Indonesia Young Planners Blog

Sayembara Prakasa Masyarakat untuk Kota Lestari

poster-a2_revised1

Tata ruang sebagai instrumen spasial dalam pembangunan kota, merupakan alat yang tepat untuk mengkoordinasikan pembangunan perkotaan secara berkelanjutan untuk mewujudkan kota lestari. Mengembangkan kota lestari sendiri berarti pemba-ngunan manusia kota yang berinisiatif dan bekerja sama dalam melakukan perubahan dan gerakan bersama. Sementara dalam kehidupan masyarakat, telah muncul dan tumbuh prakarsa maupun gagasan dalam berbagai bidang termasuk penataan ruang, yang memerlukan dorongan dan penemanan untuk lepas landas.

Kota Lestari adalah kota yang dibangun dengan menjaga dan memupuk aset-aset kota-wilayah, dan memperhatikan unsur sebagai berikut:

1. Aset manusia dan warga yang terorganisasi

2. Lingkungan terbangun

3. Keunikan dan kehidupan budaya

4. Kreatifitas dan Intelektual

5. Karunia sumber daya alam

6. Lingkungan dan Kualitas Sarana Perkotaan

7. Mampu melakukan adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim

Tujuan Sayembara

1. Mendorong Insiatif dan Prakarsa Masyarakat Perkotaan

2. Mengembangan berbagai konsep perwujudan Kota Lestari

3. Mengembangkan jaringan kerja sama kreatif antara Departemen Pekerjaan Umum (Ditjen Penataan Ruang) dengan stakeholder perkotaan

4. Menciptakan mekanisme dan reformasi birokrasi dalam pelaksanaan kegiatan penataan ruang yang mengakomodasi inisiatif masyarakat secara kesinambungan

5. Menciptakan dan mensosialisasikan pemahaman dan kepedulian masyarakat perkotaan tentang penataan ruang

6. Membangun forum pembelajaran tentang perwujudan kota lestari bagi masyarakat dan pemerintah

7. Merintis jalur dialog antara masyarakat perkotaan dan pemangku kepentingan

8. Memperoleh solusi baru dan alternatif dalam memecahkan masalah tata ruang

Ruang Lingkup Sayembara

1. Merupakan kegiatan penyelenggaraan penataan ruang: pembinaan, perencanaan tata ruang & pemanfaatan ruang berdasarkan aset kota lestari & pengendaliannya.

2. Memperhatikan unsur-unsur aset kota lestari

3. Memperhatikan kondisi lingkungan & lokasi pelaksanaan usulan peserta termasuk kondisi infrastruktur

4. Bagian dari upaya penanggulangan berbagai masalah terkait penataan ruang yang dihadapi masyarakat.

TATA CARA DAN PERSYARATAN

Sayembara terbuka untuk umum: Warga Negara Indonesia, baik individu atau kelompok, dan merupakan warga kota sesuai dengan lokasi usulan kegiatan.

Ketentuan Proposal Sayembara

1. Proposal wajib mencantumkan penjelasan sebagai berikut:

- Tujuan Pengajuan Proposal

- Manfaat proposal bagi warga dan lingkungan

- Rencana Kerja dan Strategi

- Rencana Anggaran

- Aktor Pelaksana Program

- Produk Akhir yang diharapkan

- Keberlanjutan proposal paska pelaksanaan (tahap pemeliharaan)

2. Proposal juga harus mengangkat kekhasan prakarsa lestari yang ada di wilayah tersebut yang dapat menjadi nilai tambah.

3. Proposal harus mencakup dan mengakomodir kegiatan prakarsa masyarakat lokal

4. Pelaksanaan proposal harus dapat diwujudkan dalam minimal 6 bln – maksimal 1th

5. Rencana anggaran program usulan berada dalam rentang biaya Rp 50-200 juta rupiah dengan rincian pengeluaran sesuai ketentuan pengeluaran pemerintah

JURI

1. Marco Kusumawijaya (urbanis dan arsitek)

2. Yuyun Ismawati (peraih Goldman Prize 2009: penghargaan internasional terhadap upaya penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup)

3. Ruchyat Deni (Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum)

Tata Cara Penyusunan Proposal

1. Ditulis maksimal 30 (tiga puluh) halaman, dengan huruf Arial-Narrow ukuran 12 point, spasi 1.5 (satu koma lima) dengan format PDF atau Word.

2. Dapat disertai ilustrasi (foto, karikatur, peta, grafik, skema, denah) minimal 1 buah

3. Proposal dikirimkan ke email: sayembarakotalestari@gmail.com

4. Mengunduh dan mengisi formulir pendaftaran di situs www.penataanruang.net dan prakarsakotalestari.wordpress.com

Tanggal Penting

1. Waktu Penyelanggara sayembara: 16 September – 6 November 2009

2. Batas Waktu Pengiriman Proposal: 6 November 2009 (cap pos)

2. Pengumuman Hasil Sayembara: 7 November 2009 di situs www.penataanruang.net dan prakarsakotalestari.wordpress.com

Informasi Sayembara

Kontak :

Dian (08562881965) dan Dhika (0818962182)

Alamat surat :

Seknas Habitat

Jl. Wijaya I no.28, Jakarta 12170

Email : sayembarakotalestari@gmail.com

Situs : www.penataanruang.net dan prakarsakotalestari.wordpress.com

Oktober 4, 2009 Ditulis oleh perencanamuda | Umum | , , | No Comments Yet

Call for Papers-PERENCANAAN DALAM ERA DEMOKRASI DAN OTONOMI DAERAH

Call for Papers

SEMINAR NASIONAL

PERENCANAAN DALAM ERA DEMOKRASI DAN OTONOMI DAERAH

(Dalam Rangka Peringatan 50 Tahun Pendidikan Planologi di Indonesia)

Latar Belakang

Pasca Orde baru, Indonesia mengalami dekonstruksi dan rekonstruksi sistem bernegara secara mendasar.  Sistem berubah secara ekstrim dari autoritarian-sentralistis ke demokrasi liberal-desentralistis.  Perubahan sistem diperkirakan masih akan terus berlangsung melalui berbagai produk perundangan.  Dapat dikatakan bahwa Indonesia adalah negara dalam proses pembentukan.  Dalam situasi semacam itu, perencanaan dituntut untuk mampu beradaptasi dengan konteks politik yang terus berubah agar dapat memberikan kontribusi substansial dalam pembangunan.

Adaptasi yang dimaksud mencakup aspek teori, metoda dan praktek perencanaan.  Dalam realita komunikatif sebagai produk demokrasi dan otonomi daerah, perencana dituntut untuk mampu mendudukkan pendekatan perencanaan rasional secara persuasif.  Hal ini tidak selalu mudah dilakukan, terutama untuk perencanaan jangka menengah dan jangka pendek yang beorientasi tindak.  Kesulitan muncul karena kurangnya pemahaman atau bekal perencana dalam menghadapi realita semacam itu.  Selain itu, pragmatisme stakeholders yang tidak selalu sejalan dengan ideal pendekatan rasional seringkali menambah rumitnya situasi.  Kuatnya politik lokal sering menyebabkan perencana untuk bertindak pragmatis, sehingga menyimpang jauh dari prinsip-prinsip akademik-rasional.  Dampak negatif yang kemudian muncul tidak jarang lalu ditudingkan sebagai kesalahan perencanaan.  Sebagian perencana mungkin mengambil jalan aman dengan membatasi peran sebagai teknisi penyedia informasi bagi pengambilan keputusan publik atau perumusan kebijakan.

Dengan latarbelakang tersebut, kalangan akademisi (dosen, peneliti dan mahasiswa), pemerhati, praktisi maupun pihak-pihak lain yang terkait diundang untuk hadir membahas pertanyaan utama sebagai berikut:

  • Bagaimana perencana dan perencanaan menyikapi perubahan konteks politik dikaitkan dengan demokratisasi dan otonomi daerah di Indonesia?  Peran apa yang dapat dibawakan oleh perencana agar mampu terus berkontribusi secara nyata?
  • Penyesuaian apa yang dibutuhkan dari segi teori, metoda dan praktek perencanaan untuk mempertemukan ideal perencanaan rasional dengan realita komunikatif?
  • Pelajaran apa yang dapat diambil dari praktek perencanaan untuk meningkatkan kontribusi perencanaan dalam konteks yang sedang dan terus akan berubah?

Waktu dan Tempat

Seminar akan diselenggarakan pada hari hari Sabtu, 14 November 2009 di Kampus ITB, Jalan Ganesa 10, Bandung jam 9-16 WIB.

Penulisan Abstrak dan Makalah

Seminar memberi kesempatan kepada akademisi, pemerhati, praktisi maupun pihak-pihak lain yang terkait untuk menyampaikan makalah, gagasan maupun bertukar pikiran tentang aspek-aspek teoritis maupun praktis sesuai dengan uraian pada bagian latar belakang.  Makalah yang dipresentasikan akan diterbitkan dalam prosiding seminar.

Penulis makalah diharapkan menyampaikan abstrak (sekitar 300 kata) paling lambat tanggal 28 Agustus 2009.  Penulis abstrak akan dihubungi pada tanggal 11 September 2009. Makalah lengkap diserahkan paling lambat tanggal 16 Oktober 2009.  Abstrak maupun makalah disampaikan melalui:

seminarplano@gmail.com

Biaya Partisipasi

Peserta dikenakan biaya sebesar Rp 100.000,- yang akan dikembalikan dalam bentuk kit seminar, sertifikat dan konsumsi.

Kontak

Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui alamat imil di atas atau:

Karina – 081355203933

Melisa -08562022029

Agustus 1, 2009 Ditulis oleh perencanamuda | Umum | | No Comments Yet

SISTEM TRANSPORTASI HARUS TERINTEGRASI DENGAN PETATAAN RUANG

Penataan Ruang dan sistem transportasi memiliki integritas (keterkaitan-red) yang erat dalam pembentukan ruang. Upaya penyediaan sarana transportasi untuk perkembangan wilayah semestinya mengacu pada Rencana Tata Ruang. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia, Bambang Soesantono dalam Dialog Tata Ruang Bersama Ditjen Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum di Radio Trijaya FM, Rabu (1/6). Bambang menambahkan, seiring perkembangan sebuah wilayah baik secara ekonomi maupun demografis, maka aktivitas transportasi juga semakin meningkat. Jika hal tersebut tidak diantisipasi maka akan timbul permasalahan di bidang transportasi, khususnya kemacetan yang saat ini sering terjadi di kota-kota besar Indonesia. Persoalan kemacetan merupakan masalah krusial transportasi yang sangat terkait dengan penataan ruang. Pertumbuhan wilayah yang menyimpang dari rencana tata ruang atau beralih fungsinya suatu kawasan yang tidak sesuai dengan peruntukan. Dari fungsi permukiman menjadi kawasan komersial akan menimbulkan dampak, salah satunya kemacetan. Agar lalu lintas di kawasan komersial tersebut dapat berjalan lancar, selain adanya jalan yang lebih luas dan penyediaan lahan untuk parkir, perlu tersedianya Mass Rapid Transit (Sistem Angkutan Massal-red), imbuh Bambang. ”Memang faktor penyebab kemacetan tidak semata masalah tata ruang, ada faktor lainnya seperti sarana prasarana, sistem transportasi, dan perilaku pengguna jalan,” tambahnya. Dosen Transportasi Universitas Trisakti Fransiskus Trisbiantara mengatakan penyelenggaraan MRT di kota-kota besar wajib untuk dilaksanakan. Ditargetkan penyelesaian kegiatan tersebut akan terlaksana pada tahun 2016. Kendala yang umumnya dihadapi dalam penyelenggaraan MRT adalah tidak adanya budaya planning, biaya yang mahal, dan perlu konsistensi antar pemangku kepentingan terkait. Selain itu, upaya public hearing (paparan kepada masyarakat-red) tentang Undang-undang Penataan Ruang harus terus dilakukan, agar masukan masyarakat terhadap perbaikan sarana transportasi dapat terfasilitasi. ”Bentuk masukan masyarakat tersebut akan dituangkan dalam Rencana Tata Ruang yang berperan sebagai fasilitator dan komandan pembangunan terpadu seluruh sektor, tegas Trisbiantara. Ada empat alternatif pilihan dalam pemecahan masalahan transportasi. Yakni, penyediaan angkutan umum yang murah dan nyaman, desentralisasi strategi, peralihan dari angkutan pribadi menuju angkutan massal, dan pembatasan lalu lintas. Khusus untuk desentralisasi strategi, pemecahan konsentrasi kegiatan dari pusat kota ke wilayah pinggiran merupakan upaya pemerataan. ”Sehingga kemacetan yang sering terjadi di pusat kota akibat penggunaan waktu, jalur, dan banyaknya pemakaian kendaraan pribadi dalam waktu yang sama dapat diminimalisir,” ungkap Tris. Menurut Trisbiantara, sebagai upaya untuk mewujudkan kota yang nyaman dan aman ke depan, dapat dilaksanakan development impact fee (keterkaitan antara tata ruang dengan transportasi), dimana pelaku yang ingin membangun kegiatan komersial dapat dikenakan retribusi lebih besar. ”Dalam pelaksanaannya hampir sama dengan pemberian mekanisme insentif-disinsentif seperti yang tertuang dalam UUPR,” tandas Tris. (hms taru)

Sumber : www.pu.go.id

Juli 2, 2009 Ditulis oleh perencanamuda | Artikel, Umum | | No Comments Yet

RAKORNAS IAP 2009

Tanggal : 16 Mei 2009 WIB
Judul : RAKORNAS IAP 2009
Sumber : Direktur Eksekutif
Pada tanggal 15 – 16 Mei 2009, IAP telah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang dihadiri oleh Pengurus Nasional IAP dan 16 Pengurus Daerah IAP dari seluruh Indonesia.
Sesuai dengan namanya Rakornas ini dimaksudkan sebagai ajang koordinasi antara pengurus nasional IAP dan segenap PD IAP dalam rangka meningkatkan soliditas dan kinerja organisasi secara keseluruhan.
Rangkaian acara rakornas dimulai dengan penyelenggaraan Executive Forum : Evaluasi 2 Tahun Implementasi Undang-Undang Penataan Ruang. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan program PN IAP, BSP IAP dan pemaparan serta update kegiatan IAP di masing – masing daerah IAP.
Pada Rakornas ini disepakati beberapa hal yang akan menjadi concern organisasi dan akan menjadi agenda IAP, yaitu :

1. Pengurus Nasional IAP harus memfasilitasi media dan secara proaktif meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan Pengurus Daerah IAP

2. IAP perlu untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Percepatan Implementasi UU Penataan Ruang

3. IAP perlu untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kontribusi profesi terhadap public secara luas

4. Pengurus Daerah IAP diharapkan untuk lebih aktif dalam menyelenggarakan kegiatan, pelayanan terhadap anggota serta pengembangan profesi di daerah

5. Penyelenggaraan Kongres Luar Biasa IAP dengan Agenda Revisi AD-ART IAP yang akan diselenggarakan pada Bulan Juli 2009 di Semarang, Jawa Tengah.
Pengurus Nasional agar mensosialisasikan draft revisi AD-ART ke seluruh daerah

Setalah melalui rangkaian diskusi dan rapat, kegiatan rakornas hari kedua diisi dengan kegiatan Off-Road dengan menggunakan 6 Mobil Land Rover ke daerah Cikole Lembang, workshop organisasi, makan siang dan acara kemudian ditutup oleh Ketua Umum ditengah hutan diiringi oleh lembutnya semilir angin di pegunungan Lembang.

Mei 23, 2009 Ditulis oleh perencanamuda | Artikel, Media massa, Opini, Umum | | No Comments Yet

Positioning Planning in the Global Crises

An International Conference on Urban & Regional Planning
to Celebrate the 50th Anniversary
of Planning Education in Indonesia
Bandung, Indonesia
November 12-13, 2009

This International Conference aims to bring together researchers, scientists, and students to exchange and share their experiences, new ideas, and research results about all aspects of Urban, Regional Planning, and discuss the practical challenges encountered and the solutions adopted.




Call for Papers

One of the most pressing issues affecting world population is the changing climate which has brought about detrimental impacts in water availability, agricultural production, pests and diseases as well as has created natural disasters in many parts of the world. Ironically, the changing climate is a product of modern civilization supported by capitalism. Although many nations have realized urgency of the situations, significant global actions to avoid environmental catastrophes with complex economic and social consequences have not been materialized yet.

When many nations are still navigating themselves in the alarming environmental situation, capitalist world has been shaken by unexpected economic crisis originated from the US. Given the interconnected world economy, the crisis has bitten many parts of the capitalist world. Despite financial and economic stimulation implemented in many countries, recovery will unlikely to occur soon. Shrinking growth will reduce living standards. For developing countries, it might deepen poverty.

These crises have called for a greater attention of policy makers, scholars and concerned communities. Furthermore, they require immediate and effective collaborative actions internationally and locally. Long term perspectives and short term solutions should be tailored and then implemented effectively. Although alternative solutions seem to be understood, effective collaborative global actions remain uncertain given significant conflicting interest among nations. This situation has endangered sustainable development, dimmed the prospect of poverty alleviation. It will affect development at the national, regional and local levels. Consequently, it has given rise to questions need to be addressed:

  • What is the prospect of our global environment? Do we need to redefine sustainable development? Do we have alternatives for better environment? How can planning contribute to realization of the alternatives?
  • How can planning contribute to recovery from and adjustment to the current economic crisis as well as avoid unintended consequences of capitalist development in the future?
  • What are strategic planning agendas at the national, regional and local level for adjusting to the current global crises? How can the agendas be institutionalized to assure their realization? what lesson can be distilled from the current crises for planning education and research in developed and less developed countries?

This International Conference on Urban, Regional Planning is seek to know the answer of the question by providing forum for the presentation of new advances and research results in the fields of theoritical, experimental, and applied Urban, Regional Planning. The conference will bring together leading researchers, and scientists in the domain of interest forum around the domain of interest from around the world.

For more information, please visit the website: http://www.sappk.itb.ac.id/ppgc/

Call for Papers PDF Print E-mail

One of the most pressing issues affecting world population is the changing climate which has brought about detrimental impacts in water availability, agricultural production, pests and diseases as well as has created natural disasters in many parts of the world. Ironically, the changing climate is a product of modern civilization supported by capitalism. Although many nations have realized urgency of the situations, significant global actions to avoid environmental catastrophes with complex economic and social consequences have not been materialized yet.

When many nations are still navigating themselves in the alarming environmental situation, capitalismt world has been shaken by unexpected economic crisis originated from the US. Given the interconnected world economy, the crisis has bitten many parts of the capitalist world. Despite financial and economic stimulation implemented in many countries, recovery will unlikely to occur soon. Shrinking growth will reduce living standards. For developing countries, it might deepen poverty.

These crises have called for a greater attention of policy makers, scholars and concered communities. Furthermore, they require immediate and effective collaborative actions internationally and locally. Long term perpectives and short term solutions should be tailored and then implemented effectively. Although alternative solutions seem to be understood, effective collaborative global actions remain uncertain given significant conflicting interest among nations. This situation has endangered sustainable development, diming the prospect of poverty elleviation. It will affect development at the national, regional and local levels. Consequently, it has given rise to questions need to be addresed:

  • What is the prospect of our global environtment? Do we need to redefine sustainable development? Do we have alternatives for better environment? How can planning contribute to realization of the alternatives?
  • How can planning contribute to recovery from and adjustment to the current economic crisis as well as avoid unintended consequences of capitalist development in the future?
  • What are strategic planning agendas at the national, regional and local level for adjusting to the current global crises? How can the agendas be institutionalized to assure their realization? what lesson can be distilled from the current crises for planning education and research in developed and less developed countries?

This International Conference on Urban, Regional Planning is seek to know the answer of the question by providing forum for the presentation of new advances and research results in the fields of theoritical, experimental, and applied Urban, Regional Planning. The conference will bring together leading researchers, and scientists in the domain of interest forum around the domain of interest from around the world.

Topics of interest for submission include, but are limited to:


Track 1 : Global Crisis and Urban Development

Chair:

Track 2: Global Crisis and Metropolitan Areas

Chair: Assoc. Prof. Andre Sorensen (University of Toronto)

Track 3: Climate Change and Urban Design

Chair: Prof. Yukio Nishimura (University of Tokyo)

Track 4: Urban Land and Housing Development

Chair: Assoc. Prof. Sudaryono (Gadjah Mada University)

Track 5: Urban and Regional Governance

Chair: Dr. Teti Armiati Argo (Institut Teknologi Bandung)

Track 6: Climate Change and Coastal Urban Areas

Chair: Prof. Michael Leaf (University of British Columbia)

Track 7: Global Crisis and the Regional Development and Planning

Chair: Prof. Tommy Firman (Institut Teknologi Bandung)

Track 8: Infrastructure Planning in the Era of Crisis

Chair: Assoc. Prof. Johan Woltjer (University of Groningen)

Track 9: Urban and Regional Planning Tools

Chair: Dr. Ibnu Syabri (Institut Teknologi Bandung)

Track 10: Planning Finance in the Era of Crisis

Chair: Prof. Bambang Brodjonegoro (University of Indonesia)

Track 11: Global Crisis and Planning Theory

Chair: Prof. Gert van de Roo (University of Groningen)

Track 12: Global Crisis and Planning Education

Chair: Prof. Christopher Silver (University of Florida)

Abstracts and papers submitted will be directed to the track chair for initial selection.

Paper Submission PDF Print E-mail

Prospective author are invited to submiut abstract and references or full papers. Paper will be accepted only by electronic submission through the conference web site. Prospective authors are expected to present their paper at the conference.

Abstract or paper submission will be peer reviewed and evaluated based on originality, technical and/or research content/depth, correctness, relevance to conference. The accepted full papers will be published in conference proceedings. Prospective authors are kindly invited to submit full text papers including results, tables, figures and references. Full text papers (.doc, .docx, .rtf) will be accepted only by electronic submission.
Abstracts and papers submitted will be directed to the tract coordinator for initial selection. Do not send the abstract or paper to individual track coordinator, send only trough electronic submission.
PROCEEDINGS
The proceedings will be published prior to the conference in form of CD-ROM, and distributed to all registered participants at the conference.

< Prev Next >

Januari 20, 2009 Ditulis oleh perencanamuda | Umum | | No Comments Yet

National Geographic International Photo Contest 2008

National Geographic Indonesia mengundang Anda untuk ikut dalam lomba
ini. Karya pemenang pertama dalam kompetisi nasional di tiap kategori
akan diikutsertakan ke tingkat internasional.

Ketentuan Umum

Siapa yang boleh berpartisipasi?

Seluruh pembaca National Geographic Magazine, kecuali karyawan
National Geographic Society, keluarganya, dan pihak lain yang
berafiliasi dengan kontes ini.

Media

* Cetak berwarna atau hitam putih.
* Transparansi warna 35mm, kirimkan hasil cetakan.
* Transparansi asli dan negatif mesti tersedia agar foto pemenang bisa
dipublikasi.
* Karya dengan kamera digital diperbolehkan, minimal beresolusi 3,2
Megapiksel.
* Diperbolehkan mengirimkan foto dengan media yang berbeda-beda.
* Ukuran foto cetak diperbolehkan hingga 8X10 inci, jika hendak
mengirimkan foto cetak pastikan Anda memiliki negatifnya.
* Foto berbingkai (pigura atau “bingkai digital”) atau ditempel pada
kaca tidak akan diterima.

Kategori

Kontes dibagi menjadi 3 kategori: MANUSIA, ALAM, dan TEMPAT. Peserta
dipersilakan mengirim maksimal 3 foto untuk masing-masing kategori.
Jadi, jumlah maksimal foto yang boleh dikirim adalah 9.

Materi foto

* Foto yang dikirim tidak boleh berusia lebih dari 3 tahun, dan belum
pernah dipublikasi di mana pun.
* Entri harus menyertakan model release, jika mungkin (Wajib untuk
foto pemenang).
* Setiap peserta harus memiliki hak cipta atas setiap foto yang
disertakan dalam kontes ini. Pengiriman karya foto harus disertai
dengan formulir pendaftaran.
* Keterangan foto yang jelas atau deskripsi mesti dilampirkan di
formulir.
* Bubuhkan nama dan alamat Anda di belakang masing-masing foto cetak.
* Untuk menghindari kerusakan, paket harus dikemas sebaik mungkin
sebelum dikirim.
* Kirim ke alamat kantor National Geographic Indonesia.

Format digital

* Untuk foto dalam format digital, pengiriman karya bisa melalui
website http://fotokita.net dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Melakukan registrasi secara online. Untuk mendaftar, klik di sini.
Bagi pengguna website yang sudah menjadi member Foto Kita sebelumnya,
dianjurkan untuk kembali melakukan pendaftaran untuk kepentingan
teknis pengelolaan database.
2. Ikuti petunjuk pendaftaran.
3. Setelah mendaftar, Anda akan menerima email verifikasi yang berisi
password untuk menggunakan layanan Foto Kita.
4. Login dengan menggunakan username dan password Anda.
5. Setelah login, klik tab Kirim Foto di bagian menu atas. Isilah
boks-boks yang wajib diisi.
6. Untuk memilih kategori foto, silakan klik tombol dropdown di bagian
Kategori dan pilih kategori dengan awalan IPC 2008. Pilihlah kategori
sesuai foto yang hendak Anda kirim.
7. Jangan lupa centang boks “Persetujuan Layanan” sebelum mengklik
tombol Kirim Foto.

Keterangan: Foto Anda tidak akan muncul di galeri untuk keperluan
penjurian.

* Untuk keperluan penjurian, bersedia mengirim file asli apabila
diminta. Ukuran file maksimal 300kb.
* Dimensi terpanjang minimum 800 piksel dimensi terpanjang maksimum
1.000 piksel.
* Format foto JPEG. Juga diperkenankan mengirimkan file dalam bentuk
CD/DVD ke alamat NGI.
* Dodging dan burning diperbolehkan, tapi seminimal mungkin.
Penggunaan teknik ruang gelap digital hanya untuk membantu mengatur
kisaran tone dinamis dari sebuah foto agar mendekati kenyataan.
* Solarized, mezo-tinted, duo-tone, dan sejenisnya tidak
diperbolehkan.
* Mode hitam-putih diperkenankan.
* Pewarnaan tangan (hand-tinted): boleh, namun hanya jika peserta
berpengalaman.
* Pemotongan (cropping): boleh, seperlunya.
* Foto panorama sambungan (stitched panorama): boleh, namun hanya jika
potongan-potongannya dibuat pada timeframe yang relatif sama. Jangan
mengubah jarak fokal saat membuat foto sambungan. Dan peserta harus
menyebutkan (dalam keterangan foto) bahwa foto yang dikirim adalah
foto sambungan.
* Lensa mata ikan (fisheye): dipersilakan.
* HIGH DYNAMIC RANGE IMAGES (HDRI): boleh, tapi seperti panorama
sambungan, bagian yang dikombinasikan dibuat pada waktu yang sama.
Mohon dicantumkan dalam keterangan foto jika Anda mengirim foto HDR.

Batas waktu

Entri harus sudah dikirim selambatnya tanggal 13 Agustus 2008 (cap
pos, untuk foto cetak atau format CD/DVD). Penjurian Foto akan dinilai
berdasarkan kreativitas dan kualitas fotografis. Mohon tidak menelepon
atau mengirim email sehubungan status foto kiriman Anda. Pemenang
diumumkan lewat NGI edisi September 2008.

Perhatian!

Foto-foto yang sudah dikirim tidak akan dikembalikan.

Perjanjian umum

* Dengan mengirimkan foto, berarti peserta secara otomatis menerima
segala kondisi sebagaimana yang tercantum dalam ketentuan di atas.
* Entri yang tidak sesuai dengan ketentuan akan didiskualifikasi.
* Setiap peserta harus menjamin bahwa publikasi semua foto oleh
National Geographic Magazine tidak akan memunculkan masalah hukum.
* Para pemenang setuju untuk mengizinkan National Geographic Society
memublikasikan foto-foto mereka dalam bentuk cetak atau elektronik
untuk edisi-edisi NGM ke depan atau produk-produk Society, dan untuk
menggunakannya dalam iklan dan tujuan-tujuan promosional, secara
cuma-cuma.

Alamat Pengiriman

National Geographic Indonesia
Gedung Gramedia Majalah Lantai 6
Jl. Panjang 8A Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11530

Hadiah Tiap Kategori

Juara 1: Uang tunai Rp. 6.000.000,- + trip Bali-Lombok dengan kapal
Pinisi PP, + keikutsertaan karya dalam babak final National Geographic
International Photo Competition 2008 beserta pemenang dari 30 negara
lainnya.

Juara 2: Uang tunai Rp. 4.000.000,-

Juara 3: Uang tunai Rp. 2.000.000,-

info lbh lanjut di http://fotokita.net/fk/ipc-2008/

Agustus 7, 2008 Ditulis oleh perencanamuda | Umum | | No Comments Yet

Climate Resilient Cities

Climate Resilient Cities – www.worldbank.org/eap/climatecities

A Primer on Reducing Vulnerabilities to Climate Change Impacts and Strengthening Disaster Risk Management in East Asian Cities

titles-climateresilient
highlight-climate-primer
Press release

Full report (4.7mb pdf)

Executive Summary (197kb pdf)

Primer Brochure (493kb pdf)

Figures from the report
Self-assessment tool: discovering a hotspot
City Profiles
Launch and Workshop
Selected References
Contact:

Elisabeth Mealey

E-mail: emealey@worldbank.org

Tel: +1-202-458-4475

July 2008 - Climate change is no longer a distant possibility but a current reality. Loss from flooding and hurricanes is an all too frequent occurrence in many countries in the Region, particularly in cities where people and assets are concentrated. Urban centers must be prepared with specialized tools to deal with climate change impacts and early warning systems.

Moreover, given the potential devastation associated with future climate change-related disasters, it is vital to change the way we build and manage our cities, which account for 80 percent of greenhouse gas emissions today.

Now is the time for policymakers to take an integrated look at reducing vulnerabilities to
climate change and other natural disasters in a comprehensive disaster management system.

This Primer is a tool for city governments in the East Asia Region to better understand how to plan for climate change impacts and impending natural disasters through sound urban planning to reduce vulnerabilities.

It gives local governments information to actively engage in training, capacity building, and capital investment programs that are identified as priorities for building sustainable, resilient communities.

Agustus 7, 2008 Ditulis oleh perencanamuda | Umum | | No Comments Yet

Call for proposals Erasmus Mundus External Cooperation Window (EM ECW)

Dear All,

Please be informed that the calls for proposal for Erasmus Mundus External Cooperation Window (EM ECW) Asian Region was published on the EACEA website and it is now available at:  http://eacea. ec.europa. eu/extcoop/ call/2007/ call_asia_ region_en. html

EM ECW aims at mutual enrichment and better understanding between the European Union and Third-Countries, through the exchange of persons,knowledge and skills at higher education level.  EM ECW provides opportunity to enhance the international cooperation capacity of universities in third-countries by facilitating transfer of know-how and good practices in the field of student and academic staff mobility, promote cooperation between sending and hosting institutions, thus mutually enriching the educational environment of both the hosting and sending institutions in the European and Third-countries.

The deadline for submission of applications is October 31, 2008. Between the publication of this call for proposals and the deadline for submission of applications, a “Frequently Asked Questions” (FAQs) section will be available on the following internet page(s): http://eacea. ec.europa. eu/extcoop/ call/index. htm

I would appreciate it if you could forward this information to higher education institutions of your network.

Kind regards,

Destriani NUGROHO
Project Officer

Development Section
Delegation of the European Commission
to Indonesia and Brunei Darussalam
Intiland Tower, 16th floor (ex-Wisma Dharmala Sakti)
Jl. Sudirman 32 – JAKARTA 10220

Tel:  (+62 21) 2554 6200 (central) ext. 245
Tel.: (+62 21) 2554 6245 (direct)
Fax: (+62 21) 2554 6201
Web:
http://www.delidn. ec.europa. eu
Asia Link Symposium, Jakarta, 31 October 2008
European Higher Education Fairs, Jakarta 1-2 November, 2008
Web: http://www.ehefs. org/web

Agustus 6, 2008 Ditulis oleh perencanamuda | Umum | | No Comments Yet

PROGRESIVITAS DUNIA PERENCANAAN

Di malam 12 juni 2008, beberapa alumni planologi muda (sekitar 20an orang) dari ITB berkumpul di satu sudut cafe di bilangan sudirman. . Latar belakang dari masing-masing individu yang berkumpul berbeda-beda, mulai dari Pegawai Negeri, Konsultan Perencana Ruang, konsultan di lembaga internasional, konsultan properti, peneliti, dan lain sebagainya. Orang-orang tersebut berkumpul dengan berbagai alasan dan motif yang berbeda-beda, akan tetapi semuanya didasari oleh sebuah kegelisahan terhadap apa yang terjadi saat ini di dunia perencanaan, terutama apa yang terjadi di kalangan perencana muda

Dunia perencanaan wilayah sebenarnya bukan sebuah disiplin ilmu yang lama di Indonesia. Kita bisa katakan tonggak profesi perencanaan adalah ketika Sekolah perencanaan pertama dibuka di tahun 1959 di Bandung. Seiring berjalannya waktu, dunia perencanaan mengalami berbagai dinamika yang mewarnai lulusan dari masing-masing sekolah perencanaan. Lahirnya UU Penataan Ruang pada tahun 1992 (43 tahun setelah sekolah perencanaan berdiri), Era dsentralisasi yang memperkuat posisi Pemda terhadap Pusat, gelombang partisipasi masyarakat setelah era reformasi. Yang terakhir adalah keluarnya UU Penataan ruang yang baru, UU 26/2007, yang secara tidak langsung menentukan arah perkembangan profesi perencanaan.

Ratusan bahkan ribuan tenaga perencanaan telah lahir dari berbagai sekolah perencanaan di Indonesia. Alumni sekolah perencanaan telah tersebar di berbagai macam bidang pekerjaan. Lulusan-lulusan sekolah perencanaan pun telah mengisi berbagai level di profesi perencanaan, tidak hanya didominasi oleh satu atau dua sekolah perencanaan saja.. seharusnya dengan gambaran tersebut, maka dunia perencanaan menuju ke arah yang lebih baik.

Akan tetapi, beberapa perencana muda yang hadir pada forum 12 Juni tidak sependapat.. mereka yang hadir merasakan kegelisahan terhadap masa depan dunia perencanaan. Perencanaan wilayah dan kota telah berubah menjadi sebuah bidang yang tidak menarik, tidak berkembang, membosankan, tidak menantang dan tidak ramah terhadap para perencana muda. Atau dengan kata lain dunia perencanaan wilayah menjadi sebuah bidang yang kurang seksi di tengah era globalisasi saat ini.

Beberapa pemikiran yang mencuat dari diskusi di malam itu (kalo boleh saya simpulkan ), sebagai berikut ;

  1. di level alumni muda, terdapat sebuah keputusasaan dari produk rencana yang di susun. Banyak yang merasa berkiprah di dunia perencanaan tidak memberikan arti banyak bagi pengembangan ruang itu sendiri. Karena produk-produk rencana yang di susun ternyata tidak mampu untuk diimpelementasikan sebagai sebuah produk nyata dalam mengembangkan ruang, entah itu di level Kota, Kabupaten, Provinsi atau Nasional. Kondisi dimana penyusunan produk ruang semata-mata sebagai sebuah proyek semata, menimbulkan pesimisme di kalangan para alumni muda yang menyebabkan mereka berlomba-lomba untuk keluar dari dunia perencanaan ruang. Fenomena ini sebenernya sesuatu yang lumrah terjadi di setiap bidang keilmuan. Akan tetapi apabila hal ini berkelanjutan, maka tentunya dapat dibayangkan sedikitnya alumni sekolah perencanaan yang berkecimpung di dunia perencanaan. Tentunya secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas perencanaan itu sendiri.
  2. Selain dari kondisi di atas, ternyata masih ada sebuah ”kerinduan” dari para alumni sekolah perencana terhadap dunia perencanaan ruang. Aktivitas di luar dunia perencanaan ruang tidak semata-mata membuat mereka tidak perduli terhadap apa yang terjadi di dunia perencanaan. Kebutuhan sebuah media di luar rutinitas pekerjaan dimana mereka dapat berdialog mengenai apa yang terjadi di dunia perencanaan. Sebuah media dimana ”planning can be fun”. Media dialog yang pada akhirnya dapat memperkaya dunia perencanaan tanpa harus berkontribusi langsung sebagai perencana ruang.
  3. Adanya perubahan dalam struktur-budaya masyarakat, perubahan peran birokrasi, dan iklim bisnis dan democratisasi yang memberikan peluang bagi perencanaan untuk berkiprah lebih jauh mengisi ruang-ruang publik.
  4. Potensi-potensi para alumni muda sekolah perencanaan saat ini tersebar ke berbagai bidang dan penjuru nusantara. Berbagai prestasi pun diraih. Akan tetapi hal ini belum terkonsolidasi dengan baik. Sehingga prestasi yang muncul ada prestasi individu dan bukan prestasi komunitas dunia perencanaan. Apalagi dengan kondisi feodalistik masyarakat Indonesia yang melihat komptensi seseorang berdasarkan umur, tidak memberikan kesempatan yang luas bagi perencana muda untuk mengekspresikan inovasi dan kreativitas mereka ke publik. Bahkan ada sebuah anggapan yang mengatakan ”alumni planologi yang terkenal ke publik bukan dikenal sebagai seorang alumni planologi”. Dibutuhkan konsolidasi potensi dari para alumni sekolah perencanaan dalam usaha untuk membuat dunia perencanaan ”GO PUBLIC”. Ekspose terhadap karya-karya nyata yang dibuat oleh alumni-alumni sekolah perencanaan di berbagai bidang diharapkan mampu untuk meningkatkan citra perencana di masyarakat.

Dari sedikit persoalan yang berhasil di ekspose oleh rekan-rekan yang berkumpul, terbersit keinginan untuk membentuk komunitas dimana alumni muda sekolah perencanaan dapat berkomunikasi, berdialog, konsolidasi inovasi, bertukar informasi dan fungsi lain yang mampu melakukan mediasi kepentingan perencana muda.

Beberapa pendapat mengenai Komunitas perencana muda yang hendak digagas adalah

  1. Komunitas perencana muda tidak semata-mata membatasi diri pada usia atau umur kelulusan semata. Akan tetapi harus dapat mewakili ide-ide progressif dunia perencanaan. Komunitas yang ada mampu mewadahi dan memancing inovasi-inovasi baru dalam dunia perencanaan. Komunitas ini diharapkan mewakili ide-ide progresif yang ada dan tentunya menginformasikan ke masyarakat.
  2. Perlu dibuat sebuah konvensi mengenai anggota komunitas. Apakah alumni sekolah perencanaan ataukah orang yang berkecimpung di dunia perencana ruang semata. Di akhir diskusi hal ini belum kunjung terjawab.
  3. Perlunya mengajak oerencana-perencana muda bukan hanya dari satu sekolah perencanaan saja. Akan tetapi perlu diperluas ke alumni dari sekolah perencanaan lainnya di penjuru nusantara.
  4. forum mampu menjadi ruang berpikir dalam meningkatkan kepedulian terhadap kondisi sekitar, termasuk isu2 di dunia perencanaan
  5. Komunitas yang ada diharapkan dapat lebih ”seksi” dari sekedar kumpul2 formal ala organisasi birokratik. Bentuk hubungan peer to peer dikedepankan dari sekedar organisatorik semata. Salah satu ide adalah membuat pertemuan rutin untuk mendiskusikan hal2 yang bersifat kontemporer dan tidak hanya berhenti pada isu perencanaan. Dalam hal ini inisiatif dari setiap anggota komunitas sangat diharapkan…

Malam itu diakhiri dengan berbagai perasaan di masing-masing individu yang hadir. Optimis, pesimis, tercerahkan, bingun dan lain sebagainya. Diharapkan perasaan-perasaan tersebut dapat membentuk sebuah kekuatan untuk bergerak bersama dalam perbaikan dunia perencanaan, dimana orang-orang muda dan ide-ide segar menjadi ”backbone” dari gerakan tesebut.

Keberadaan komunitas ini diharapkan mampu menyegarkan dunia perencanaan dengan ide-ide baru, orang-orang baru, inovasi-inovasi baru. Komunitas yang mampu menjadi solusi bagi dunia perencanaan.

Jalannya masih panjang…

Kita tunggu bagaimana kiprah komunitas ini selanjutnya….

-Catur-

Juni 24, 2008 Ditulis oleh perencanamuda | Opini, Umum | , , | & Komentar