<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: PROGRESIVITAS DUNIA PERENCANAAN</title>
	<atom:link href="http://perencanamuda.wordpress.com/2008/06/24/progresivitas-dunia-perencanaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://perencanamuda.wordpress.com/2008/06/24/progresivitas-dunia-perencanaan/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Sep 2009 12:14:59 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: eka senjaya</title>
		<link>http://perencanamuda.wordpress.com/2008/06/24/progresivitas-dunia-perencanaan/#comment-34</link>
		<dc:creator>eka senjaya</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 18:54:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://perencanamuda.wordpress.com/?p=36#comment-34</guid>
		<description>ditengah gencarnya kerusakan dimuka bumi ini yang kasat mata kita lihat dan dampak yang cukup besar bagi para penghuninya membuat kita sadar bahwa itulah sebuah hasil dari proses kerusakan sistematis secara terus menerus.banyak kasus yang membuat kita berpikir ulang. aceh dengan bencana gempa dan tsunami, gempa yogya dan bencana lainnya. dan kita tersadarkan  bahwa kita perlu mengatur rencana ulang tata wilayah yang   menganut prinsip keseimbangan.hal ini perlu disadari bahwa bumi yang kita injak merupakan daerah rawan bencana (jalur gunung berapi &quot;ring of fire&quot;). 
dimana peran perencana baik yang muda atau yang tua atau yang berprofesi sebagai perencana merupakan think thank yang merumuskan berbagai strategi perencanaan, pengendalian dan pemanfaatan ruang agar bumi menjadi lebih bersahabat.

seperti kata ebiet g.ade &#039;mungkin alam mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa&quot;

Ini menjadi cerminan untuk melihat wajah kita sendiri yang semakin banyak jerawatnya dan merasa menjadi lebih ganteng dengan bentuk wajah yang tidak beres.

Dimanakah ruh para perencana?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ditengah gencarnya kerusakan dimuka bumi ini yang kasat mata kita lihat dan dampak yang cukup besar bagi para penghuninya membuat kita sadar bahwa itulah sebuah hasil dari proses kerusakan sistematis secara terus menerus.banyak kasus yang membuat kita berpikir ulang. aceh dengan bencana gempa dan tsunami, gempa yogya dan bencana lainnya. dan kita tersadarkan  bahwa kita perlu mengatur rencana ulang tata wilayah yang   menganut prinsip keseimbangan.hal ini perlu disadari bahwa bumi yang kita injak merupakan daerah rawan bencana (jalur gunung berapi &#8220;ring of fire&#8221;).<br />
dimana peran perencana baik yang muda atau yang tua atau yang berprofesi sebagai perencana merupakan think thank yang merumuskan berbagai strategi perencanaan, pengendalian dan pemanfaatan ruang agar bumi menjadi lebih bersahabat.</p>
<p>seperti kata ebiet g.ade &#8216;mungkin alam mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa&#8221;</p>
<p>Ini menjadi cerminan untuk melihat wajah kita sendiri yang semakin banyak jerawatnya dan merasa menjadi lebih ganteng dengan bentuk wajah yang tidak beres.</p>
<p>Dimanakah ruh para perencana?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Fian</title>
		<link>http://perencanamuda.wordpress.com/2008/06/24/progresivitas-dunia-perencanaan/#comment-33</link>
		<dc:creator>Fian</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 02:54:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://perencanamuda.wordpress.com/?p=36#comment-33</guid>
		<description>Perlu REVOLUSI bagi PERENCANA MUDA dan DUNIA PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA!GANTI ISTILAH AHLI PERENCANA/PLANNER/APALAH itu dengan PLANOLOG,usulkan ke IAP ya.Istilah PLANOLOG LEBIH SESUAI dengan ISTILAH BIDANG ILMUNYA dan YANG LEBIH PENTING PLANOLOG LEBIH KOMERSIL!!!!!SAYA BANGGA MEMAKAI ISTILAH PLANOLOG.HANYA DI FORM BPS BELUM DICANTUMKAN,KAYAKNYA BPS MISKIN REFERENSI MENGENAI PROFESI KITA.
BRAVO PLANOLOG MUDA 
SALUT BUAT INISIATIFNYA,TETAP JIHAD BRO!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Perlu REVOLUSI bagi PERENCANA MUDA dan DUNIA PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA!GANTI ISTILAH AHLI PERENCANA/PLANNER/APALAH itu dengan PLANOLOG,usulkan ke IAP ya.Istilah PLANOLOG LEBIH SESUAI dengan ISTILAH BIDANG ILMUNYA dan YANG LEBIH PENTING PLANOLOG LEBIH KOMERSIL!!!!!SAYA BANGGA MEMAKAI ISTILAH PLANOLOG.HANYA DI FORM BPS BELUM DICANTUMKAN,KAYAKNYA BPS MISKIN REFERENSI MENGENAI PROFESI KITA.<br />
BRAVO PLANOLOG MUDA<br />
SALUT BUAT INISIATIFNYA,TETAP JIHAD BRO!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Saut</title>
		<link>http://perencanamuda.wordpress.com/2008/06/24/progresivitas-dunia-perencanaan/#comment-27</link>
		<dc:creator>Saut</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 05:09:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://perencanamuda.wordpress.com/?p=36#comment-27</guid>
		<description>Dear Catur, 

Pertanyaan yang kamu sebutkan di atas, juga menjadi pertanyaan teman-teman di angkatan lain. Saya pikir itu wajar karena bidang perencanaan sendiri adalah bidang yang sangat umum atau bisa dibilang abstrak. 

Pendekatan yang dipakai dalam ilmu planologi, sesuai dengan namanya Perencanaan Kota dan Wilayah, adalah pendekatan untuk mengatur keruangan atau terkait dengan &quot;zoning&quot;. Walaupun ada pergeseran ke arah perencanaan berbasis masyarakat, tidak bisa dipungkiri, hasil akhir yang dibuat oleh perencana pada dasarnya adalah berupa ruang. 

Salah satu alasan menurut saya adalah peraturan pendukung.
Untuk di Indonesia, peraturan yang mendukung keruangan tidak didukung oleh peraturan yang kuat. Sebagai contoh, banyak bangunan-bangunan yang dibangun tidak mengikuti peruntukan yang telah ditetapkan dalam rencana-rencana tata ruang. Di kawasan Dago, sebagai contoh, kita tidak bisa membedakan antara kawasan perdagangan, permukiman dan jasa perkantoran. Namun saya tidak mengetahui penalti apa yang diberikan kepada peraturan yang tidak dijalankan tersebut.

Di sisi lain, poin 1 yang disebutkan di atas tentang pembuatan produk rencana berbasis proyek, merupakan salah satu faktor kegagalan itu juga. Di kelas anda diajarkan bahwa rencana membutuhkan waktu yang panjang. Ada proses evaluasi dan koreksi, di lapangan anda hanya punya waktu 3-6 bulan? 

Tentang jaringan perencana yang anda sebutkan di atas, mungkin bisa dimulai juga dengan melebur ke jaringan-jaringan profesi terkait yang sudah ada. Sebagai contoh untuk yang berminat tentang GIS, bisa mengikuti RSGIS Forum di www.rsgisforum.net dan yang berminat tentang manajemen bencana bisa melihat di situs belajar bencana http://belajarbencana.wordpress.com, yang saya sebutkan terakhir inisiatifnya baru dimulai satu setengah tahun terakhir.

Satu tambahan lagi dari saya adalah kita perlu membuat atau mengkaji ulang contoh-contoh kasus yang baik di Indonesia, dimana perencanaan tata ruang diterapkan dan berhasil dengan baik. Jika itu ada, bisa diangkat dan kemudian menjadi contoh yang bisa dikemukakan ke publik. Ada info dan ide?

Terimakasih buat inisiatifnya!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Catur, </p>
<p>Pertanyaan yang kamu sebutkan di atas, juga menjadi pertanyaan teman-teman di angkatan lain. Saya pikir itu wajar karena bidang perencanaan sendiri adalah bidang yang sangat umum atau bisa dibilang abstrak. </p>
<p>Pendekatan yang dipakai dalam ilmu planologi, sesuai dengan namanya Perencanaan Kota dan Wilayah, adalah pendekatan untuk mengatur keruangan atau terkait dengan &#8220;zoning&#8221;. Walaupun ada pergeseran ke arah perencanaan berbasis masyarakat, tidak bisa dipungkiri, hasil akhir yang dibuat oleh perencana pada dasarnya adalah berupa ruang. </p>
<p>Salah satu alasan menurut saya adalah peraturan pendukung.<br />
Untuk di Indonesia, peraturan yang mendukung keruangan tidak didukung oleh peraturan yang kuat. Sebagai contoh, banyak bangunan-bangunan yang dibangun tidak mengikuti peruntukan yang telah ditetapkan dalam rencana-rencana tata ruang. Di kawasan Dago, sebagai contoh, kita tidak bisa membedakan antara kawasan perdagangan, permukiman dan jasa perkantoran. Namun saya tidak mengetahui penalti apa yang diberikan kepada peraturan yang tidak dijalankan tersebut.</p>
<p>Di sisi lain, poin 1 yang disebutkan di atas tentang pembuatan produk rencana berbasis proyek, merupakan salah satu faktor kegagalan itu juga. Di kelas anda diajarkan bahwa rencana membutuhkan waktu yang panjang. Ada proses evaluasi dan koreksi, di lapangan anda hanya punya waktu 3-6 bulan? </p>
<p>Tentang jaringan perencana yang anda sebutkan di atas, mungkin bisa dimulai juga dengan melebur ke jaringan-jaringan profesi terkait yang sudah ada. Sebagai contoh untuk yang berminat tentang GIS, bisa mengikuti RSGIS Forum di <a href="http://www.rsgisforum.net" rel="nofollow">http://www.rsgisforum.net</a> dan yang berminat tentang manajemen bencana bisa melihat di situs belajar bencana <a href="http://belajarbencana.wordpress.com" rel="nofollow">http://belajarbencana.wordpress.com</a>, yang saya sebutkan terakhir inisiatifnya baru dimulai satu setengah tahun terakhir.</p>
<p>Satu tambahan lagi dari saya adalah kita perlu membuat atau mengkaji ulang contoh-contoh kasus yang baik di Indonesia, dimana perencanaan tata ruang diterapkan dan berhasil dengan baik. Jika itu ada, bisa diangkat dan kemudian menjadi contoh yang bisa dikemukakan ke publik. Ada info dan ide?</p>
<p>Terimakasih buat inisiatifnya!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: agung</title>
		<link>http://perencanamuda.wordpress.com/2008/06/24/progresivitas-dunia-perencanaan/#comment-26</link>
		<dc:creator>agung</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 04:54:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://perencanamuda.wordpress.com/?p=36#comment-26</guid>
		<description>humm... keresahan di level perencana muda, mencerminkan keresahan planner pada umumnya ga ya? =p

seru nih kayanya... gw join2 yah kalau balik hehe

btw, dani udah jadi direktur eksekutif IAP apa API tuy?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>humm&#8230; keresahan di level perencana muda, mencerminkan keresahan planner pada umumnya ga ya? =p</p>
<p>seru nih kayanya&#8230; gw join2 yah kalau balik hehe</p>
<p>btw, dani udah jadi direktur eksekutif IAP apa API tuy?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
