62 Daerah Aliran Sungai di Indonesia Kritis

07.05.2010
YOGYAKARTA–MI: Sebanyak 62 daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia dengan seluas 18,5 juta hektare (ha) dalam kondisi kritis. Kondisi itu memicu penurunan cadangan sumber air, fluktuasi debit air, serta tingginya laju sedimentasi dan erosi. Selain itu juga menurunkan kualitas air yang tajam karena polusi pada badan air. Akibatnya, biaya pengolahan air meningkat dan memperburuk sanitasi publik.

“Meningkatnya laju sedimenasi, sampah rumah tangga, dan pembangunan lahan menyebabkan perubahan morflogi sungai, kerusakan ekosistem, dan ancaman bencana banjir,” kata Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dalam sambutan yang dibacakan Staf Ahli Bidang Ekonomi dan
Investasi Kementeriam Pekerjaan Umum (PU) Setiabudi Al Gammar dalam Rapat Kerja Komisariat Wilayah III Asosiasi Pemerintah Kota se-Indonesia di Yogyakarta, Kamis (6/5).

Ia mengungkapkan, resapan air tanah sangat berkaitan dengan penataan ruang. Alih fungsi lahan menjadi kawasan perkotaan dan industri menyebabkan berkurangnya kawasan resapan air. Perubahan iklim saat ini memperburuk kondisi sumber daya air dan lingkungan yang telah menghadapi berbagai pemasalahan.

“Kita butuh strategi dan kebijakan yang dapat mengatasi persoalan sumber daya air dan lingkungan yang diperparah oleh adanya perubahan iklim. “Recharge air tanah harus dioptimalkan. Akuifer harus dikelola dengan baik. Dan kawasan lindung yang menjadi kawasan resapan air harus dapat dijaga kelestariannya,” ungkapnya.

Djoko berharap kebijakan adaptasi untuk mengatasi dampak perubahan iklim pada sektor sumber daya air mencangkup kebijakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan infrastruktur sumber daya air, guna menjamin ketahanan pangan dan mengurangi kerentanan terhadap banjir, longsor, dan kekeringan.

Upaya adaptasi yang bisa diterapkan antara lain dengan membangun pengamanan banjir, manajemen resiko bencana (peringatan dini dan pengendalian aliran sungai). Kemudian membangun dam memelihara bangunan pengamanan pantai, konservasi embung dan pemanenan hukan serta kampanye hemat air.

Guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Danang Parikesit mengungkapkan, permasalahan lain yang harus diwaspadai di wilayah perkotaan adalah masalah urbanisasi dan transportasi.

“Kota yang memiliki pendidik lebih dari 1 juta akan mengalami pertumbuhan lebih cepat dari perkiraan kita. Persentase rata-rata orang yang tinggal di perkotaan selalu bertambah setiap tahunnya,” ungkap Staf Khusus Menteri PU itu. (SO/OL-01)

About these ads

Perihal perencanamuda
Komunitas perencana muda progressif

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: