Urban development: What to do and what can we expect?

Delik Hudalah and Tommy Firman
Published in the Jakarta Post, 12/20/2010, Review & Outlook 2011 suplement

City or urban areas, places where human activities are concentrated, significantly contribute to national economic achievements.

Indonesia has about 99 autonomous/administrative cities (kota) and nearly 400 regencies (kabupaten), most of which largely consist of rural areas.

The cities contribute 40-50 percent of Indonesia’s gross domestic product (GDP) (Samiadji, 2006). Urban areas also play a strategic role in improving the national fiscal performance, as a substantial amount of the state budget (APBN) is collected from taxes paid by companies and individuals who mostly reside in urban areas.

The role of urbanization in national economic development is widely recognized. However, it is important to investigate whether this trend is sustainable.

Do the benefits of urban development trickle down to other parts of the country, especially rural and poorer regions? Can urbanization in Indonesia meet the inevitable challenges of climate change and globalization?

If we look at the trend more closely, it seems that major urban development projects in Indonesia are largely market driven and are carried out without clear shared visions. The government can make beautiful plans, on paper. Nevertheless, in many cases it is the private sector that decides whether the plans are realized.

In practice these plans cannot lead development. In fact, the plans have become the true followers of the market — partly because the rule of law is weak.

There have been many cases in which plans could be revised arbitrarily to meet private developer’s desires of creating exclusive residential estates or new towns in conservation and water catchment areas.

The role of the private sector is very decisive in determining the direction of urban growth and expansion.

In addition, many key actors in urban development, beyond private companies, tend to be marginalized. When it comes to conflicting strategic projects, community leaders and organizations, NGOs, academics and other key actors are not involved in strategic phases of the decision making process.

In short, the market effectively rules over urban development and local people are forced to become spectators.

Private developers tend to be inward looking and opportunistic in their behavior. This results in fragmentation of urban development, especially in suburbs. Many housing development projects are not supported by necessary urban infrastructure and facilities. Different projects are not well-connected with each other. The rich are isolated and increasingly segregated from the poor.

Given these conditions, urban development in Indonesia currently faces a multitude of problems. At the regional scale, the competitiveness of Indonesian cities is lower than other major cities in Southeast Asia.

This is because urban development in Indonesia occurs spontaneously and is not supported by integrated infrastructure and amenities.

As an illustration, the Mercer 2010 Cost of Living Survey ranks Jakarta among the most expensive cities in the world. Expatriates in Jakarta have to spend more money to cover housing, transport, food, clothing, household goods and entertainment for standards found in Bangkok and Kuala Lumpur.

At the national scale, urban development is increasingly concentrated around large or metropolitan cities, especially Jakarta, Surabaya, Bandung, and Medan.

The current sectoral policy tends to be urban-biased, focused on infrastructure development in large cities in Java, especially Jakarta, instead of medium sized cities. The maintained urbanization of economies in Java encourages most investors to concentrate on these cities.

This development gap has created a huge economic disparity between large and small cities. Statistical figures imply that 30 percent of the national GDP comes from the 14 largest cities. It is also revealed that 50 percent of national revenue is abstracted from these largest cities alone.

At the local level, most of these cities cannot provide good basic services for their citizens. Traffic gridlock is a daily problem for major cities in Indonesia. This is due to the uncontrolled number of vehicles and limited capacity of local government to build new roads.

More importantly, public transportation is poorly managed and has not been given priority by most local governments. As the result, public transportation has become a source of, instead of a solution to traffic problems.

Green open spaces in major cities, especially in Java, is also lacking. In Jakarta, for example, the proportion of green open space is 9.6 percent. Bandung municipality can only dedicate 8.8 percent of its total area for green open space.

This means the cities have not been able to meet the spatial planning law requirement to allocate at least 30 percent of their total area for green open space.

In addition, with more than 17,000 islands, most major Indonesian cities are located in coastal zones. Most of these cities, including Jakarta, have not prepared to face the pressing challenges of climate change, such as rising sea levels, extreme weather and rising temperatures.

In fact, excessive urban development and uncontrolled use of ground water have increased both the occurrence and impacts of disasters, including floods, sea induced floods and land sinkage.

Urbanization is inevitable, especially in a developing country such as Indonesia. The question is, can we handle it? In order to meet the current and future demands to create more sustainable, livable and competitive cities, urban development in this country has to be more balanced.

Urban development needs to be encouraged in small and medium cities, especially outside Java. At the local level, provision of basic services, such as public transport, green spaces and flood control, should be prioritized.

Besides, urban governance, including metropolitan management and inter-local cooperation, should be strengthened to face urban development issues that are becoming increasingly more complex.

Bencana dan Gagalnya Politik Tata Ruang

Bencana tanah longsor di perkebunan teh, Desa Tenjolaya, Kabupaten Bandung, bagaikan puncak gunung es dari beberapa kejadian musibah pada musim hujan, tahun ini. Provinsi Jawa Barat adalah yang paling parah, dengan banyaknya peristiwa bencana di wilayah ini.

Sebelum kejadian longsor di Tenjolaya, lebih dari satu minggu bencana banjir melumpuhkan kehidupan masyarakat di wilayah Bandung Selatan. Ada pameo yang menarik di wilayah ini: Bandung Utara dibangun, Bandung Selatan tenggelam, semakin tinggi rumah dibangun di atas bukit, semakin tinggi air menenggelamkan rumah di bawahnya. Fenomena kejadian bencana seperti ini hampir merata terjadi di seluruh wilayah Tanah Air. Musim hujan seperti identik dengan datangnya musim bencana.

Bencana adalah pebuktian terjadinya kegagalan politik tata ruang dalam menjaga dan melindungi fungsi ekosistem lingkungan. Infrastruktur kekuasaan di level nasional, provinsi, dan daerah seperti tak mampu untuk sepenuhnya menjalankan amanat penyelenggaraan penataan ruang seperti yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007. Fungsi negara untuk memberikan perlindungan kepada penduduk dari ancaman bencana banjir, rob, longsor, penyakit, dan kerusakan lingkungan sering terbentur pada belenggu koordinasi dan egoisme sektoral serta kepentingan otonomi daerah.

Negara telah gagal untuk menyejahterakan warganya, bahkan akibat kelalaian dari fungsi kekuasaan politik di bidang tata ruang, justru wargalah yang harus menjadi korban. Kekuasaan untuk menindak, menghentikan, melarang, dan mengingatkan tidak sepenuhnya dijalankan . Pembiaran alih fungsi hutan, alih fungsi lahan pertanian, serta mudahnya perizinan di kawasan lindung dan resapan air terjadi merata di setiap wilayah kota dan kabupaten.

Dalam menjalankan fungsi kekuasaan politik tata ruang, pemerintah daerah sering bertindak dalam kekaburan pemahaman. Tata ruang dilihat sebatas dari lengkap atau tidaknya dokumen rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan peraturan daerahnya. Sementara itu, untuk menetapkan siapa yang harus menjalankan aturan dan bagaimana peran kelembagaan yang paling bertanggung jawab tidak jelas.

Penyelenggaraan penataan ruang saat ini hanya bersifat koordinasi, dan peran serta fungsi dari badan koordinasi saat ini tidak optimal. Tumpang tindih aturan antara kepentingan, sektor, pusat dan daerah, berimplikasi pada mekanisme lempar tanggung jawab jika ditemukan adanya penyimpangan atau bencana akibat penyalahgunaan kewenangan.

Hambatan institusional

Politik tata ruang gagal dijalankan akibat hambatan institusional dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang penataan ruang. Hambatan masalah internal dan eksternal tercermin dalam wujud intensitas peningkatan bencana yang makin bertambah parah. Secara internal, banyak institusi lokal sejak awalnya tidak siap untuk menjalankan peran politiknya dalam mengatur tata ruang di daerah.

Pemahaman mengenai aturan-aturan yang sangat rasionalitas dan komprehensif dalam tata ruang masih sangat lemah sehingga motivasi dalam menjalankan aturan pemanfaatan dan pengendaliannya juga rendah. Itu ditambah dengan kapasitas sumber daya manusia yang juga tidak cocok untuk menjalankan kemampuan peran politiknya. Lemahnya kapasitas ini membuat posisi tawar dalam mengambil keputusan jadi tak berdaya ketika berhadapan dengan kepentingan pemilik modal atau pemilik kekuasaan yang lebih besar.

Secara eksternal, ruang partisipasi politik masyarakat sebagai subyek utama ”pemanfaat ruang” belum tertata. Akses politik warga sering tidak berjalan karena kemampuan interaktif sangat lemah dari masyarakat dan para pengelolanya. Komitmen politik untuk melakukan kerja sama menjaga lingkungan belum banyak tercipta. Jika pun ada, hanya sebatas ritual politik pada aksi-aksi seremoni. Sementara itu, jika berhadapan pada sisi kepentingan ekonomi yang lebih besar, terjadi pelunakan sikap oleh penguasa wilayah atau institusi lokal dengan memberikan fasilitas-fasilitas tertentu yang tidak sesuai dengan ketentuan tata ruang. Sanksi tidak dapat dijalankan sebab mekanismenya hingga kini belum tersusun secara sempurna.

Secara pencitraan, politik tata ruang saat ini adalah negatif. Segala bentuk kejadian bencana alam diidentikkan dengan kegagalan menjalankan fungsi penyelenggaraan tata ruang. Citra penataan ruang harus dipulihkan. Salah satu cara adalah dengan penguatan fungsi dan peran kelembagaan yang jelas dan tegas kewenangannya agar masyarakat dapat percaya akan kemampuan institusi lokal dan nasional untuk mampu mengatasi dan mencegah bencana serta kerugian jiwa dan material yang telanjur semakin menyengsarakan warga.

Yayat Supriatna Pengajar Masalah Tata Ruang di Teknik Planologi– Universitas Trisakti

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/01/04260379/bencana.dan.gagalnya.politik.tata.ruang


Why do we need to redo Jakarta 2010-2030 Spatial Masterplan through a participatory process?

by Marco Kusumawijaya, 06.02.2010

IMG_0239

Jakarta needs its people.

That is the simple but fundamental argument to redo Jakarta 2010-2030 Spatial Masterplan through a participatory process. Jakarta needs its people to own the plan so that they will participate in implementing it willingly. Participation builds a strong link called “ownership” between making and implementing a plan. They can only do so if they participate in the making of basic strategic options and decisions. This means deployment of a true participatory process that goes beyond passive “consultative participation” where people are merely asked their opinions about options and decisions that have been made or predetermined by others, usually the bureaucrats and their consultants.

Judging from its content, the draft bylaws (RAPERDA) on the Spatial Masterplan Jakarta 2010-2030 clearly shows that Jakarta needs its people not only for their aspiration, but also for their inspiration, information, knowledge and know-how.

A coalition of citizens, just after a couple of weeks scrutinising the draft bylaws, easily discovered many disturbing mistakes, from repeated typo’s, misleading projection of population growth (as it is based on raw aggregated trend), to mis-use of floor area standards as land area standards. It is unbelievable that a capital of this great nation is taking so lightly and irresponsibly this rare opportunity of spatial masterplanning to reverse its downturn. Four other world cities are currently taking masterplanning process seriously as a one-time opportunity to fix their long outstanding problems as well as to respond to immediate future challenges such as climate change, sustainability and global competitiveness. They are Sydney, Melbourne, London and New York City, that have just completed its plan for 2030. Their qualities are by far incomparable to Jakarta’s. They are all participatory in process and the results are SMART (Specific, Measurable, Attainable, Relevant and Time-bound), which is not the case with Jakarta’s. New York City and Sydney employed the same Jan Gehls, a senior architect that in the past 40 years has been influential in the making of pedestrians- and cyclists-friendly Copenhagen.

The most primary of all, the “vision” of Jakarta, has been formulated as “a service city that is comfortable, prosperous and sustainable”. There is no record about how it was formulated and on what grounds, be it people’s aspiration or Jakarta factual potencials. Those words are heavily loaded, cannot be treated lightly, because they can mean different things to different people. For example, for many people, inner city toll roads are certainly not “sustainable”, and yet the government is going ahead with them. MRT, for which a corporation has been founded, is indicated differently vaquely in several versions of the draft bylaw, which had been revised at least 5 times in the last couple of weeks, with the early ones were not even dated properly. Visioning could have been a participatory process to forge concensus and ownership.

Our contemporary world is such that production of knowledge is no longer concentrated only in a handful of consultants and university professors. A staff in an international NGO, for example, can access and analyse the whole globally available knowledge, as much as a university professor can do.  A well-travelled business man would have known more cities in the world to compare with Jakarta than a buraucrat, even if he/she have gone for many wasteful “comparative study trips”.  It is truly amazing how the city’s authority does not want to care about the different imaginations the city’s population migh have, given the contemporary democratisation in knowledge production and critical analysis, and that all those need to be accomodated and negotiated during masterplanning process, not afterwards.

Jakarta Spatial Masterplan 2010-2030 is a long-term plan. It is a generation’s chance, only once in 20 years. It will outlive many politicians’s career. Therefore, they cannot just decide on it by themselves. They need to ask the people. In fact, if  “we cannot ask the people on the street”—as many bureaucrats, including the governor, have often said—we’d better not plan at all! It is impossible not to ask the population about choices that determine their and their children’s futures. It is a must, not an option. We should do our best to invent ways to conduct it properly. The fact that many bureaucrats and consultants are not used to it and do not have sufficient skills about it, does not justify negligence. Many citizens are willing to “help” the government to do that, because they really want to feel to own the plan and the city.

In fact, a structured participatory process is not really that difficult to conduct even at large scale planning such as for a metropolis like Jakarta.  There are techniques and technologies that can be used to design a structured and phased participatory process. Different forms of meetings –large and small focus groups discussions, opinion surveys, facilitated questionaires—can be employed to formulate and decide on differet levels of issues. It is not that “we just go out and ask the men on the street”.

In the 30 years of modern history of  city planning in Indonesia no city has really got better because of its plan . Most got worsed. Implementation is often blamed for the failure of planning, which is often defended by the expression that “the plan is fine, it is the implementation that is bad”. The truth is that a good plan should include a good workable implementation strategy. One cannot blame imlementation without blaming the planning approach, which has two basic faults. First, it has not been participatory enough to develop sense of ownership that would encourage popular support in implementation. Secondly it has never been SMART and transparant enough, which made it easy to corrupt.  These are all understandable under the New Order. But, should we not continue our reform movement to touch our city planning approach?

Obviously, the hardest and most bitter pill to swallow is that Jakarta can only reverse its downturning process if we change its planning approach. We are going nowhere with business-as-usual attitude, and without a courage to make fundamental changes in its planning approach. Indeed, a participatory process is a new way of building city. The old ways have failed, at least will not be able to respond properly to immediate and future problems. Jaime Lerner, a former mayor of Curitiba, knows that, and often said in different formulation, that buidling a city is building its society. We cannot just copy the result. We need to exercise a participatory process to come out with authentic solutions unique to Jakarta. Citizens are ready and aspiring to it. Why not the government? Where is the leadership?

By Marco Kusumawijaya and Elisa Sutanudjaja.

Published in different version in The Jakarta Post.

Related article: http://www.thejakartapost.com/news/2010/02/06/the-flawed-2030-jakarta-spatial-plan.html

TARU UNTUK PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PU


Sumber :www.pu.go.id

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto menegaskan, Rencara Tata Ruang (RTR) mendukung pertumbuhan ekonomi dengan memperhatikan sumber daya alam, kondisi geologi dan geografis serta kondisi alam suatu kawasan. RTR penting agar ruang di Republik Indonesia menjadi lingkungan yang aman, nyaman untuk ditempati, produktif untuk berbisnis dan berkelanjutan.

Demikian disampaikan Menteri PU Djoko Kirmanto dalam Public Corner di Metro TV, Rabu (26/8).

Tata Ruang adalah wujud atau potret nyata suatu wilayah. Dalam perkembangannya, Rencana Tata Ruang (RTR) diharapkan dapat menjadi landasan pembangunan di berbagai sektor.

“Bicara tata ruang pastinya bicara bagaimana membuat tata ruang yang baik dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan. Dengan memperhatikan kondisi alam dan daya dukung lingkungan,” ucap Djoko Kirmanto.

RTR tersebut diharapkan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah melalui pembuatan dan penerapan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi, RTRW Kabupaten/Kota. Dengan UU Penataan Ruang No 26 Tahun 2007, saat ini Pemerintah sudah menyusun Peraturan Pemerintah (PP) dengan mengacu pada RTRW Nasional dengan skala 1 : 1.000.000.

RTRW adalah suatu pertimbangan kuat untuk membuat RTR dengan memperhatikan kondisi alam. Dicontohkannya, untuk membuat RTRW DKI Jakarta harus dilihat kondisi alam apakah merupakan daerah bencana. Kemudian daya dukung alam seperti kondisi geografis dan geologi. Jika tidak diperhatikan, akan kesulitan dalam membangun inftastruktur di Jakarta.

Terkait dengan masih banyaknya pelanggaran tata ruang di hampir seluruh daerah di Indonesia, Djoko mengatakan masih kurangnya ketegasan dan kesadaran Pemda dalam pemberian ijin pemanfaatan lahan dan  pembangunan.

“Pembangunan mall dan industri di daerah kawasan lindung dan permukiman masih terjadi. Pemda masih kurang tegas dalam hal pemberian ijin pembangunan. Padahal ijin bangun itu merupakan kunci terciptanya tata ruang yang baik,” sebut Menteri PU.

Lebih lanjut Djoko Kirmanto mengatakan, Pemerintah Pusat tidak perlu mengatur Pemda untuk menumbuhkan kesadaran dalam hal perijinan. Selain itu, Pemda tidak perlu diawasi Pemerintah di atasnya. Jika pemda ingin membuat masyarakat sejahtera, harus berusaha semaksimal mungkin dengan meyusun RTRW yang baik dan menerapkannya.

Pembangunan proyek besar walaupun RTR sudah dibuat tetap harus diawali dengan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Hal itu untuk lebih meyakinkan bahwa tidak ada dampak negatif terhadap lingkungan sekitar yang dapat berakibat buruk bagi lingkungan dan generasi selanjutnya.

Sanksi  baik administrasi, perdata maupun pidana berlaku bagi pemberi ijin membangun dan yang membangun. Sanksi pidana mencapai hukuman penjara selama 15 tahun dan denda Rp 5 miliar jika suatu pembangunan menyebabkan korban jiwa. (ind)

Pusat Komunikasi Publik

270809

RAKORNAS IAP 2009

Tanggal : 16 Mei 2009 WIB
Judul : RAKORNAS IAP 2009
Sumber : Direktur Eksekutif
Pada tanggal 15 – 16 Mei 2009, IAP telah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang dihadiri oleh Pengurus Nasional IAP dan 16 Pengurus Daerah IAP dari seluruh Indonesia.
Sesuai dengan namanya Rakornas ini dimaksudkan sebagai ajang koordinasi antara pengurus nasional IAP dan segenap PD IAP dalam rangka meningkatkan soliditas dan kinerja organisasi secara keseluruhan.
Rangkaian acara rakornas dimulai dengan penyelenggaraan Executive Forum : Evaluasi 2 Tahun Implementasi Undang-Undang Penataan Ruang. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan program PN IAP, BSP IAP dan pemaparan serta update kegiatan IAP di masing – masing daerah IAP.
Pada Rakornas ini disepakati beberapa hal yang akan menjadi concern organisasi dan akan menjadi agenda IAP, yaitu :

1. Pengurus Nasional IAP harus memfasilitasi media dan secara proaktif meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan Pengurus Daerah IAP

2. IAP perlu untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Percepatan Implementasi UU Penataan Ruang

3. IAP perlu untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kontribusi profesi terhadap public secara luas

4. Pengurus Daerah IAP diharapkan untuk lebih aktif dalam menyelenggarakan kegiatan, pelayanan terhadap anggota serta pengembangan profesi di daerah

5. Penyelenggaraan Kongres Luar Biasa IAP dengan Agenda Revisi AD-ART IAP yang akan diselenggarakan pada Bulan Juli 2009 di Semarang, Jawa Tengah.
Pengurus Nasional agar mensosialisasikan draft revisi AD-ART ke seluruh daerah

Setalah melalui rangkaian diskusi dan rapat, kegiatan rakornas hari kedua diisi dengan kegiatan Off-Road dengan menggunakan 6 Mobil Land Rover ke daerah Cikole Lembang, workshop organisasi, makan siang dan acara kemudian ditutup oleh Ketua Umum ditengah hutan diiringi oleh lembutnya semilir angin di pegunungan Lembang.

” KOTA – KOTA INDONESIA RAWAN BENCANA, MEMBANGUN SUDAH SAATNYA PERHATIKAN PERENCANAAN KOTA “

Tanggal : 31 Maret 2009 WIB
Judul : PRESS RELEASE IAP TERKAIT BENCANA SITU GINTUNG
Sumber : Direktur Eksekutif

Bencana jebolnya tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Kota Tangerang Selatan dengan korban yang sangat banyak mencerminkan sebuah fenomena perkembangan pembangunan kota yang tidak terkontrol (over development), lemahnya mekanisme pemeliharaan fasilitas publik serta pelanggaran terhadap proses dan produk rencana tata ruang.

Menyikapi perkembangan megapolitan kota-kota di Indonesia dan kerawanan kota akibat bencana alam, kebanyakan pihak masih belum mengerti mengenai berbagai resiko yang dihadapi setiap kota di Indonesia. Dalam kondisi ekstrim, keselamatan jiwa, hak milik dan property, infrastruktur, layanan umum, kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat semua terancam resiko dampak bencana. Ancaman ini diperparah dengan kondisi yang sudah buruk dalam hal jumlah penduduk yang terlalu besar, layanan umum yang buruk, ketersediaan dana terbatas dan ketidakmampuan tata kelola (governance).

”Pemerintah kota dan para perencana kota harus segera mempertimbangkan proses dan tata kelola kota yang terencana, dan bukan atas ”pesanan” (by order). Hal ini akan menjadi agenda penting dalam proses rencana maupun dalam proses politik penyusunan perda tentang rencana tata ruang serta proses sosialisasi kepada masyarakat ” Ungkap Ir. Bernardus Djonoputro, Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP).

Alih fungsi lahan tanpa sesuai dengan peruntukan di Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sering terjadi karena benturan dengan kepentingan ekonomi maupun pemodal. Kejadian ini sebenarnya sudah sering terjadi, namun pembelajaran Pemerintah Pusat maupun Daerah, para pengambil kebijakan maupun elemen masyarakat untuk mengantisipasi hal ini terlihat kurang atau lamban.

Dengan maksud untuk mencegah hal yang serupa terjadi lagi, maka Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) menyatakan :
1.Masyarakat dan pemerintah setempat untuk mulai memperhatikan urgensi dari eksistensi suatu Produk Tata Ruang dan bukan hanya sebagai produk formalitas saja.

2.Keberanian dan ketegasan untuk menguatkan Law Enforcement yang tegas bagi setiap pelanggaran implementasi rencana guna lahan maupun produk-produk rencana tata ruang.

3.Perlu adanya proses evaluasi terhadap Produk Rencana Tata Ruang dan implementasi Rencana Tata Ruang di seluruh kawasan rawan bencana di perkotaan. Rencana dan peraturan zonasi (Zoning Regulation) untuk setiap kawasan situ sebagai instrumen perencanaan dan pengendalian tata ruang kawasan situ.

4.Perlu adanya Law Enforcement yang tegas bagi setiap pelanggaran terhadap rencana tata ruang sesuai dengan aturan dan sanksi yang telah ditetapkan dalam UU No 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.

Perencana sebagai garda terdepan proses perencanaan kota, harus segera mengadaptasi dan memasukan faktor ini sebagai masukan rencana infrastruktur, proses tata kelola dan tentunya kalkulasi cost-benefit dari setiap scenario pembangunan. Standar-standar dan riset baru harus diarahkan kepada peningkatan kapabilitas perencana dalam mengantisipasi hal ini.

“Perencanaan bagi perubahan untuk mengikuti pertumbuhan ekonomi maupun dampak perubahan iklim global adalah tugas bersama pemerintah kota, perencana dan masyarakat, dan perlu mempertimbangkan perhitungan respons terhadap kemungkinan bencana. IAP sebagai asosiasi perencana telah memasukan isu perubahan iklim dan mengembangkan criteria kota – kota yang nyaman untuk dihuni berdasarkan persepsi warga kotanya (Most Liveable City Index) sebagai agenda penting dalam program 3 tahun mendatang” ungkap Bernardus.

Semoga bencana Gintung menjadi yang terakhir.

Ketua Umum
Ir. Iman Soedradjat, MPM

Sekretaris Jenderal
Ir. Bernardus Djonoputro

BARU 30% KABUPATEN/KOTA YANG SELESAIKAN RTRW

sumber : http://www.pu.go.id

Saat ini baru 30% Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia yang sedang dalam tahap penyiapan Rancangan Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah-nya (Raperda RTRW). Padahal dalam UU Penataan Ruang No.26 Tahun 2007 disyaratkan pada tahun 2010 seluruh Kabupaten/kota memiliki RTRW yang di-Perda-kan. ”Tahun 2009 akan menjadi tahun kritis bagi Kabupaten/Kota untuk menyelesaikan penyusunan RTRW-nya. Tahun 2010 harus sudah bisa di-perda-kan.” jelas Direktur Jenderal Penataan Ruang Imam Ernawi dalam jumpa pers menyambut Hari Tata Ruang/World Town Planning Day (WTPD) yang diperingati pada tanggal 8 November di Jakarta (6/11).

Mengenai kendala yang dihadapi dalam penyusunan RTRW, menurut Direktur Penataan Ruang Nasional Iman Soedrajat, beberapa memang merupakan Kota/Kabupaten hasil pemekaran, selain itu sumber daya manusia dan pendanaan juga menjadi kendala daerah sehingga penyusunan RTRW memakan waktu lama. ”Selain itu juga ada proses RTRW harus mendapatkan persetujuan Menteri yang membawahi penataan ruang terkadang dipersepsikan daerah substansinya harus betul-betul sempurna. Padahal Pusat hanya akan melihat apa saja kepentingan pusat yang ada disana seperti jalan nasional, pelabuhan nasional/internasional, apakah sudah dicantumkan disana. Jadi hanya kontrol kepentingan nasional harus terakomodasi dalam RTRW Kabupaten/Kota” jelasnya.

Beberapa poin penting yang harus diatur dalam RTRW adalah rencana struktur dan pola, rencana infrastruktur yang akan dibangun, rencana indikasi program utama yakni program apa saja untuk mewujudkan rencana ruang tersebut kemudian pengendaliannya supaya perijinannya tidak ada pelanggaran. Itulah isi RTRW yang harus di-perda-kan. Apabila sudah disahkan maka harus dipatuhi oleh semuanya. Ijin yang dikeluarkan harus sesuai dengan RTRW yang ada, bila tidak sesuai maka akan terkena sanksi.

Sementara itu pengamat perkotaan dari Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Yayat Supriyatna mengatakan peringatan Hari Tata Ruang diharapkan menjadi momentum perbaikan bagi perencanaan tata ruang dan praktik profesi penataan ruang Indonesia. Apresiasi terhadap bidang penataan ruang dalam beberapa tahun terakhir ini cukup menggembirakan. Hal ini seiring dengan adanya keinginan untuk menciptakan ruang kehidupan yang lebih berkualitas, aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Namun apresiasi tersebut perlu terus didorong sehingga menyentuh kepada aspek perubahan sikap mental pemerintah dan masyarakat secara menyeluruh. (gt)

Pusat Komunikasi Publik

061108

Perpres Jabodetabekpunjur tidak adil’

JAKARTA: Pengembang menilai kebijakan disinsentif untuk hunian yang existing dan antipengembangan kota mandiri di kawasan Jabodetabekpunjur tidak adil karena justru menabrak aturan hukum yang sebelumnya telah mengeluarkan izinnya.

Ketua Umum DPP Perusahaan Realestat Indonesia (REI) F. Teguh Satria� mengatakan setidaknya ada dua hal yang perlu dikritisi terhadap Peraturan Presiden No. 54/2008 tentang Penataan Ruang Jabodetabekpunjur terkait dengan sudut pandang kepentingan masyarakat pengembang perumahan.

Dua hal itu, yaitu kebijakan soal kota mandiri dan disinsentif bagi hunian existing yang dinilai menabrak aturan hukum yang ada sebelumnya terkait dengan industri perumahan.

Menurut dia, adanya pasal yang menilai pengembangan realestat dalam bentuk kota mandiri merusak lingkungan jelas tidak benar.

Hal itu justru memudahkan pemerintah dan semua pemangku kepentingan melakukan kontrol lingkungan dengan menggalakkan pengembangan kawasan skala besar daripada proyek skala kecil.

Dia menilai UU No. 4/1992 tentang Perumahan dan Permukiman serta PP No. 80 soal� Kawasan Siap Bangun (kasiba) perlu diperhatikan terkait dengan Perpres tersebut.

“Jelas-jelas dinyatakan kawasan skala besar itu justru didorong dikembangkan karena bisa lebih bagus dari segi lingkungan dan tata ruang,” ujarnya, kemarin.

Fuad Zakaria, Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), sependapat bahwa kebijakan antiproyek kota mandiri justru tidak bagus dalam upaya melakukan penataan ruang wilayah di Jabodetabek.

Menurut dia, harusnya implementasi kebijakan itu di bidang perumahan adalah dengan mendorong proyek hunian skala kecil melakukan konsorsium untuk membentuk kota mandiri agar bisa menciptakan lingkungan yang lebih tertata.

“Kalau saya melihatnya mestinya kebijakan baru itu mengarah pada penataan kembali permukiman yang sudah ada untuk dirancang kembali menjadi kota mandiri dengan melibatkan proyek pengembangan yang seporadis itu,” ungkapnya.

Tidak alergi

Kedua pimpinan asosiasi pengembang itu sepakat pengembang tidak alergi dengan isu lingkungan, sehingga setiap upaya yang dilakukan untuk keselamatan lingkungan akan didukung.

“Bahkan kami akan meluncurkan proyek REI Go Green untuk menunjukkan komitmen terhadap program keselamatan lingkungan,” kata Teguh.

Sebelumnya, pemerintah daerah dilarang mengeluarkan izin baru untuk proyek kawasan kota mandiri, menyusul terbitnya Peraturan Presiden No. 54/2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jabodetabekpunjur (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur).

Sekretaris Dirjen Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum Ruchat Deni Djakapermana mengatakan pemerintah sudah membagi daerah Jabodetabekpunjur berdasarkan tiga zona, yaitu konservasi, budi daya, dan zona penyangga.

Pembangunan suatu kota baru atau kawasan mandiri membutuhkan lahan yang cukup luas dan berpotensi menyalahi pembagian zona itu.

“Ini untuk menghindari pembangunan yang menyebar ke segala penjuru atau tidak terkendali,” katanya. (Bisnis, 8 Sept.)

Bangunan yang sudah telanjur berdiri di zona yang bukan peruntukkannya berdasarkan peraturan itu, akan dikenakan disinsentif. Misalnya, bangunan dikenakan pajak yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan lain. (irsad.sati@bisnis.co.id)

Oleh IRSAD SATI
Bisnis Indonesia

Bangunan Abad Ke-19 dan 20 Nyaris Roboh (artikel Kompas)

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO / Kompas Images
Seorang anak melintas di depan gedung bekas Kantor Jakarta Lloyd di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (23/6). Banyak bangunan tua yang merupakan aset wisata Jakarta kondisinya memprihatinkan dan rawan roboh.

Selasa, 24 Juni 2008 | 03:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS – Sebanyak dua puluh bangunan di kawasan wisata Kota Tua, Jakarta Barat, saat ini nyaris roboh akibat dimakan usia. Bangunan itu peninggalan abad ke-19 dan 20, semuanya bukan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Pemilik bangunan tua diminta segera melakukan perbaikan dan revitalisasi bangunan dengan biaya sendiri karena Pemprov DKI Jakarta tidak menganggarkan dana APBD untuk itu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta Pinondang Simanjuntak mengungkapkan hal ini kepada pers di Balaikota, Senin (23/6).

Dari 284 bangunan di kawasan wisata Kota Tua, hanya 10 bangunan aset Pemprov DKI. ”Mereka diminta segera merevitalisasi bangunan-bangunan yang sudah hampir roboh itu,” kata P Simanjuntak.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua Candrian Attahiyat kepada Kompas mengungkapkan, bangunan di Kota Tua yang hampir roboh itu berlokasi di sekitar Taman Fatahillah, Kali Besar, dan Pasar Ikan.

”Atap bangunan sudah tak ada, sedangkan daya dukung tanah tak kuat karena lahannya labil dan tak sanggup menopang bangunan,” katanya. Kerusakan bangunan abad ke-19 dan 20 itu terutama terjadi saat musim hujan.

Sebagian besar bangunan itu milik badan usaha milik negara dan pihak swasta. ”Salah satu bangunan milik Pemprov DKI Jakarta berada di satu kompleks seluas 1,2 hektar, terdiri dari empat bangunan di Jalan Nelayan,” jelasnya.

Menurut Candrian, tidak ada mekanisme anggaran dari APBD untuk pemugaran bangunan bukan milik Pemprov DKI. Termasuk bangunan milik BUMN, antara lain milik bank, Perusahaan Perdagangan Indonesia, Jasa Raharja, dan Jasindo.

Ketua UPT Kota Tua yang baru dilantik pekan lalu itu menambahkan, pihaknya berharap peraturan gubernur tentang masterplan Kota Tua dipercepat pengesahannya agar pemanfaatan dan pengembangan Kota Tua lebih cepat diatur. Pemprov DKI Jakarta berencana mengembangkan Kota Tua sebagai destinasi wisata sejarah yang atraktif.

Ruang publik

Menurut arkeolog lulusan Universitas Indonesia itu, bangunan di kawasan wisata Kota Tua yang berlantai dua tetap diizinkan menjadi kantor tetap di lantai dua, sedangkan di lantai satu diwajibkan sebagai fungsi publik, misalnya menjadi restoran, kafe, toko suvenir dan sejenisnya.

Kepala Subdinas Promosi, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Nyoman Wedana S menambahkan, jika Kota Tua dikembangkan secara maksimal dan profesional, kawasan wisata ini akan menjadi salah satu sumber pendapatan DKI Jakarta.

”Saat ini sudah ada berbagai komunitas pencinta kota tua. Pemprov DKI akan bekerja sama dengan stakeholder dan komunitas-komunitas itu untuk menghidupkan Kota Tua sebagai kawasan wisata sejarah,” kata Nyoman.

Dia membandingkan dengan kota tua di dunia yang selalu ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan menjadi salah destinasi utama. Wisatawan yang datang ke sebuah kota, umumnya ingin tahu perjalanan sejarah kota. (KSP)

Dimuat di Kompas pada tanggal 22 Juni 2008

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.