arah perkembangan profesi perencanaan.

Ratusan bahkan ribuan tenaga perencanaan telah lahir dari berbagai sekolah perencanaan di Indonesia. Alumni sekolah perencanaan telah tersebar di berbagai macam bidang pekerjaan. Lulusan-lulusan sekolah perencanaan pun telah mengisi berbagai level di profesi perencanaan, tidak hanya didominasi oleh satu atau dua sekolah perencanaan saja.. seharusnya dengan gambaran tersebut, maka dunia perencanaan menuju ke arah yang lebih baik.

Akan tetapi, beberapa perencana muda yang hadir pada forum 12 Juni tidak sependapat.. mereka yang hadir merasakan kegelisahan terhadap masa depan dunia perencanaan. Perencanaan wilayah dan kota telah berubah menjadi sebuah bidang yang tidak menarik, tidak berkembang, membosankan, tidak menantang dan tidak ramah terhadap para perencana muda. Atau dengan kata lain dunia perencanaan wilayah menjadi sebuah bidang yang kurang seksi di tengah era globalisasi saat ini.

Beberapa pemikiran yang mencuat dari diskusi di malam itu (kalo boleh saya simpulkan ), sebagai berikut ;

  1. di level alumni muda, terdapat sebuah keputusasaan dari produk rencana yang di susun. Banyak yang merasa berkiprah di dunia perencanaan tidak memberikan arti banyak bagi pengembangan ruang itu sendiri. Karena produk-produk rencana yang di susun ternyata tidak mampu untuk diimpelementasikan sebagai sebuah produk nyata dalam mengembangkan ruang, entah itu di level Kota, Kabupaten, Provinsi atau Nasional. Kondisi dimana penyusunan produk ruang semata-mata sebagai sebuah proyek semata, menimbulkan pesimisme di kalangan para alumni muda yang menyebabkan mereka berlomba-lomba untuk keluar dari dunia perencanaan ruang. Fenomena ini sebenernya sesuatu yang lumrah terjadi di setiap bidang keilmuan. Akan tetapi apabila hal ini berkelanjutan, maka tentunya dapat dibayangkan sedikitnya alumni sekolah perencanaan yang berkecimpung di dunia perencanaan. Tentunya secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas perencanaan itu sendiri.
  2. Selain dari kondisi di atas, ternyata masih ada sebuah ”kerinduan” dari para alumni sekolah perencana terhadap dunia perencanaan ruang. Aktivitas di luar dunia perencanaan ruang tidak semata-mata membuat mereka tidak perduli terhadap apa yang terjadi di dunia perencanaan. Kebutuhan sebuah media di luar rutinitas pekerjaan dimana mereka dapat berdialog mengenai apa yang terjadi di dunia perencanaan. Sebuah media dimana ”planning can be fun”. Media dialog yang pada akhirnya dapat memperkaya dunia perencanaan tanpa harus berkontribusi langsung sebagai perencana ruang.
  3. Adanya perubahan dalam struktur-budaya masyarakat, perubahan peran birokrasi, dan iklim bisnis dan democratisasi yang memberikan peluang bagi perencanaan untuk berkiprah lebih jauh mengisi ruang-ruang publik.
  4. Potensi-potensi para alumni muda sekolah perencanaan saat ini tersebar ke berbagai bidang dan penjuru nusantara. Berbagai prestasi pun diraih. Akan tetapi hal ini belum terkonsolidasi dengan baik. Sehingga prestasi yang muncul ada prestasi individu dan bukan prestasi komunitas dunia perencanaan. Apalagi dengan kondisi feodalistik masyarakat Indonesia yang melihat komptensi seseorang berdasarkan umur, tidak memberikan kesempatan yang luas bagi perencana muda untuk mengekspresikan inovasi dan kreativitas mereka ke publik. Bahkan ada sebuah anggapan yang mengatakan ”alumni planologi yang terkenal ke publik bukan dikenal sebagai seorang alumni planologi”. Dibutuhkan konsolidasi potensi dari para alumni sekolah perencanaan dalam usaha untuk membuat dunia perencanaan ”GO PUBLIC”. Ekspose terhadap karya-karya nyata yang dibuat oleh alumni-alumni sekolah perencanaan di berbagai bidang diharapkan mampu untuk meningkatkan citra perencana di masyarakat.

Dari sedikit persoalan yang berhasil di ekspose oleh rekan-rekan yang berkumpul, terbersit keinginan untuk membentuk komunitas dimana alumni muda sekolah perencanaan dapat berkomunikasi, berdialog, konsolidasi inovasi, bertukar informasi dan fungsi lain yang mampu melakukan mediasi kepentingan perencana muda.

Beberapa pendapat mengenai Komunitas perencana muda yang hendak digagas adalah

  1. Komunitas perencana muda tidak semata-mata membatasi diri pada usia atau umur kelulusan semata. Akan tetapi harus dapat mewakili ide-ide progressif dunia perencanaan. Komunitas yang ada mampu mewadahi dan memancing inovasi-inovasi baru dalam dunia perencanaan. Komunitas ini diharapkan mewakili ide-ide progresif yang ada dan tentunya menginformasikan ke masyarakat.
  2. Perlu dibuat sebuah konvensi mengenai anggota komunitas. Apakah alumni sekolah perencanaan ataukah orang yang berkecimpung di dunia perencana ruang semata. Di akhir diskusi hal ini belum kunjung terjawab.
  3. Perlunya mengajak oerencana-perencana muda bukan hanya dari satu sekolah perencanaan saja. Akan tetapi perlu diperluas ke alumni dari sekolah perencanaan lainnya di penjuru nusantara.
  4. forum mampu menjadi ruang berpikir dalam meningkatkan kepedulian terhadap kondisi sekitar, termasuk isu2 di dunia perencanaan
  5. Komunitas yang ada diharapkan dapat lebih ”seksi” dari sekedar kumpul2 formal ala organisasi birokratik. Bentuk hubungan peer to peer dikedepankan dari sekedar organisatorik semata. Salah satu ide adalah membuat pertemuan rutin untuk mendiskusikan hal2 yang bersifat kontemporer dan tidak hanya berhenti pada isu perencanaan. Dalam hal ini inisiatif dari setiap anggota komunitas sangat diharapkan…

Malam itu diakhiri dengan berbagai perasaan di masing-masing individu yang hadir. Optimis, pesimis, tercerahkan, bingun dan lain sebagainya. Diharapkan perasaan-perasaan tersebut dapat membentuk sebuah kekuatan untuk bergerak bersama dalam perbaikan dunia perencanaan, dimana orang-orang muda dan ide-ide segar menjadi ”backbone” dari gerakan tesebut.

Keberadaan komunitas ini diharapkan mampu menyegarkan dunia perencanaan dengan ide-ide baru, orang-orang baru, inovasi-inovasi baru. Komunitas yang mampu menjadi solusi bagi dunia perencanaan.

Jalannya masih panjang…

Kita tunggu bagaimana kiprah komunitas ini selanjutnya….

-Catur-

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

4 Responses to PROGRESIVITAS DUNIA PERENCANAAN

  1. agung mengatakan:

    humm… keresahan di level perencana muda, mencerminkan keresahan planner pada umumnya ga ya? =p

    seru nih kayanya… gw join2 yah kalau balik hehe

    btw, dani udah jadi direktur eksekutif IAP apa API tuy?

  2. Saut mengatakan:

    Dear Catur,

    Pertanyaan yang kamu sebutkan di atas, juga menjadi pertanyaan teman-teman di angkatan lain. Saya pikir itu wajar karena bidang perencanaan sendiri adalah bidang yang sangat umum atau bisa dibilang abstrak.

    Pendekatan yang dipakai dalam ilmu planologi, sesuai dengan namanya Perencanaan Kota dan Wilayah, adalah pendekatan untuk mengatur keruangan atau terkait dengan “zoning”. Walaupun ada pergeseran ke arah perencanaan berbasis masyarakat, tidak bisa dipungkiri, hasil akhir yang dibuat oleh perencana pada dasarnya adalah berupa ruang.

    Salah satu alasan menurut saya adalah peraturan pendukung.
    Untuk di Indonesia, peraturan yang mendukung keruangan tidak didukung oleh peraturan yang kuat. Sebagai contoh, banyak bangunan-bangunan yang dibangun tidak mengikuti peruntukan yang telah ditetapkan dalam rencana-rencana tata ruang. Di kawasan Dago, sebagai contoh, kita tidak bisa membedakan antara kawasan perdagangan, permukiman dan jasa perkantoran. Namun saya tidak mengetahui penalti apa yang diberikan kepada peraturan yang tidak dijalankan tersebut.

    Di sisi lain, poin 1 yang disebutkan di atas tentang pembuatan produk rencana berbasis proyek, merupakan salah satu faktor kegagalan itu juga. Di kelas anda diajarkan bahwa rencana membutuhkan waktu yang panjang. Ada proses evaluasi dan koreksi, di lapangan anda hanya punya waktu 3-6 bulan?

    Tentang jaringan perencana yang anda sebutkan di atas, mungkin bisa dimulai juga dengan melebur ke jaringan-jaringan profesi terkait yang sudah ada. Sebagai contoh untuk yang berminat tentang GIS, bisa mengikuti RSGIS Forum di http://www.rsgisforum.net dan yang berminat tentang manajemen bencana bisa melihat di situs belajar bencana http://belajarbencana.wordpress.com, yang saya sebutkan terakhir inisiatifnya baru dimulai satu setengah tahun terakhir.

    Satu tambahan lagi dari saya adalah kita perlu membuat atau mengkaji ulang contoh-contoh kasus yang baik di Indonesia, dimana perencanaan tata ruang diterapkan dan berhasil dengan baik. Jika itu ada, bisa diangkat dan kemudian menjadi contoh yang bisa dikemukakan ke publik. Ada info dan ide?

    Terimakasih buat inisiatifnya!

  3. Fian mengatakan:

    Perlu REVOLUSI bagi PERENCANA MUDA dan DUNIA PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA!GANTI ISTILAH AHLI PERENCANA/PLANNER/APALAH itu dengan PLANOLOG,usulkan ke IAP ya.Istilah PLANOLOG LEBIH SESUAI dengan ISTILAH BIDANG ILMUNYA dan YANG LEBIH PENTING PLANOLOG LEBIH KOMERSIL!!!!!SAYA BANGGA MEMAKAI ISTILAH PLANOLOG.HANYA DI FORM BPS BELUM DICANTUMKAN,KAYAKNYA BPS MISKIN REFERENSI MENGENAI PROFESI KITA.
    BRAVO PLANOLOG MUDA
    SALUT BUAT INISIATIFNYA,TETAP JIHAD BRO!!!

  4. eka senjaya mengatakan:

    ditengah gencarnya kerusakan dimuka bumi ini yang kasat mata kita lihat dan dampak yang cukup besar bagi para penghuninya membuat kita sadar bahwa itulah sebuah hasil dari proses kerusakan sistematis secara terus menerus.banyak kasus yang membuat kita berpikir ulang. aceh dengan bencana gempa dan tsunami, gempa yogya dan bencana lainnya. dan kita tersadarkan bahwa kita perlu mengatur rencana ulang tata wilayah yang menganut prinsip keseimbangan.hal ini perlu disadari bahwa bumi yang kita injak merupakan daerah rawan bencana (jalur gunung berapi “ring of fire”).
    dimana peran perencana baik yang muda atau yang tua atau yang berprofesi sebagai perencana merupakan think thank yang merumuskan berbagai strategi perencanaan, pengendalian dan pemanfaatan ruang agar bumi menjadi lebih bersahabat.

    seperti kata ebiet g.ade ‘mungkin alam mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa”

    Ini menjadi cerminan untuk melihat wajah kita sendiri yang semakin banyak jerawatnya dan merasa menjadi lebih ganteng dengan bentuk wajah yang tidak beres.

    Dimanakah ruh para perencana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: