Bangunan Abad Ke-19 dan 20 Nyaris Roboh (artikel Kompas)

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO / Kompas Images
Seorang anak melintas di depan gedung bekas Kantor Jakarta Lloyd di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (23/6). Banyak bangunan tua yang merupakan aset wisata Jakarta kondisinya memprihatinkan dan rawan roboh.

Selasa, 24 Juni 2008 | 03:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS – Sebanyak dua puluh bangunan di kawasan wisata Kota Tua, Jakarta Barat, saat ini nyaris roboh akibat dimakan usia. Bangunan itu peninggalan abad ke-19 dan 20, semuanya bukan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Pemilik bangunan tua diminta segera melakukan perbaikan dan revitalisasi bangunan dengan biaya sendiri karena Pemprov DKI Jakarta tidak menganggarkan dana APBD untuk itu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Pinondang Simanjuntak mengungkapkan hal ini kepada pers di Balaikota, Senin (23/6).

Dari 284 bangunan di kawasan wisata Kota Tua, hanya 10 bangunan aset Pemprov DKI. ”Mereka diminta segera merevitalisasi bangunan-bangunan yang sudah hampir roboh itu,” kata P Simanjuntak.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua Candrian Attahiyat kepada Kompas mengungkapkan, bangunan di Kota Tua yang hampir roboh itu berlokasi di sekitar Taman Fatahillah, Kali Besar, dan Pasar Ikan.

”Atap bangunan sudah tak ada, sedangkan daya dukung tanah tak kuat karena lahannya labil dan tak sanggup menopang bangunan,” katanya. Kerusakan bangunan abad ke-19 dan 20 itu terutama terjadi saat musim hujan.

Sebagian besar bangunan itu milik badan usaha milik negara dan pihak swasta. ”Salah satu bangunan milik Pemprov DKI Jakarta berada di satu kompleks seluas 1,2 hektar, terdiri dari empat bangunan di Jalan Nelayan,” jelasnya.

Menurut Candrian, tidak ada mekanisme anggaran dari APBD untuk pemugaran bangunan bukan milik Pemprov DKI. Termasuk bangunan milik BUMN, antara lain milik bank, Perusahaan Perdagangan Indonesia, Jasa Raharja, dan Jasindo.

Ketua UPT Kota Tua yang baru dilantik pekan lalu itu menambahkan, pihaknya berharap peraturan gubernur tentang masterplan Kota Tua dipercepat pengesahannya agar pemanfaatan dan pengembangan Kota Tua lebih cepat diatur. Pemprov DKI Jakarta berencana mengembangkan Kota Tua sebagai destinasi wisata sejarah yang atraktif.

Ruang publik

Menurut arkeolog lulusan Universitas Indonesia itu, bangunan di kawasan wisata Kota Tua yang berlantai dua tetap diizinkan menjadi kantor tetap di lantai dua, sedangkan di lantai satu diwajibkan sebagai fungsi publik, misalnya menjadi restoran, kafe, toko suvenir dan sejenisnya.

Kepala Subdinas Promosi, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Nyoman Wedana S menambahkan, jika Kota Tua dikembangkan secara maksimal dan profesional, kawasan wisata ini akan menjadi salah satu sumber pendapatan DKI Jakarta.

”Saat ini sudah ada berbagai komunitas pencinta kota tua. Pemprov DKI akan bekerja sama dengan stakeholder dan komunitas-komunitas itu untuk menghidupkan Kota Tua sebagai kawasan wisata sejarah,” kata Nyoman.

Dia membandingkan dengan kota tua di dunia yang selalu ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan menjadi salah destinasi utama. Wisatawan yang datang ke sebuah kota, umumnya ingin tahu perjalanan sejarah kota. (KSP)

Dimuat di Kompas pada tanggal 22 Juni 2008

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: